MALANG - Hadis ketujuh dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat dari Ash Shomad bin Mughaffal yang menceritakan bahwa dia pernah mendengar dari Wahab bin Munabbah yang berkata: “Aku membaca 30 sajak terakhir Kitab Zabur yang isinya seperti ini:
Allah berfirman kepada Daud, “Wahai Daud! Apakah kamu tahu orang mukmin manakah yang lebih Aku sukai untuk Aku panjangkan usianya?”
Daud menjawab, “Tidak. (Hamba-Mu) tidak tahu.”
Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 6 Kisah 1 tentang Abu Bakar yang Bermimpi Memeluk Matahari dan Rembulan
Allah lalu menjelaskan, “Yaitu orang mukmin yang ketika mengucapkan laa ilaaha illallah maka kulitnya mengkerut dan tulang-tulangnya bergetar. Ketika demikian itu, Aku tidak suka ia mati sebagaimana orang tua tidak suka anaknya mati.
Akan tetapi kematian sudah pasti akan menemuinya. Aku ingin membahagiakan ia di sebuah desa selain desa (di dunia) ini karena kenikmatan dunia adalah cobaan. Kemudahan di dunia adalah suatu beban. Di dunia terdapat musuh yang mengacaukan dan menyakitkannya.
Karena sifat dunia yang seperti ini, maka Aku mempercepat para kekasih-Ku menuju maut (dengan mati di usia pendek). Andai sifat dunia tidak seperti itu, niscaya Adam dan anak cucunya akan panjang umur sampai ditiup sangkakala tanda datangnya hari kiamat.”
Dengan sanad seperti di atas, terdapat sebuah riwayat dari Anas bin Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca laa ilaaha illallah dan ia memanjangkan bacaannya maka 4.000 dosa besarnya telah sirna.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib.
Dari hadis di atas, Syekh Muhammad bin Abu Bakar menyertakan dua hikayat. Yang pertama, berkisah tentang Syekh Ya’qub al Kisa’i, seorang ulama yang zuhud. Dalam majelis tafsir Al Qur’an yang diasuhnya, Hazim bin Walid –salah satu santrinya—jatuh sakit.
Kemudian didatangkan seorang dokter. Dokter tersebut memeriksa denyut jantungnya. Setelah diperiksa, si dokter berkata kepada orang-orang: “Tidak ada penyakit yang diderita oleh Hazim bin Walid. Tetapi coba kalian bertanya kepadanya. Mungkin ia lebih tahu tentang apa yang dideritanya.”
Maka orang pun bertanya kepada Hazim tentang keluhan penyakitnya, “Sebenarnya apa penyakit yang Anda derita?”
“Ya, aku tidak menderita suatu penyakit. Sebenarnya, sakitku hanya takut kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Pemberi. Begitu juga aku takut dilaporkan amalku, takut dihisab, dan takut dengan hilangnya keimanan sehingga aku menjadi orang yang berhak menerima balasan siksa. Beruntung sekali orang yang keluar dari dunia dengan membawa keimanan dan tempat kembalinya adalah surga.”
Dari kisah di atas, pelajaran yang bisa kita petik adalah betapa pentingnya menjaga keimanan hingga akhir hayat. Keimanan yang dibuktikan dengan persaksian atas kemahaesaan Tuhan lewat kalimat tauhid laa ilaaha illallah.
Kalimat itu mengandung konsekuensi ketundukan total kepada Allah tanpa ada yang dituhankan selain Dia. Inilah yang membuat orang beriman tergetar setiap kali mengucapkannya. Seperti seorang Hazim bin Walid yang sampai dikira sakit oleh orang-orang di sekitarnya. Wallahu a’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian