RADAR MALANG - Bagi sebagian penikmat musik Indonesia, nama Barasuara mungkin belum terlalu akrab di telinga. Akan tetapi, band asal Jakarta yang berdiri sejak 2012 ini sebenarnya telah lama mencuri perhatian para penikmat musik indie. Dengan gaya musik yang memadukan rock alternatif, folk, hingga nuansa tradisional, Barasuara menghadirkan sesuatu yang berbeda. Lirik-liriknya kerap puitis, penuh makna, dan dikemas dengan aransemen musik yang megah serta penuh energi.
Barasuara memiliki enam personel yang terdiri atas Iga Massardi (vokal/gitar), Asteriska (vokal), Puti Chitara (vokal), TJ Kusuma (gitar), Gerald Situmorang (bass), dan Marco Steffiano (drum). Formasi ini menciptakan harmoni yang khas, terutama dengan adanya tiga vokalis yang membuat warna vokal Barasuara terasa kaya dan emosional. Tak heran jika setiap penampilan panggung mereka selalu mendapat pujian berkat energi dan kekompakan yang ditampilkan.
Salah satu karya yang semakin melambungkan nama Barasuara adalah lagu Terbuang dalam Waktu, yang terpilih menjadi bagian dari soundtrack film Sore: Istri dari Masa Depan, sebuah film romantis fantasi yang bercerita tentang perjalanan cinta melintasi ruang dan waktu karya Yandy Laurens. Kehadiran lagu tersebut memberi nuansa emosional yang kuat bagi film, seakan menyatu dengan konflik batin dan alur cerita yang disajikan.
Kolaborasi ini menjadi pintu baru bagi Barasuara untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Bagi penonton film yang sebelumnya mungkin belum mengenal musik mereka, kehadiran Terbuang dalam Waktu berhasil menjadi jembatan pengenal. Lagu tersebut banyak diperbincangkan di media sosial karena aransemennya dianggap mampu memperkuat adegan penting dalam film sekaligus meninggalkan kesan mendalam.
Lebih jauh, keterlibatan Barasuara dalam proyek film ini juga membuktikan bahwa musik indie bisa berdampingan dengan industri hiburan populer. Tidak hanya sekadar meramaikan panggung festival atau ruang-ruang alternatif, karya mereka juga mampu hadir di medium yang lebih komersial tanpa kehilangan identitas. Hal ini menunjukkan bagaimana Barasuara terus berevolusi, tetap setia pada ciri khas musikalnya, tetapi juga terbuka terhadap kolaborasi lintas bidang.
Dengan gaya musik yang unik, lirik berbahasa Indonesia yang puitis, serta lagu mereka di film Sore: Istri dari Masa Depan, Barasuara layak mendapat perhatian lebih luas. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa musik indie Indonesia punya daya tarik besar dan bisa bersaing dengan genre musik lainnya, baik di panggung musik maupun layar lebar. Tidak berlebihan jika kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk membawa nama Barasuara semakin dikenal di kancah musik nasional. (gg).
Editor : A. Nugroho