RADAR MALANG – Tradisi perhitungan weton masih melekat erat dalam kehidupan masyarakat Jawa, termasuk di Malang dan sekitarnya. Weton bukan sekadar penanda hari lahir, tapi juga dijadikan acuan untuk banyak hal, mulai dari kecocokan pasangan, menentukan hari baik pernikahan, membangun rumah, hingga membuka usaha.
Namun, di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai keislaman, muncul pertanyaan yang tak bisa diabaikan: bagaimana pandangan Islam terhadap tradisi weton ini?
Sebagai bagian dari warisan budaya, sistem perhitungan weton yang berbasis hari pasaran dan angka neptu memang sudah turun-temurun digunakan oleh masyarakat Jawa. Namun, persoalan muncul ketika keyakinan terhadap weton justru menggeser peran takdir Allah dalam kehidupan, bahkan sampai membatalkan pernikahan hanya karena “weton tidak cocok”.
Menurut Ustadz Abdillah Amiril Adawi dari Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, weton pada dasarnya adalah sistem penanggalan tradisional yang bisa dimaklumi asal digunakan dengan niat dan pemahaman yang benar. Bila digunakan sebagai metode empirik seperti halnya ilmu astronomi atau meteorologi dan tidak diyakini mutlak mempengaruhi nasib, maka hukumnya mubah atau boleh.
Namun, bila seseorang menganggap weton sebagai penentu utama takdir, maka keyakinan tersebut berpotensi mengarah pada syirik, karena menempatkan sesuatu selain Allah sebagai penentu nasib manusia. Islam secara tegas mengajarkan bahwa hanya Allah-lah yang Maha Menentukan jalan hidup manusia.
Dalam konteks ini, ulama sepakat bahwa segala hal termasuk angka, hari, atau ramalan tidak boleh diyakini memiliki kekuatan mandiri. Imam Syafi’i, sebagaimana dikutip Ibnul Firkah, menyatakan bahwa jika seseorang hanya menggunakan angka-angka sebagai acuan kebiasaan (sunnatullah) dan tetap menyandarkan takdir kepada Allah, maka hal itu masih dapat ditoleransi.
Analogi yang sering digunakan adalah seperti orang yang minum obat untuk sembuh, namun tetap menyadari bahwa kesembuhan datang dari Allah SWT. Demikian pula penggunaan weton, selama tidak diyakini mutlak, bisa digunakan sebagai bentuk ikhtiar sosial atau pendekatan budaya.
Umat Islam perlu berhati-hati, terlebih jika perhitungan weton digunakan dengan fanatisme berlebihan misalnya menjadi dasar menolak jodoh, menimbulkan permusuhan antar keluarga, hingga memupuk prasangka buruk terhadap masa depan. Semua ini bertentangan dengan nilai-nilai tauhid yang murni.
Islam tidak serta-merta menolak tradisi atau kearifan lokal. Bahkan, dalam batas-batas tertentu, Islam bisa berdampingan dengan budaya selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat. Maka, kuncinya terletak pada niat dan pemahaman yang lurus.
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Jin ayat 26–27:
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya…”
Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui yang gaib. Tidak ada hari, angka, atau manusia yang mampu menebak masa depan kecuali atas izin-Nya.
Kesimpulannya, weton sebagai bagian dari budaya bisa saja digunakan sebagai alat bantu sosial atau tradisi turun-temurun, selama tidak dijadikan sebagai penentu takdir. Tetapi jika diyakini sebagai sumber utama keputusan hidup, maka itu jelas bertentangan dengan ajaran Islam.
Jadi, bijaklah dalam menyikapi warisan budaya. Lestarikan yang baik, tinggalkan yang bertentangan dengan akidah. Karena pada akhirnya, kehidupan, rezeki, jodoh, dan kematian hanya ada dalam genggaman Allah SWT. (id)
Editor : A. Nugroho