Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 22 Kisah 1 tentang Salman yang Selalu Mengkhawatirkan Nasib Keluarganya

A. Nugroho • Kamis, 12 Maret 2026 | 16:00 WIB

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 22 Kisah 1 tentang Salman yang Selalu Mengkhawatirkan Nasib Keluarganya
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 22 Kisah 1 tentang Salman yang Selalu Mengkhawatirkan Nasib Keluarganya

MALANG - Hadis ke-22 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat dari Said bin Musayyab. Ia mengatakan bahwa suatu hari Ali bin Abi Thalib keluar dari rumahnya. Kemudian ia ditemui oleh Salman al-Farisi.


“Bagaimana kabarmu pagi hari ini wahai Abu Abdillah?,” tanya Ali kepada Salman.
“Wahai Amirul Mu’minin! Aku sedang merasakan empat keprihatinan,” jawab Salman.


“Empat keprihatinan apa itu?” tanya Ali.


“Pertama, keprihatinan atas nasib keluarga yang memerlukan makanan. Kedua, keprihatinan atas ketaatanku kepada Allah sebagai seorang hamba. Ketiga, keprihatinan atas setan yang selalu merayu untuk bermaksiat. Keempat, keprihatinan atas Malaikat Maut yang akan mencabut nyawaku,” jelas Salman.


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 21 dan Kisah tentang Bisikan Murid Abdullah bin Mubarok yang Bikin Kuda Jinak


Ali berkata, “Bahagialah wahai Abu Abdillah! Karena masing-masing keprihatinan itu memiliki derajat bagimu. Sebab, pada suatu hari aku pernah menemui Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepadaku, ‘Hai Ali, bagaimana kabarmu pagi ini?’


Kemudian aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Aku sedang merasakan empat keprihatinan. Keprihatinan karena di rumah tidak ada makanan kecuali hanya air dan aku mengkhawatirkan keluargaku, keprihatinan terhadap ketaatan saya sebagai hamba kepada Allah, keprihatinan tentang bagaimana nanti akhir hidupku (membawa keimanan atau tidak), dan keprihatinan atas Malaikat Maut.’


Kemudian Rasulullah berkata, ‘Bahagialah, hai Ali! Karena prihatin memikirkan keluarga adalah pelindung dari api neraka. Prihatin atas ketaatan kepada Allah adalah kesejahteraan dari siksa. Prihatin atas akhir kehidupan adalah jihad dan lebih utama daripada ibadah selama 60 tahun. Dan prihatin atas Malaikat Maut adalah pelebur seluruh dosa.’


‘Ketahuilah, hai Ali! Sesungguhnya rezeki-rezeki hamba adalah tanggungan Allah sedangkan keprihatinanmu itu tidak akan memberikan marabahaya atau manfaat bagimu, tetapi kamu diberi pahala karenanya.

Oleh karena itu, jadilah orang yang bersyukur, yang taat, yang bertawakkal maka kamu akan menjadi salah satu dari golongan kekasih-Nya,’ lanjut Rasul.


Kemudian aku bertanya, ‘Atas apa aku bersyukur kepada Allah?’


Rasulullah menjawab, ‘Atas Islam.’


Aku bertanya, ‘Dengan apa aku bertaat?’

Rasulullah menjawab, ‘Ucapkanlah Laa Haula Walaa Quwwata Illa billahi al-‘Aliyyi al-‘Adzim.’


Aku bertanya lagi, ‘Apa yang harus aku tinggalkan?’


Rasulullah menjawab, ‘Kemarahan. Karena meninggalkan kemarahan dapat meredam kemarahan Allah Yang Maha Agung, dapat memberatkan timbangan amal kebaikanmu dan dapat menuntunmu menuju surga.’


Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 17 tentang Sakit yang Menjadi Pelebur Dosa


Atas cerita tersebut, Salman langsung mendoakan Ali, “Semoga Allah menambahkan kemuliaanmu, wahai Ali! Karena aku sungguh prihatin memikirkan itu semua, terutama yang menyangkut soal keluarga.”


Ali kembali berkata, “Hai Salman al-Farisi! Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Barang siapa tidak pernah memprihatinkan keluarganya maka ia tidak memiliki bagian di surga’.”


“Benarkah demikian, Ali?,” tanya Salman, “Karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Orang yang memiliki tanggungan keluarga tidak akan bahagia selamanya’.”


Ali menjawab, “Hai Salman! Bukan begitu maksudnya. Apabila pekerjaanmu itu halal maka kamu akan bahagia. Hai Salman! Surga itu merindukan orang-orang yang khawatir dan bersedih hati dalam mencari yang halal.”


Hadis dan kisah ini memberikan pelajaran kepada kita tentang mulianya memikirkan dan memperhatikan keluarga. Walaupun Allah sudah menjamin rezeki tiap-tiap orang, selalu mengkhawatirkan nasib keluarga adalah hal baik yang pantas mendapat pahala. Bahkan, Nabi menyebutnya sebagai pelebur dosa.


Karena orang yang demikian akan terdorong untuk selalu mencarikan rezeki bagi keluarganya dengan cara yang halal. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#ushfuriyah #Ngaji #hadis #keluarga #kitab