RADAR MALANG – Musik sering menjadi pelarian bagi banyak orang ketika menghadapi perasaan yang sulit diungkapkan. Di Kota Malang, tren mendengarkan lagu galau kembali ramai, terutama di kalangan anak muda yang sering mencari cara untuk menyalurkan emosi melalui lirik penuh makna. Tidak hanya menemani waktu luang, lagu-lagu ini juga kerap menjadi “soundtrack” dalam momen healing, baik di akhir pekan maupun saat liburan panjang.
Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya konsumsi musik digital di berbagai platform streaming. Spotify, YouTube, hingga TikTok menjadi medium utama yang memperkuat popularitas lagu-lagu galau. Malang yang dikenal sebagai kota pelajar, dengan banyak mahasiswa dari berbagai daerah, menjadi salah satu pasar yang aktif dalam mengikuti tren musik nasional. Lagu dengan tema cinta, perpisahan, hingga kerinduan, kembali jadi pilihan utama.
Beberapa musisi muda tanah air berhasil merajai tangga lagu dengan karya galau mereka. Suara emosional, dikombinasikan dengan lirik yang relatable, membuat lagu-lagu tersebut begitu lekat di telinga. Tidak heran, di kafe-kafe Malang, kos mahasiswa, hingga perjalanan naik angkot atau ojek online, sering terdengar musik galau yang diputar berulang kali.
“Usai” – Tiara Andini
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah “Usai” dari Tiara Andini. Lagu ini menampilkan nuansa sendu yang kuat dan banyak disebut cocok untuk menemani seseorang yang baru saja menghadapi perpisahan. Tidak hanya di Malang, lagu ini juga menduduki peringkat tinggi dalam daftar trending di platform streaming nasional.
“Mati-Matian” – Mahalini
Selain itu, “Mati-Matian” dari Mahalini juga ikut bersaing sebagai lagu galau favorit. Vokal Mahalini yang khas dan emosional berhasil menggambarkan kesungguhan dalam mencintai seseorang, meskipun pada akhirnya harus merasakan kecewa. Lagu ini sering kali diputar di berbagai kafe Malang yang menghadirkan suasana akustik untuk pengunjungnya.
“Pesan Terakhir” – Lyodra
Tidak ketinggalan, “Pesan Terakhir” dari Lyodra yang hingga kini tetap relevan meskipun sudah dirilis beberapa waktu lalu. Lirik mendalam yang bercerita tentang pesan cinta di penghujung hubungan, masih terasa dekat dengan pengalaman banyak pendengar.
“Tak Segampang Itu” – Anggi Marito
Kemudian ada “Tak Segampang Itu” dari Anggi Marito, yang semakin populer di bulan ini. Lagu ini menyoroti bagaimana proses melepaskan seseorang bukanlah hal mudah. Banyak anak muda di Malang mengaku lagu ini sering mereka jadikan teman belajar malam atau momen merenung di kos.
“Runtuh” – Feby Putri & Fiersa Besari
Sementara itu, kolaborasi Feby Putri dan Fiersa Besari dalam lagu “Runtuh” juga kembali viral di berbagai media sosial. Lagu ini dianggap mampu menghadirkan kejujuran emosi, sehingga banyak orang merasa tidak sendirian dalam menghadapi kerapuhan hati.
Musik Galau sebagai Ruang Healing
Di Malang, mendengarkan lagu galau bukan hanya soal menikmati musik, tetapi juga menjadi sarana untuk melakukan refleksi diri. Banyak mahasiswa yang mengaitkan pengalaman pribadi dengan lirik lagu, sehingga merasa lebih tenang setelah mendengarkannya. Fenomena ini memperlihatkan bahwa musik galau berperan sebagai media katarsis, atau cara melepas emosi yang terpendam.
Tren ini juga sering terlihat di akhir pekan. Saat tidak ada jadwal kuliah atau pekerjaan, banyak orang memilih mendengarkan playlist galau sambil bersantai di kamar, berjalan-jalan sore di kawasan Idjen Boulevard, atau sekadar nongkrong di rooftop kafe. Aktivitas sederhana itu kemudian menjadi bagian dari ritual healing yang dianggap membantu memulihkan energi setelah rutinitas padat.
Antara Hiburan dan Inspirasi
Meski identik dengan kesedihan, lagu galau ternyata juga bisa memberi inspirasi. Beberapa pendengar mengaku mendapatkan motivasi untuk bangkit dari pengalaman pahit setelah mendengarkan lagu-lagu tersebut. Bahkan, ada yang menjadikan musik galau sebagai teman menulis, menggambar, hingga memacu semangat untuk move on.
Fenomena musik galau di Malang ini memperlihatkan bagaimana sebuah lagu mampu melintasi batas geografis dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dari kos mahasiswa hingga kafe modern, lagu-lagu galau terus diputar, menemani siapa saja yang tengah berada di fase penuh perasaan. (id)
Editor : A. Nugroho