Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ars Piercing Hadirkan Layanan Tindik Pusar dan Hidung di Kawasan Kajoetangan Heritage

Aditya Novrian • Minggu, 8 Februari 2026 | 13:30 WIB
TAK BIASA: Pengunjung Kajoetangan  Heritage melakukan tindik di bagian  hidung kemarin malam. (RADAR MALANG)
TAK BIASA: Pengunjung Kajoetangan Heritage melakukan tindik di bagian hidung kemarin malam. (RADAR MALANG)

RADAR MALANG - Tren piercing terus bergerak mengikuti selera dan referensi gaya generasi muda. Jika sebelumnya tindik telinga menjadi pilihan utama, belakangan justru septum piercing dan belly piercing kembali mencuri perhatian. Dua model tindik ini dinilai mampu menunjang penampilan sekaligus memberi aksen berbeda pada gaya berpakaian.

Belly piercing atau tindik pusar kini banyak diminati, terutama oleh perempuan. Salah satu pemicunya adalah tren busana crop top yang membuat area perut lebih terekspos. Tindik di pusar dianggap mampu memperkaya tampilan agar tidak terlihat monoton.

”Biasanya yang pilih tindik pusar karena ingin penampilannya lebih hidup, apalagi sekarang baju-baju pendek lagi tren,” ujar Gatot, pemilik Indie Piercing yang membuka lapak di lantai 3 Plaza Gajah Mada.

Sementara itu, septum piercing juga kembali digemari. Gatot menyebut, minat tersebut tidak lepas dari pengaruh figur publik. ”Kalau tindik di hidung mulai banyak diminati lagi karena ikut gayanya Ari Lesmana,” katanya.

Menurut pengakuan pelanggan, gaya vokalis tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah lagunya berjudul Mangu viral di berbagai platform. Selain septum dan belly piercing, beberapa jenis tindik lain yang masih cukup diminati. Antara lain eyebrow atau alis, daun telinga bagian atas, serta lidah. Namun Gatot menilai, perubahan paling signifikan bukan hanya terletak pada lokasi tindik, melainkan pada karakter pelanggannya.

Pria yang akrab disapa Gowang itu mengenang awal mula membuka jasa piercing pada tahun 2000. Saat itu, mayoritas pelanggannya berasal dari komunitas punk. ”Dulu yang datang kebanyakan anak punk. Sekarang piercing sudah diterima semua kalangan, bahkan dari kelas atas juga ada,” ungkapnya.

Perubahan segmen pelanggan tersebut turut memengaruhi pilihan aksesori. Pada awal 2000-an, anting dengan warna-warna mencolok seperti stabilo menjadi favorit. Namun sejak sekitar 2005, tren bergeser ke warna yang lebih netral. “Sekarang yang paling banyak diminta warna silver, gold, atau hitam,” jelasnya.

Dari sisi teknik, perkembangan juga cukup pesat. Sejak awal, Gowang mengandalkan teknik tindik menggunakan jarum steril yang presisi. Metode ini dinilai lebih aman dan cepat sembuh. ”Itu teknik yang paling disarankan dokter karena tingkat sakitnya lebih rendah dan penyembuhannya lebih cepat,” katanya.

Belakangan, teknik piercing gun atau tindik tembak mulai banyak diminati karena prosesnya singkat. Meski begitu, teknik ini memiliki risiko lebih tinggi, terutama pada area tulang rawan. Karena tuntutan pasar, Indie Piercing kini menyediakan kedua metode tersebut. (aff/adn)

Disunting kembali oleh: Satya Eka Pangestu

Editor : Aditya Novrian
#piercing #lifestyle #kajoetanagan heritage #tindik pusar #Kota Malang