MALANG - Ada dua hikayat atau kisah yang disertakan dalam hadis ketiga belas tentang alam kubur dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Hikayat kedua diambil berdasar cerita dari al Hasan.
Ia menceritakan bahwa ketika sedang duduk di depan pintu rumahnya, tiba-tiba lewat jenazah laki-laki yang diiringi oleh orang-orang di belakangnya. Di bawah jenazah itu terdapat anak perempuannya yang masih kecil. Ia berjalan dengan keadaan rambut terurai sambil menangis.
Kemudian al Hasan berdiri dan mengikuti jenazah itu. Ia mendengar anak perempuan itu berkata, “Mengapa aku menghadapi hari kepergianmu ketika umurku masih segini?”
“Bapakmu belumlah menghadapi hari seperti ini,” kata al Hasan kepada anak perempuan itu. Kemudian al Hasan menyalati jenazah itu dan pulang.
Keesokan harinya, setelah salat Subuh dan matahari terbit, al Hasan duduk di depan pintu rumahnya. Tiba-tiba ia kembali melihat anak perempuan itu menangis dan pergi berziarah ke kuburan bapaknya.
“Anak perempuan ini adalah anak yang pintar. Aku akan mengikutinya. Barangkali ia akan mengatakan beberapa kalimat yang bermanfaat bagiku,” kata al Hasan dalam hati.
Kemudian al Hasan mengikuti anak perempuan itu. Ketika anak perempuan itu sudah sampai di kuburan bapaknya, al Hasan bersembunyi di bawah pohon berduri. Ia melihat bocah tersebut memeluk kuburan bapaknya dan meletakkan pipinya di atas tanah kuburan.
“Wahai bapakku! Bagaimana bisa kamu semalaman berada di kuburan yang gelap sendirian tanpa lampu dan seorang teman penghibur? Wahai bapakku! Kemarin malam aku masih memberikanmu lampu, lantas adakah yang memberimu lampu tadi malam?
Wahai bapakku! Kemarin malam aku masih memasangkan tikar untukmu, lantas adakah yang memasangkan tikar untukmu tadi malam? Wahai bapakku! Kemarin malam aku masih memijati kedua tangan dan kedua kakimu, lantas adakah yang memijatimu tadi malam?
Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah: Hadis 7 Kisah 2 tentang Raja Sombong yang Selamat saat Hendak Dipanggang dalam Panci Raksasa
Wahai bapakku! Kemarin malam aku masih memberimu minuman, lantas adakah yang memberimu minuman tadi malam? Wahai bapakku! Kemarin malam aku masih membalikkan tubuhmu dari kanan ke kiri, lantas adakah yang membalikkan tubuhmu tadi malam?
Wahai bapakku! Kemarin malam aku masih menyelimuti tubuhmu yang terbuka, lantas adakah yang menyelimutimu tadi malam? Wahai bapakku! Kemarin malam aku masih melihat wajahmu, lantas adakah yang melihat wajahmu tadi malam?
Wahai bapakku! Kemarin malam ketika kamu memanggilku maka aku akan memenuhi panggilanmu, lantas adakah yang kamu panggil tadi malam dan adakah yang memenuhi panggilanmu? Wahai bapakku! Kemarin malam aku masih bisa memberimu makanan ketika kamu ingin makan, lantas apakah tadi malam kamu ingin makan dan siapakah yang memberimu makan?
Wahai bapakku! Kemarin aku masih bisa memasak makanan untukmu, lantas adakah yang memasak untukmu tadi malam?” ratap anak perempuan itu.
Mendengar ratapan itu, al Hasan yang bersembunyi di balik pohon pun menangis dan keluar. Kemudian ia mendekati anak perempuan itu dan berkata:
“Wahai anakku! Jangan mengatakan hal-hal semacam itu! Tetapi katakanlah, ‘Wahai bapakku! Kami telah menghadapkanmu ke arah kiblat, maka apakah kamu masih dihadapkan ke arah kiblat atau dipindah ke arah lainnya?
Wahai bapakku! Kami telah mengafanimu dengan kafan yang terbaik, maka apakah kafan itu masih kamu pakai atau telah dilepas darimu? Wahai bapakku! Kami telah meletakkanmu di dalam kuburan dengan kondisi tubuhmu yang sehat, maka apakah tubuhmu masih sehat atau sudah dimakan oleh ulat-ulat?”
Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 5 Kisah 1 tentang Kunci Surga Laa Ilaaha Illallah
“Wahai anakku katakanlah! ‘Wahai bapakku! Sesungguhnya para ulama berkata bahwa seorang hamba ketika di kuburan akan ditanya tentang keimanannya, maka sebagian dari mereka ada yang bisa menjawab dan ada yang tidak bisa, maka apakah kamu bisa menjawab tentang keimananmu atau tidak bisa menjawab?
Wahai bapakku! Sesungguhnya para ulama berkata bahwa kuburan akan diluaskan bagi mayit tertentu dan akan disempitkan bagi mayit tertentu pula, maka apakah kuburanmu menyempit atau meluas?
Wahai bapakku! Sesungguhnya para ulama mengatakan bahwa sebagian dari para mayit akan diganti kain kafan mereka dengan kain kafan surga dan ada juga yang diganti dengan kain kafan neraka, maka apakah kain kafanmu diganti dengan kain kafan dari surga atau neraka?
Wahai bapakku! Sesungguhnya para ulama mengatakan bahwa terkadang kuburan akan memeluk penghuninya seperti seorang ibu yang sayang memeluk putra-putrinya dan terkadang memarahi dan mengimpit penghuninya hingga tulang-tulang rusuknya hancur, maka apakah kuburan memelukmu atau memarahimu?
Wahai bapakku! Sesungguhnya para ulama mengatakan bahwa setiap orang yang telah dimasukkan ke dalam kubur, maka yang bertakwa akan menyesali mengapa tidak lebih banyak melakukan kebaikan dan yang bermaksiat akan menyesali mengapa dulu melakukan keburukan-keburukan, maka apakah kamu menyesali perbuatan burukmu atau sedikitnya kebaikanmu?
Wahai bapakku! Ketika kamu masih hidup, maka ketika aku memanggilmu maka kamu akan menjawab panggilanku, maka sudah lama aku (di atas kuburanmu) memanggilmu, maka mengapa aku tidak bisa mendengar suaramu?
Wahai bapakku! Kamu telah pergi dan akan bertemu denganku di hari kiamat, Ya Allah! Janganlah Engkau menghalang-halangi kami bertemu dengannya di hari kiamat.”
Kemudian anak perempuan itu berkata, “Wahai al Hasan! Betapa bagusnya yang Tuan ajarkan tentang tangis kesedihanku atas ayahku. Betapa bagusnya nasihat yang Tuan berikan kepadaku. Tuan telah mengingatkan aku dari sifat lena orang yang lupa kepada belas kasih Allah.”
Kemudian anak perempuan itu pulang bersama al Hasan sambil menangis.
Menguatkan isi hadis ketiga belas, hikayat ini kembali memberikan pelajaran kepada kita tentang perlunya mencari bekal yang cukup sebelum masuk ke alam kubur. Bekal itu adalah perbuatan-perbuatan baik semasa hidup di dunia. Dengan bekal yang cukup, alam kubur akan terasa menyenangkan. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)