Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bukan Sekadar Hiburan, Ini 3 Film China tentang Bullying yang Bikin Kita Introspeksi

A. Nugroho • Kamis, 11 September 2025 | 00:55 WIB
MENYEDIHKAN: film tentang bully bikin berderai air mata.
MENYEDIHKAN: film tentang bully bikin berderai air mata.

RADAR MALANG - Bullying bukan lagi isu asing di dunia pendidikan. Baik di sekolah maupun kampus, masalah ini masih sering muncul dan berdampak besar pada korban. Bahkan di Malang, kota yang dikenal sebagai kota pelajar dan mahasiswa, kasus perundungan juga sempat ramai diperbincangkan. Karena itu, film bisa menjadi sarana refleksi untuk memahami betapa beratnya dampak bullying terhadap psikologis seseorang.

Beberapa film China berhasil menggambarkan kisah sedih bullying dengan sangat menyentuh. Bukan sekadar hiburan, film-film ini bisa membuka mata kita bahwa empati dan dukungan sangat penting untuk menghentikan siklus perundungan. 

Nah, berikut tiga rekomendasi film China tentang bullying yang bisa jadi bahan renungan buat siswa dan mahasiswa Malang.

 

 

Film ini jadi salah satu yang paling populer dan mendapat banyak penghargaan internasional. Better Days menceritakan tentang Chen Nian, seorang siswi SMA yang menjadi korban bullying karena penampilannya. Hidupnya penuh tekanan hingga ia bertemu dengan Xiao Bei, seorang pemuda yang membantunya melawan rasa takut. Kisah ini menguras air mata karena menampilkan betapa rapuhnya korban bullying ketika tidak ada yang berdiri di sisinya.

Bagi siswa di Malang, film ini relevan karena banyak juga pelajar yang mungkin merasa tertekan oleh standar sosial di sekolah. Pesan yang bisa dipetik adalah pentingnya saling melindungi teman daripada ikut menindas. Film ini seakan mengingatkan bahwa sekecil apapun kebaikan yang kita berikan, bisa sangat berarti bagi orang yang sedang terluka.

 

 

Film ini bercerita tentang seorang gadis bernama Yi Yao yang terus-menerus menjadi bahan ejekan dan fitnah di sekolah. Ia dijauhi teman-temannya dan hanya bisa bergantung pada sahabatnya. Kisah ini semakin menyayat hati ketika perundungan yang ia alami berdampak pada kesehatan mentalnya.

Cerita dalam film ini sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa atau siswa di Malang, yang mungkin pernah melihat atau bahkan mengalami hal serupa di lingkungannya. Film ini mengajarkan bahwa kata-kata bisa lebih menyakitkan daripada tindakan fisik. Sebagai mahasiswa, menonton film ini bisa jadi refleksi agar lebih berhati-hati dalam bersikap, karena kita tidak pernah tahu seberapa dalam luka yang bisa ditinggalkan oleh bullying.

 

 

Berbeda dari dua film sebelumnya, The Left Ear mengangkat cerita bullying yang bercampur dengan kisah cinta remaja. Film ini mengisahkan tentang gadis bernama Li Er yang memiliki gangguan pendengaran di telinga kirinya. Kekurangannya membuat ia sering jadi bahan ejekan, tapi di balik itu tersimpan cerita persahabatan, cinta, dan kehilangan yang begitu emosional.

Bagi mahasiswa Malang yang sedang berada di fase pencarian jati diri, film ini bisa jadi pelajaran bahwa setiap orang punya kelemahan masing-masing. Justru dari kelemahan itu kita bisa belajar lebih peka terhadap perasaan orang lain. Bullying yang terlihat kecil bisa meninggalkan bekas besar pada kehidupan seseorang, dan film ini menggambarkannya dengan sangat nyata.

Tiga film di atas bukan hanya menyajikan drama sedih yang bikin air mata menetes, tapi juga menghadirkan pesan mendalam tentang pentingnya menghargai sesama. Di Malang yang dikenal sebagai kota pendidikan, siswa dan mahasiswa perlu menjadikan film - film ini sebagai pengingat agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Jangan sampai kasus perundungan terus terjadi hanya karena kurangnya rasa empati.

Dengan menonton film tentang bullying, kita bisa lebih memahami bahwa setiap orang berhak mendapat rasa aman dan dihargai. Mari sama-sama menjadikan lingkungan sekolah dan kampus di Malang lebih ramah, inklusif, dan penuh kepedulian. Karena pada akhirnya, dunia pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tapi juga soal membangun karakter yang berempati dan saling menghargai.

Buat kamu yang penasaran, ketiga film ini bisa ditonton di beberapa platform streaming. Better Days dan The Left Ear tersedia di Netflix, sedangkan Cry Me a Sad River bisa kamu temukan di iQIYI maupun situs film resmi lainnya. Jadi, nggak perlu bingung lagi cari tontonan akhir pekan yang sekaligus bisa bikin hati terenyuh dan membuka mata tentang dampak bullying. (fr)

Editor : A. Nugroho
#Bully #film #China #malang