Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 5 Kisah 2 tentang Nabi Musa yang Memanen Seluruh Tanamannya

Aditya Novrian • Senin, 23 Februari 2026 | 20:00 WIB

Sampul Kitab Ushfuriyah
Sampul Kitab Ushfuriyah

MALANG - Ada dua hikayat yang dituliskan Syekh Muhammad bin Abu Bakar untuk hadis kelima dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karyanya. Yakni, hadis tentang keutamaan kalimat tauhid laa ilaaha illallah.

Hadis itu diriwayatkan dari Abi Dzar Al Ghifari yang meminta amalan dari Rasulullah SAW yang dapat mendekatkannya ke surga dan menjauhkannya dari api neraka.

Menurut Rasulullah, kalimat tauhid laa ilaaha illallah merupakan salah satu amal terbaik.

Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 3, Kisah 1 tentang Ali yang Tak Berani Mendahului Langkah Lelaki Tua Nasrani 

Dalam hikayat yang kedua dikisahkan sebagai berikut:

Diceritakan dari al-Imam az-Zahid Sayyidi al-Mufti, bahwa ayahnya yang juga seorang mufti pernah berkisah tentang Nabi Musa yang bermunajat kepada Allah SWT.

“Ya Allah! Engkau telah menciptakan makhluk. Engkau telah mencukupinya dengan nikmat dan rizki-Mu. Tetapi mengapa Engkau menjadikannya di Hari Kiamat berada di neraka-Mu?”

Allah lalu berfirman, “Wahai Musa, bangkitlah! Dan bercocok tanamlah!”

Setelah itu, Musa ‘alaihi as-salam pun melaksanakan isi wahyu yang diperintahkan Allah kepadanya. Ia menanam tanaman. Ia menyirami dan merawatnya hingga akhirnya memanen dan menggiling hasilnya.

Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 1, Kisah 1 tentang Umar yang Diampuni Allah karena Melepaskan Burung Pipit

“Apa yang telah kamu lakukan dengan tanamanmu, wahai Musa?,” tanya Allah.

“Aku telah memanen habis, Ya Allah,” jawab Musa.

“Apakah kamu tidak meninggalkan sedikit pun tanamanmu?” tanya Allah.

“Aku meninggalkan sebagian tanaman yang tidak baik (tidak berbuah)” jawab Musa.

Allah berkata, “Hai Musa! Sesungguhnya Aku memasukkan ke dalam neraka orang-orang yang tidak memiliki kebaikan sama sekali.”

Musa bertanya “Siapa dia, Ya Allah?”

Allah menjawab, “Orang yang tidak memiliki kebaikan adalah orang yang enggan mengucapkan laa ilaaha illallah muhammadan rasuulullah.

Seperti hikayat yang pertama, hikayat kedua ini memberi pelajaran kepada kita tentang betapa pentingnya kalimat tauhid yang berisi kesaksian atas keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW itu. Selaras dengan hikayat yang pertama, kalimat itu menjadi kunci dari kebaikan seseorang. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kita Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

 

Editor : Aditya Novrian
#ngaji ramadan #Kitab Ushfuriyah