MALANG - Ada satu hikayat yang disertakan dalam hadis ketujuh belas dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Hikayat atau kisah ini tentang seorang lelaki fasik dan banyak dosa pada zaman Bani Israil.
Dikisahkan, ia tidak mau berhenti dari kefasikannya. Para penduduk setempat di mana ia tinggal juga tidak mampu menghentikan kefasikannya.
Mereka hanya bisa memohon pertolongan kepada Allah. Hingga, Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa: “Sesungguhnya di antara Bani Israil ada seorang laki-laki fasik. Usir ia dari kampung itu agar siksaan api tidak menimpa para penduduk di sana!”
Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 17 tentang Sakit yang Menjadi Pelebur Dosa
Kemudian Musa mendatangi laki-laki itu dan mengusirnya. Setelah diusir, laki-laki itu pergi ke sebuah desa. Allah lalu memerintahkan Musa untuk kembali mengusirnya. Laki-laki itu pun keluar lagi, pergi menuju padang luas yang tidak ada penghuninya, tidak ada burung beterbangan, dan tidak ada binatang-binatang lain.
Beberapa waktu kemudian, laki-laki itu jatuh sakit. Tidak ada seseorang pun di dekatnya yang bisa menolong hingga ia terjatuh ke tanah. Di tengah situasi itu, ia berucap:
“Ya Allah! Andai ibuku berada di sampingku, niscaya ia akan mengasihaniku dan menangisi betapa hinanya diriku. Andai bapakku berada di sampingku, niscaya ia akan menolongku, memandikanku dan juga mengafaniku.
Andai istriku berada di sampingku, niscaya ia akan menangis karena berpisah dariku. Andai anak-anakku berada di sampingku, niscaya mereka semua akan menangis di belakang jenazahku dan berkata,
‘Ya Allah! Ampunilah bapakku yang terasingkan, yang lemah, yang banyak maksiat, yang fasik, yang terusir dari kota ke kota, dari kota ke desa, dan dari desa ke padang luas. Ia keluar dari dunia menuju akhirat dengan kondisi putus asa dari segala sesuatu kecuali dari rahmat-Mu.”
Laki-laki itu melanjutkan dengan berdoa, “Ya Allah! Apabila Engkau memisahkanku dari ibuku, anak-anakku, dan istriku maka janganlah Engkau memisahkanku dari rahmat-Mu. Dan apabila Engkau membakar hatiku dengan berpisah dari mereka maka janganlah Engkau membakarku dengan api neraka-Mu karena kemaksiatanku!”
Kemudian Allah mengutus untuknya bidadari yang menjelma menjadi ibunya, bidadari yang menjelma menjadi istrinya, mengutus anak-anak kecil surga yang menjelma menjadi anak- anaknya, dan satu malaikat yang menjelma menjadi bapaknya.
Mereka semua duduk di samping laki-laki itu dan menangisinya seolah-olah mereka itu adalah anak-anaknya, istrinya, ibunya dan bapaknya yang hadir di sampingnya. Kemudian hati laki-laki itu pun menjadi lega dan ia berdoa:
“Ya Allah! Janganlah Engkau memutuskanku dari rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Kemudian laki-laki itu mati menuju kepada Allah dengan keadaan suci dari dosa-dosa dan terampuni.
Kemudian Allah memberi wahyu kepada Musa, “Hai Musa! Pergilah ke padang luas di sana. Ada seorang kekasih yang mati dari kalangan para kekasih-Ku. Mandikan ia! Kafani ia! Dan Salati ia!”
Ketika Musa as telah sampai di tempat yang diwahyukan, ia melihat laki-laki yang ia pernah mengusirnya dari kota dan dari desa sesuai dengan perintah Allah. Musa juga melihat para bidadari menangisinya.
Kemudian Musa berkata, “Ya Allah! Bukankah ia adalah laki-laki fasik yang aku usir dari kota sesuai perintah-Mu?”
Allah menjawab, “Betul, wahai Musa! Tetapi Aku telah mengasihinya dan mengampuni dosa-dosanya sebab rintihannya saat sakit, dan sebab terpisahnya ia dari tempat tinggal, kedua orang tua, anak-anak dan istri.
Kemudian Aku mengutus para bidadari yang menjelma menjadi ibunya dan malaikat yang menjelma menjadi bapaknya karena mengasihi betapa hinanya dirinya dalam keasingannya.
Sesaat ketika laki-laki terasing itu mati, para penduduk langit dan bumi menangisinya karena kasihan dengannya. Lantas pantaskah Aku tidak mengasihinya padahal Aku adalah Dzat Yang Maha Mengasihi?”
Dari hikayat ini, kita bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya untuk tidak pernah putus harapan terhadap rahmat dan ampunan Allah.
Dalam keadaan kritis sekalipun. Sebab, bisa jadi kondisi sakit itu justru menjadi perantara dikabulkannya harapan dan doa kita. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : A. Nugroho