RADAR MALANG – Masa Orde Baru menyimpan kisah kelam bagi masyarakat Indonesia, terlebih mereka yang dituduh sebagai tahanan politik atau “tapol”. Stigma, pengasingan, dan represi menjadi bagian dari realitas yang dialami ribuan orang kala itu.
Dalam dunia sastra, banyak penulis yang mencoba menceritakan kembali luka sejarah tersebut melalui novel-novel. Berikut tiga novel yang menggambarkan kehidupan para tapol dan dampak politik Orde Baru terhadap kehidupan pribadi serta sosial masyarakat.
1. Pulang
Novel Pulang karya Leila S. Chudori menghadirkan kisah para eksil politik Indonesia yang terpaksa hidup di luar negeri akibat peristiwa G30S 1965. Tokoh utamanya, Dimas Suryo, bersama tiga sahabatnya Vivan, Nugroho, dan Risjaf tidak bisa kembali ke tanah air karena dianggap bersekongkol dengan Partai Komunis Indonesia.
Bertahan hidup dari satu negara ke negara lainnya, hingga akhirnya mereka menetap di Paris, mendirikan restoran kecil bernama Tanah Air, sambil terus mengikuti perkembangan politik Indonesia dari kejauhan. Keinginan mereka untuk kembali ke Indonesia tidak pernah surut, akan tetapi mereka tidak pernah bisa kembali ke tanah air mereka.
Kisah ini melompat ke masa 1998, ketika Lintang Utara, anak Dimas, memutuskan untuk pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan final tugas kuliahnya. Melalui perjalanan Lintang, Leila menunjukkan bagaimana trauma politik Orde Baru diwariskan lintas generasi.
2. Amba
Laksmi Pamuntjak dalam novel Amba mengisahkan kisah cinta Amba, seorang perempuan cerdas dan berpendidikan, jatuh cinta pada Bisma, dokter muda idealis yang kemudian dituduh sebagai bagian dari kelompok kiri. Cinta mereka terputus ketika Bisma ditangkap dan dikirim ke Pulau Buru, tempat pembuangan tahanan politik di masa Orde Baru.
Bertahun-tahun kemudian barulah Amba ke Pulau Buru untuk mencari jejak Bisma, setelah kondisi politik di Indonesia agak tenang. Di Pulau Buru lah Amba mengetahui bahwa Bisma telah meninggal dan menemukan catatan-catatan, surat dari Bisma untuk Amba. Catatan dan surat itu menggambarkan bagaimana kehidupan yang dijalani oleh Bisma selama di Pulau Buru.
Pulau Buru yang nyata pernah menjadi lokasi kamp tahanan, digambarkan Laksmi dengan detail yang pilu dan manusiawi. Amba bukan hanya kisah cinta, tetapi juga kritik terhadap kekerasan negara, penghapusan sejarah, dan ketidakadilan terhadap mereka yang dianggap berbeda secara ideologis.
3. Saman
Saman merupakan salah satu novel karya Ayu Utami yang banyak diminati oleh pecinta sastra. Novel ini menceritakan tentang Saman, seorang aktivis HAM yang merupakan mantan pastor. Selain Saman, ada juga 4 sahabat yaitu Yasmin, Laila, Shakuntala dan Cok yang turut mengisi novel ini.
Masa masa kekejaman orde baru digambarkan lewat karakter Saman. Bagaimana ia menjadi pastor dan membantu masyarakat desa hidup sendiri dengan membangun kebun karet yang akhirnya dihancurkan oleh pemerintah. Saman menyaksikan kekejaman pemerintah yang membakar seluruh kebun, bahkan Upi seorang gadis yang memiliki intelektualitas rendah.
Saman yang seorang pastor menjadi buronan karena dianggap memanfaatkan masyarakat desa yang ia bantu untuk kristenisasi. Saman pun ditahan dan menjadi tahanan politik sebelum akhirnya kabur dan menjadi salah satu orang yang paling banyak dicari masa itu. Penyiksaan yang dialami oleh Saman saat menjadi tahanan digambarkan oleh Ayu Utami dengan jelas, sehingga siapapun yang membaca akan merasakan kekejaman tersebut.
Dengan bahasa yang puitis dan kompleks, Ayu menulis bukan hanya tentang politik, tapi juga tentang kebebasan tubuh dan pikiran perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem patriarki dan kekuasaan negara.
Membaca Pulang, Amba, dan Saman berarti menelusuri kembali suara-suara yang dulu dibungkam. Sejarah yang saat ini coba dibangun kembali dengan narasi yang berbeda dari kenyataan harus tetap diwariskan apa adanya. Tugas kita lah untuk mengetahui dan tidak melupakan sejarah dengan membaca dan mencari tahu. (gg)