MALANG - Hadis kelima dalam Kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil dari riwayat Abu Dzar Al Ghifari. Ia mengatakan, suatu ketika pernah meminta kepada Rasulullah SAW:
“Berilah saya amalan yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari api neraka.”
Nabi menjawab, “Jika kau berbuat buruk, ikutilah dengan perbuatan baik.”
Abu Dzar bertanya lagi, “Adakah kalimat laa ilaaha illallah merupakan salah satu amal baik?”
Nabi menjawab, “Ya, tentunya. Itu dari yang terbaik.”
Dari hadis di atas, Syekh Muhammad bin Abu Bakar menukilkan kisah/hikayat pertama sebagai berikut:
Seorang laki-laki yang sedang melakukan ibadah wukuf di Arafah menggenggam tujuh butir batu. Ia berkata, “Tujuh batu ini telah bersaksi atasku di sisi Allah bahwa aku bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.
Beberapa waktu kemudian, saat tidur, ia bermimpi seolah kiamat telah tiba. Kemudian ia dihisab dan ditetapkan baginya neraka. Para malaikat menyeretnya hingga sampai pintu neraka.
Ketika mereka hendak membawanya masuk ke neraka, tiba-tiba satu batu dari 7 batu itu jatuh di pintu neraka. Karena menghalangi, para malaikat adzab pun bersama-sama mengangkat batu itu, tetapi mereka tidak kuat.
Kemudian mereka menyeret laki-laki itu ke pintu-pintu neraka lain. Tetapi masing-masing pintu neraka dihalang-halangi oleh masing- masing batu dari 7 batu itu.
Kemudian laki-laki itu dibawa ke bawah ‘Arsy. Para malaikat berkata, “Ya Allah! Engkau mengetahui masalah hamba-Mu ini. Kami tidak bisa membawanya ke neraka.”
Allah Ta’ala menjawab, “Batu-batu itu telah memberikan kesaksian atas hamba-Ku dan tidak menyia-nyiakan haknya. Lantas bagaimana bisa Aku menyia-nyiakan haknya sedangkan Aku menyaksikan kesaksiannya.”
Kemudian Allah memberikan perintah kepada para malaikat, “Masukkan ia ke dalam surga!”
Sesuai dengan perintah Allah, ia pun dibawa ke surga oleh para malaikat. Ketika ia sudah dekat dengan surga, tiba-tiba pintunya terkunci. Maka datanglah kesaksian laa ilaaha illallah itu, membuka pintu-pintu surga. Lelaki itu pun masuk ke dalamnya dengan segala anugerah yang tersedia.
Hikayat ini memberikan pelajaran kepada kita tentang betapa pentingnya kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Dengan kesaksian itu, seseorang bisa terhindar dari api neraka dan bisa membuka pintu surga.
Itulah sebabnya pula dalam syi’ir pujian di masjid atau musala kampung disebut bahwa miftahul jannah laa ilaaha illallah. Kunci suwarga adalah laa ilaaha illallah. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian