Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 27 dan Kisah tentang Budak Ibrahim bin Adham yang Memukuli Tuan yang Membebaskannya

A. Nugroho • Senin, 16 Maret 2026 | 04:05 WIB
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 27 dan Kisah tentang Budak Ibrahim bin Adham yang Memukuli Tuan yang Membebaskannya
Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 27 dan Kisah tentang Budak Ibrahim bin Adham yang Memukuli Tuan yang Membebaskannya

MALANG - Hadis ke-27 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat Ikrimah, seorang budak yang dimerdekakan oleh Ibnu Abbas. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda sebagai berikut:

“Ketika Hari Kiamat telah terjadi maka Allah memisahkan seorang hamba dari manusia lainnya. Kemudian Allah memberinya catatan kebaikan-kebaikannya. Si hamba pun membacanya.

Kemudian Allah bertanya: “Apa yang sedang kamu lihat?”

“Aku sedang melihat kebaikan-kebaikan yang banyak,” jawab si hamba.

“Apakah ada yang kurang?,” tanya Allah.

“Tidak,” jawab si hamba.

Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 26 tentang Seorang Majusi yang Diampuni Allah karena Memberi Makan Keluarga Muslimah

Kemudian Allah menyerahkan catatan keburukan-keburukan kepada si hamba. Ia pun membacanya. Kemudian Allah bertanya: “Apa yang sedang kamu lihat?”

“Aku sedang melihat keburukan-keburukan yang banyak,” jawab si hamba.

“Apakah kamu ingat keburukan-keburukan itu?” tanya Allah.

“Iya. Aku ingat,” jawab si hamba.

“Apakah ada catatan keburukan yang ditambahkan?,” tanya Allah. 

“Tidak” jawab si hamba. 

Kemudian Allah menyerahkan selembar kertas kepada si hamba. Kemudian ia membacanya. Dan Allah bertanya, “Apa yang sedang kamu lihat?”

“Aku sedang melihat catatan kebaikan-kebaikan yang banyak,” jawab si hamba. 

“Apakah kamu mengetahui catatan kebaikan-kebaikan itu?,” tanya Allah.

“Tidak,” jawab si hamba.

“Catatan itu merupakan kebaikan-kebaikan dari orang-orang yang menganiayamu, menyakitimu, dan mengambil hartamu tanpa sepengetahuanmu.”

Sesuai dengan hadis di atas, ada sebuah kisah yang disertakan oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Alkisah, Ibrahim bin Adham dulunya memiliki 72 budak. Ketika ia sudah bertaubat dan kembali kepada Allah, maka ia memerdekakan semua budaknya.

Pada satu kesempatan, salah satu budak yang telah dimerdekakan oleh Ibrahim mabuk berat karena minum khamr. Budak pemabuk itu (sambil naik kuda) bertemu dengannya dan berkata:

“Hai Fulan! Tuntun aku menuju rumahku!” 

“Baiklah,” jawab Ibrahim. 

Baca juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 23 dan Kisah tentang Umat Nabi Musa yang Disambar Petir 

Kemudian Ibrahim menuntun si pemabuk ke salah satu kuburan. Ketika si pemabuk melihat kuburan-kuburan, ia langsung memukul keras Ibrahim dan berkata:

“Aku tadi mengatakan, ‘Tuntun aku menuju rumahku!’ Mengapa kamu menuntunku ke kuburan?”

“Hai orang ceroboh! Hai orang yang sedikit akalnya! Kuburan adalah rumah sebenarnya sedangkan rumah-rumah lain adalah rumah yang tidak sebenarnya,” jawab Ibrahim. 

Kemudian si pemabuk itu memukul Ibrahim lagi. Ia memukulnya dengan cambuk. 

“Semoga Allah mengampunimu,” kata Ibrahim.

Ketika keduanya dalam keadaan seperti itu, yaitu si pemabuk memukuli Ibrahim, tiba-tiba ada seorang laki-laki lain dan berkata: 

“Hai Fulan! Apa yang kamu lakukan? Kamu itu memukuli tuan yang telah memerdekakanmu,” kata si laki-laki.

Pada saat itu, pemabuk tidak menyadari kalau yang ia pukul adalah Ibrahim bin Adham yang telah memerdekakannya.

“Siapa orang ini?” tanya si pemabuk. 

Si laki-laki itu menjawab, “Laki-laki ini adalah tuanmu yang memerdekakanmu, yaitu Ibrahim bin Adham.” 

Ketika si pemabuk mengetahui kalau orang yang ia pukuli adalah Ibrahim bin Adham yang memerdekakannya, ia pun langsung turun dari kudanya dan meminta maaf.

“Aku terima maafmu. Aku memaafkanmu,” kata Ibrahim. 

Si pemabuk berkata, “Hai tuanku! Aku telah memukuli dan menyakiti Anda. Tetapi mengapa Anda malah mendoakan kebaikan untukku? Setiap kali aku memukul Anda, Anda selalu berdoa: Semoga Allah mengampunimu.”

Ibrahim menjawab, “Bagaimana aku tidak mendoakanmu dengan doa yang baik sedangkan kamu adalah perantara bagiku masuk ke dalam surga karena pukulanmu dan perbuatanmu yang menyakitiku?”

Hadis dan kisah ini memberikan pelajaran kepada kita tentang betapa meruginya perbuatan zalim kepada orang lain. Yaitu, berkurangnya pahala-pahala yang kita peroleh selama hidup di dunia karena diberikan kepada orang yang kita zalimi. 

Jika kita tak punya lagi pahala atau kebaikan untuk diberikan kepada orang yang kita zalimi, maka dosa atau keburukan orang yang kita zalimi itu yang dikurangi untuk diberikan kepada kita. Na’udzubillah. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)

Editor : A. Nugroho
#budak #ushfuriyah #Ngaji #hadis #rasulullah