MALANG - Hadis ke-30 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat Amir bin Robiah. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Sesungguhnya ketika seorang hamba mati dan Allah mengetahui kalau ia adalah orang yang buruk, sementara orang-orang mengatakan kalau ia adalah orang yang baik, maka Allah berkata kepada para malaikat-Nya:
“Bersaksilah bahwa sesungguhnya Aku telah menerima kesaksian hamba-hamba-Ku atas hamba-Ku dan Aku telah mengampuni hamba-Ku itu padahal Aku tahu kalau ia adalah orang yang buruk…”
(Diceritakan) pada zaman dahulu ada seorang laki-laki pembohong. Ia dijuluki dengan julukan “Si Penipu alias at-Thorror.” Suatu ketika ia masuk ke pasar dan mencari target yang akan menjadi korban penipuannya. Tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang laki- laki desa.
Si Thorror pura-pura menyapanya dengan uluk salam dan berjabat tangan dengannya. “Kamu adalah teman ayahku. Aku ingin mentraktirmu hari ini,” katanya.
“Aku tidak mengenalmu dan juga tidak mengenal ayahmu,” jawab si laki-laki.
“Kamu itu sebenarnya teman ayahku. Barang kali kamu lupa tetapi aku tidak lupa. Aku ingin mentraktirmu hari ini karena Allah Ta’ala,” kata si Thorror.
Kemudian Si Thorror masuk ke warung makan sambil mengajak si laki-laki itu. Si Penipu membeli kepala kambing, roti dan makanan lainnya. Adat yang berlaku di daerah tersebut adalah seorang pembeli akan membayar setelah selesai makan.
Ketika Si Thorror telah selesai makan dan makanannya hanya tersisa satu suap atau dua suap, dia keluar dari warung dengan alasan ingin kencing atau keperluan lain. Ketika si laki-laki yang ditraktir ingin keluar dari warung, tiba-tiba penjual makanan meminta bayaran.
“Bayar dulu! Jangan pergi!” kata penjual.
“Saya ditraktir orang tadi (Thorror), Pak,” jawab si lelaki.
“Aku tidak mau tahu siapa yang mentraktir dan siapa yang ditraktir. Pokoknya makanan yang kalian beli harus dibayar!,” tandas penjual.
Baca juga: Mengenal Kitab Ushfuriyah yang Biasa Dibaca saat Ramadan, Ada Amalan-Amalan yang Dianjurkan
Selama masa hidupnya, Si Thorror selalu melakukan penipuan. Suatu ketika, ia sakit menjelang kematiannya. Ia lantas menyewa dua laki-laki. Masing-masing dari mereka disewa dengan bayaran satu dinar. Si Thorror pun memberi mereka dua dinar dan berkata:
“Nanti, kalau aku telah mati, ketika kalian mengiring jenazahku, katakan kalau aku ini adalah orang yang saleh dan baik. Jangan berhenti mengatakan itu hingga aku selesai dikubur!”
Ketika Si Thorror benar-benar meninggal, dua laki-laki yang disewa itu mengiring jenazahnya dan berkata: “Sebaik-baik orang adalah orang ini (Si Thorror). Ia adalah orang yang saleh dan baik.”
Kedua lelaki itu tak henti-hentinya berkata demikian hingga orang-orang selesai mengubur jenazah si Thorror dan pulang. Kemudian dua malaikat masuk ke dalam kuburan Si Thorror untuk memberi pertanyaan.
Saat itulah tiba-tiba terdengar seruan: “Hai dua malaikat! Tinggalkan hamba-Ku. Sesungguhnya hamba-Ku hidup selalu menipu dan mati pun ia juga menipu!”
Akhirnya Si Thorror diampuni oleh Allah berkat kesaksian dua orang yang disewanya.
Ada hikmah yang bisa kita ambil hadis dan kisah ini. Pertama, bahwa Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Luas Kasih Sayang-Nya kepada kita. Sehingga, meskipun mengetahui hamba-Nya adalah seorang yang buruk maka akan tetap mengampuni dan mengasihinya.
Kedua, seberapa buruk pun perbuatan seorang hamba, ia tidak boleh berputus asa atas rahmat dan ampunan-Nya. Sebab, rahmat dan ampunan Allah itu bahkan bisa datang dari kesaksian seorang hamba yang bisa jadi bohong. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)