MALANG - Hikayat kedua dari hadis ketujuh dalam kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat dari Abu Bakr ibn Abdillah al Muzani. Ia mengisahkan sebagai berikut:
Ada seorang raja yang sombong terhadap Allah. Orang-orang Islam tidak terima dengan kesombongannya itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk memeranginya. Dengan izin Allah, mereka berhasil mengalahkan dan menawannya hidup-hidup.
Mereka berkata, “Bentuk hukuman mati apa yang harus kita lakukan kepadanya? a telah berbuat sombong terhadap Allah.” Kemudian mereka bersepakat menghukumnya dengan cara memasukkanya ke dalam panci raksasa dan kepala sang raja diikat di sana. Kemudian dari bawahnya, dinyalakan api.
Ketika raja itu merasakan panasnya api maka ia menyeru berhala-berhalanya yang ia sembah, “Wahai Latta, selamatkanlah aku! Wahai Hubal, selamatkanlah aku! Wahai Uzza, selamatkanlah aku dari siksa yang aku alami saat ini. Wahai Hubal, dulu aku selalu mengusap kepalamu dan kedua kakimu sepanjang tahun.”
Tapi, panas api semakin bertambah. Raja pun menjadi sadar bahwa berhala-berhala itu tidak mampu menyelamatkannya. Ia lalu merasa putus asa dan bertaubat kepada Allah. Kemudian di dalam panci raksasa itu, ia berseru, “Laa ilaaha illallah Muhammadan rasuulullah.”
Sesaat setelah seruan itu, Allah menurunkan hujan dari langit dan memadamkan api yang membakar panci. Allah juga meniupkan angin kencang hingga membuat panci raksasa itu terbang melayang di udara. Sepanjang itu, raja yang berada di dalam panci raksasa terus menerus mengucapkan “Laa ilaaha illallah Muhammadan rasuulullah.”
Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 4 dan Kisah tentang Kecerdasan Ali Melawan 10 Orang Khawarij
Panci raksasa itu terbang tinggi dan jauh hingga jatuh di antara suatu kaum yang tidak mengenal Allah sama sekali.
Melihat panci raksasa jatuh dari langit, orang-orang dari kaum itu penasaran dan mendekatinya. Lalu, memeriksa dan membukanya. Tiba-tiba, terlihat tubuh sang raja di dalam. Mereka kemudian ramai-ramai mengeluarkannya dan bertanya, “Siapa kamu? Apa yang telah terjadi denganmu?”
“Aku adalah raja dari wilayah ini (sambil menyebut tempat),” jawab si raja. Ia lalu menceritakan kisah yang baru dialaminya. Mendengar itu, orang-orang pun terperanjat lalu menyatakan berislam karenanya.
Sebagaimana kisah pertama, pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini adalah tentang pentingnya menjaga keimanan. Sebab, keimanan itulah yang bisa menyelamatkan dunia akhirat. Bahkan, seorang raja yang hampir mati karena kedurhakaannya pun diselamatkan begitu imannya datang di saat-saat kritis. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : Aditya Novrian