MALANG - Hadis keempat dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar berisi dua hadis dari riwayat yang sama. Yakni, dari riwayat Ibrahim yang didapat dari Alqomah dari Abdullah ibnu Mas’ud.
Yang pertama, menurut Abdullah ibnu Mas’ud, Nabi SAW pernah bersabda: “Barang siapa belajar satu bab ilmu yang ia ambil manfaatnya untuk akhirat dan dunianya maka Allah memberinya kebaikan 7.000 tahun usia dunia, yang berupa kebaikan ibadah puasa di siang hari dan beribadah di malam hari dengan diterima tanpa ada yang ditolak.”
Yang kedua, sama seperti riwayat di atas, Abdullah ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda: “Membaca Al Qur’an adalah perbuatan amal orang-orang yang dicukupi. Salat adalah perbuatan amal orang-orang yang tidak mampu.
Puasa adalah perbuatan amal orang-orang yang fakir. Membaca tasbih adalah perbuatan amal para wanita. Sedekah adalah perbuatan amal orang-orang dermawan. Tafakur adalah perbuatan amal orang-orang lemah. ‘Ingatlah! Aku akan menunjukkan kalian perbuatan amal para juara’.
Kemudian Rasulullah ditanya, ‘Apa itu perbuatan amal para juara?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Yaitu mencari ilmu, karena mencari ilmu adalah cahaya bagi orang mukmin di dunia dan akhirat.”
Dari dua hadis di atas, Syekh Muhammad bin Abu Bakar mengisahkan hikayat berikut:
Bahwa Nabi pernah bersabda, “Akulah kota ilmu. Sedangkan Ali adalah gerbangnya.”
Ketika kaum Khawarij mendengar hadis ini, mereka tak percaya dan dengki. Maka berkumpullah sepuluh jagoan Khawarij untuk menguji Ali.
“Kita tanya satu masalah saja. Tapi kita bergilir, benarkah jawaban Ali akan berbeda-beda,” kata salah seorang di antara mereka, “Jika berbeda, benarlah yang dikatakan Nabi.”
Maka datanglah salah seorang kepada Ali dan bertanya, “Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?”
“Tentu ilmu,” jawab Ali.
“Mengapa?”
“Ilmu itu warisan para Nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Syaddad, Fir’aun, dan sebagainya.”
Mendengar jawaban itu, orang pertama itu pegi. Lalu, datanglah yang kedua dengan pertanyaan sama dan dijawab Ali bahwa ilmu lebih utama. “Mengapa?”
“Ilmu itu menjagamu. Tapi, harga justru kau yang menjaganya.”
Orang kedua pun pergi diganti orang yang ketiga dengan pertanyaan sama. Jawaban Ali, “Pemilik harta punya banyak musuh sedangkan pemilik ilmu punya banyak teman.”
Kepada orang keempat, Ali menjawab, “Jika kau pergunakan uang, uang itu akan susut. Tapi jika ilmu yang kau pergunakan, ia malah bertambah.”
“Pemilik harga akan ada yang menyebutnya orang pelit dan rakus. Sedangkan pemilik ilmu selalu dianggap mulia dan dihormati,” jawab Ali kepada orang kelima.
“Harta selalu dijaga dari pencuri, sedangkan ilmu tidak perlu dijaga,” jawab Ali kepada orang keenam.
“Pemilik harta akan dihisab di hari kiamat. Sedangkan pemilik ilmu akan diberi syafaat,” jawab Ali kepada orang ketujuh.
“Dalam kurun waktu yang lama harta akan lenyap jika dibiarkan, tapi ilmu tidak. Ia (ilmu) akan abadi,” jawab Ali kepada orang kedelapan.
Kepada orang kesembilan, Ali menjawab, “Harta itu mengeraskan hati sedangkan ilmu melembutkan hati.”
Lalu, kepada orang terakhir yang bertanya, Ali menjawab lebih tandas, “Orang berharta akan cenderung mengaku sebagai tuhan. Sedangkan pemilik ilmu akan mengaku sebagai hamba”
Ali kemudian menyambung, “Seandainya kalian datangkan semua orang untuk bertanya tentang hal ini, aku akan menjawabnya secara berbeda selagi masih hidup.”
Maka pulanglah orang-orang Khawarij itu, menyerah, dan mengakui kebenaran hadis Nabi tersebut.
Dari hadis dan hikayat di atas kita bisa memetik pelajaran tentang betapa pentingnya mencari ilmu. Bahkan lebih penting daripada mencari harta. Sebab, memiliki ilmu lebih punya banyak keutamaan dibanding memiliki harta. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian