MALANG - Datangnya Ramadan menjadi momentum setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan memahami makna dalam bacaan doa iftitah setiap kali salat.
Doa ini dibaca pada awal salat setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surah Al Fatihah.
Diolah dari kitab Mau’idhatul Mu’minin min Ihyaa Ulumuddin karya Syaikh Muhammad Jamaluddin Alqasimi Addimasyqi yang merupakan ringkasan dari kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al Ghazali, kita bisa memahami makna bacaan doa iftitah sebagai berikut:
- Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawati wal ardla (Sesungguhnya aku menghadapkan wajah/muka-ku ke hadirat Dzat yang menciptakan langit dan bumi)
Yang dimaksud wajah di sini bukanlah semata-mata wajah secara fisik, karena sudah jelas saat salat wajah fisik ini sudah menghadap kiblat. Pengertian wajah dalam doa itu lebih bermakna sebagai wajah batin atau wajah hati.
Baca Juga: Wajib Tahu, 5 Cara Berhemat agar Keuangan Tetap Aman saat Puasa Ramadan
Wajah itulah yang mesti diarahkan kepada Dzat yang Maha menciptakan langit dan bumi ini. Mari direnungkan, apakah kita sudah menghadapkan segenap jiwa dan pikiran ini kepada-Nya atau justru masih terpecah-pecah dengan yang lain-lain?
- Haniifan musliman (Dengan kecondongan hati dan sebagai seorang muslim yang menyerahkan diri)
Yang dimaksud sebagai muslim sebenarnya adalah seseorang yang orang lain bisa selamat dari bahaya lidah dan tangannya. Kalau ini tidak dapat dilaksanakan, berarti ucapan kita saat melafalkan doa itu bisa disebut dusta belaka.
Baca Juga: Serba Serbi Berburu Takjil, 2 Rekomendasi Pasar Ramadhan di Malang
Karena itu, saat melafalkan doa ini hendaknya kita bersungguh-sungguh pula bertekad untuk menjadi muslim sebenarnya, yaitu orang yang tidak mendatangkan bahaya bagi orang lain, sekaligus menyesali kesalahan yang telah kita perbuat selama ini.
- Wamaa ana minal musyrikiin (dan saya bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah)
Saat membaca ini, hendaknya terlintas dalam kalbu tentang hal-hal terkait syirik khafi (samar) yang barangkali sering kita lakukan. Kita beribadah/menyembah Allah, tetapi pada saat yang sama kita masih mendewa-dewakan manusia atau dunia.
Kita wajib malu jika itu masih sering kita lakukan sementara setiap kali salat kita selalu mendeklarasikan diri bahwa kita bukanlah termasuk orang musyrik. Perlu diketahui, pengertian syirik itu termasuk yang besar maupun yang kecil.
- Inna sholaati wa nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillaahi rabbil ‘aalamiin (Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah karena Allah, Tuhan semesta alam)
Saat membaca ini, hendaknya kita ingat bahwa kita tidaklah berkuasa atas tubuh kita sendiri kecuali berada dalam kuasa Allah.
Karena itu jika segala kesenangan kita atas kehidupan dan ketakutan kita pada kematian semata-mata disebabkan oleh urusan keduniaan, maka pastilah yang sedemikian itu belum sesuai.
Yang paling sesuai adalah bahwa baik kesenangan maupun ketakutan, termasuk salat dan ibadah kita, semuanya kita gantungkan dan kita dasarkan semata kepada Allah. Sebab, Dialah yang paling berkuasa, maha berkuasa atas hidup dan mati kita.
Setelah punya sikap yang demikian, pantaslah kita mengaku sebagai orang yang berserah diri, pasrah total kepada Allah (muslimin) seperti bacaan akhir dalam doa iftitah, yaitu:
5) Laa syarikalahu wabi dzaalika umirtu wa ana minal muslimiin (Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan demikianlah aku diperintahkan. Dan aku termasuk golongan orang yang berserah diri).
Editor : Aditya Novrian