Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 9 Kisah 1 tentang Burung yang Dapat Makanan dari Selilit Ikan Paus  

Aditya Novrian • Jumat, 27 Februari 2026 | 15:40 WIB

 

Sampul Kitab Ushfuriyah
Sampul Kitab Ushfuriyah

MALANG - Hadis kesembilan dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat dari Mu’adz bin Jabal. Ia menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda demikian:

“Wahai anak Adam, malulah kalian semua kepada-Ku jika melakukan maksiat sehingga Aku malu juga pada hari penampakan besar atas semua dosa, maka Aku tidak akan menyiksamu. Mohon ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku muliakan kamu seperti kemuliaan para Nabi.

Wahai anak Adam, jangan palingkan sedikit pun hatimu dari-Ku. Jika kau palingkan, niscaya Aku menyiksamu dan tidak akan menolong kamu.

Wahai anak Adam, jika kau menemui-Ku kelak pada hari kiamat dan padamu terdapat kebajikan yang menyerupai kebajikan yang dilakukan seluruh penghuni bumi, tidak akan Aku terima sebelum kamu membenarkan apa yang sudah Aku janjikan dan apa yang Aku ancamkan.

Wahai anak Adam, Akulah Maha Pemberi rezeki, sedangkan kalian yang Aku beri rezeki. Kamu tahu bahwa Aku selalu memenuhi rezekimu. Maka jangan tinggalkan taat kepada-Ku hanya karena soal rezeki yang Aku berikan sehingga wajib siksa-Ku atas kalian.

Wahai anak Adam, camkan lima perkara ini maka kalian akan menjadi penduduk surga...” (hadis ini ada terusannya)

Dari hadis di atas, Syekh Muhammad bin Abu Bakar membeberkan petuah yang mengandung kisah sebagai berikut:

Rezeki jangan kalian jadikan pemimpin kalian, wahai saudaraku. Jangan sekali-kali hanya karena rezeki, kalian terlena untuk taat kepada Allah. Allah berfirman, “Tidak satu pun binatang melata di bumi yang tidak Allah tanggung rezekinya.” (QS Hud: 6)

Dalam sebuah hadis disebutkan pula bahwa Allah menciptakan burung hijau di angkasa. Di pundaknya terdapat panah, di bawah perutnya terdapat panah yang lain. Allah juga menciptakan ikan besar (paus) di laut yang selalu makan ikan-ikan kecil yang dagingnya menyumbat sela-sela giginya (menjadi selilit) sehingga membuat ikan besar itu tersiksa.

Lalu, ikan besar itu membuka mulutnya ke permukaan laut. Dan datanglah burung hijau tadi lalu masuk ke dalam mulutnya dan memunguti sisa daging di sela-sela giginya.

Dua panah tadi, di punggung dan perut burung bagai tiang yang menyangga mulut ikan itu agar tidak mengatup. Ikan itu tidak bisa berbuat suatu apa pun.

Ketika daging-daging ikan itu habis dari sela-sela gigi si ikan besar, terbanglah burung itu. Di sinilah Allah menciptakan rezeki burung itu di sela-sela gigi ikan yang besar. Ikan besar itu pun pulanglah, merasa bahagia dengan hilangnya sumbat-sumbat giginya dan ia pun bisa beristirahat. 

Masing-masing dari burung hijau dan ikan besar saling menjadi sebab satu sama lain. Allah tidak meninggalkan burung hijau tanpa mendapatkan rezeki. Lantas bagaimana mungkin Allah membiarkan manusia tanpa rezeki?

Dari kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa kita jangan sampai berprasangka buruk kepada Allah soal rezeki. Sebab, hal itu sudah pasti dijamin oleh Allah ketercukupannya. Bahkan sekecil apa pun makhluk di bumi ini, tidak ada yang terlewat rezekinya. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

 

Editor : Aditya Novrian
#ngaji ramadan #Kitab Ushfuriyah