Di sosial media, seorang individu jarang hanya memiliki satu wajah. Generasi Z, kini menempati ruang digital yang serba cepat dan menuntut kehadiran aktif, baik secara kronis maupun asinkron. Adanya akun utama, akun kedua, close friends, hingga akun anonim merupakan salah satu strategi bertahan, yang kini sudah lumrah.
Bagi sebagian orang, ini merupakan bentuk perilaku digital yang abnormal. Namun, pendapat ini hampir selalu mengesampingkan dan mereduksi betapa kompleknya ruang digital di stasus ini, dan betapa kompleknya ruang digital di stasus ini, dan betapa kompleknya ruang digital di stasus ini, dan betapa kompleknya ruang digital di stasus ini. Apalagi bagi perempuan mahasiswa.
Budaya akun ganda bukan sekadar tren digital, melainkan respons atas ruang online yang belum sepenuhnya aman.
Ketika Satu Akun Terasa Terlalu Ramai
Media sosial sekarang memiliki terlalu banyak mata yang mengawasi. Keluarga, rekan kerja, teman lama, teman baru, dan orang asing. Semuanya hadir dengan standar dan penilaian mereka sendiri. Pada suatu saat, di sinilah memiliki akun ganda menjadi masuk akal.
Ada versi diri yang rapi dan terkontrol dengan baik, dan ada ruang kecil yang sengaja ditinggalkan untuk lebih jujur. Ini bukan karena orang tersebut berpura-pura, tetapi karena tidak semua aspek diri aman untuk ditunjukkan kepada orang lain.
Mengapa Pengalaman Ini Bersifat Gendered
Budaya memiliki akun ganda tidak dapat dipisahkan dari gender pengguna juga. Wanita muda menghadapi pengawasan yang lebih besar di ruang online karena mereka menderita penghinaan tubuh, pesan yang tidak diinginkan, dan penilaian moral yang berlebihan.
Akun utama sering berfungsi sebagai toko depan. Mereka harus bersih, teratur, dan jelas. Sebaliknya, akun sekunder atau anonim menyediakan ruang untuk berdiskusi tanpa takut diserang atau disalahartikan. Dalam hal ini, akun ganda berfungsi sebagai perlindungan, bukan sebagai penyamaran.
Privasi yang Tidak Lagi Berarti Diam
Di era digital, privasi tidak dapat disamakan dengan menghilang (yaitu, secara mental dan fisik mengeluarkan diri dari suatu ruang). Ini tentang memutuskan: siapa yang boleh tahu apa, dan seberapa banyak. Bagi banyak wanita, memiliki lebih dari satu akun adalah cara untuk mengontrol batas ini.
Ada emosi yang tidak perlu ditampilkan, cerita yang hanya layak diterima oleh beberapa orang terpilih, dan satu sisi dari diri mereka yang tidak perlu dikritik oleh publik. Ini bukan manipulasi, tetapi lebih merupakan upaya untuk menjalankan kendali.
Akun Anonim dan Ruang Kejujuran
Di era digital, privasi tidak dapat disamakan dengan menghilang (yaitu, secara mental dan fisik mengeluarkan diri dari suatu ruang). Ini tentang memutuskan: siapa yang boleh tahu apa, dan seberapa banyak.
Bagi banyak wanita, memiliki lebih dari satu akun adalah cara untuk mengontrol batas ini. Ada emosi yang tidak perlu ditampilkan, cerita yang hanya layak diterima oleh beberapa orang terpilih, dan satu sisi dari diri mereka yang tidak perlu dikritik oleh publik. Ini bukan manipulasi, tetapi lebih merupakan upaya untuk menjalankan kendali.
Teknologi yang Tidak Pernah Netral
Media sosial sering dibayangkan sebagai ruang bebas, padahal ia bekerja dengan logika yang membentuk perilaku. Kamera mempertegas standar kecantikan, algoritma mengulang stereotip lama, dan sistem interaksi membuat tubuh perempuan lebih mudah dinilai.
Dalam situasi ini, memiliki banyak akun bukan tanda keterasingan, melainkan cara bernegosiasi. Gen Z membaca ketegangan ini dan meresponsnya dengan menciptakan ruang-ruang kecil yang terasa lebih aman.
Fragmentasi yang Justru Menjaga Keutuhan
Identitas yang terbagi sering disalahpahami sebagai ketidakkonsistenan. Padahal, bagi banyak orang, pembagian inilah yang membuat mereka tetap utuh. Lewat akun alternatif, perempuan bisa berbicara lebih berani, menolak tuntutan untuk selalu “pantas”, dan membangun relasi tanpa sorotan kamera.
Ini bukan perlawanan yang lantang, tetapi ia bekerja.
Satu Tubuh, Banyak Cara Hadir
Budaya akun ganda mengingatkan bahwa identitas tidak pernah sesederhana satu profil. Ia terdiri dari pengalaman, relasi, dan konteks yang berbeda. Generasi Z memahami hal itu dan menyesuaikan diri dengan cara yang mereka anggap paling aman dan manusiawi.
Satu tubuh, memang. Tapi banyak cara untuk hadir—dan semuanya layak diakui.
Nama Penulis : Esti Aurachma Triandini
Fakultas : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga
Jurusan : Bahasa dan Sastra Inggris
Editor : A. Nugroho