RADAR MALANG - Hadis ke-37 dari kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar diambil berdasar riwayat Abu Hurairah. Ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Ketika salah satu dari kalian telah duduk di suatu majelis maka janganlah meninggalkan majelis hingga ia membaca sebanyak tiga kali:
‘Subhaanaka allahumma wabi hamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta ighfirli watub ‘alayya (Maha Suci Engkau, Ya Allah! Dengan memuji-Mu aku bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Engkau. Ampunilah aku dan terimalah taubatku!)’
Apabila ia berada di majelis yang baik maka bacaan tersebut menjadi seperti stempel (kebaikan) baginya. Apabila ia berada di majelis yang tidak bermanfaat maka bacaan tersebut adalah pelebur bagi dosa-dosa yang terjadi di majelis.”
Dari hadis di atas, Syekh Muhammad bin Abu Bakar menyertakan sebuah hikayat atau kisah tentang Abu Yazid al Bustomi (sufi dari Persia, abad 3 H, pelopor konsep fana’ dan baqa’, ed.). Dikisahkan, suatu hari Abu Yazid bermunajat kepada Allah hingga hatinya menjadi tenteram dan lembut. Pikirannya menjadi terbang ke ‘Arsy.
Kemudian ia berkata pada dirinya sendiri, “Ini adalah derajat Muhammad, pemimpin para utusan ‘alaihi shalatu wa salam. Barangkali aku akan menjadi orang yang bertetangga dengannya di surga.”
Ketika tersadar, Abu Yazid mendengar seruan dari dalam hatinya:
“Sesungguhnya budak si Fulan, yaitu budak seorang syekh yang menjadi imam di daerah ini akan menjadi tetanggamu di surga.”
Abu Yazid lantas pergi mencari budak syekh yang terseru di hatinya itu untuk menemuinya. Ia berjalan mencarinya sepanjang 100 farsakh (ukuran kuno, sekitar 800 km, 1 farsakh=8 km, ed.) atau lebih. Ketika ia sampai di daerah yang dimaksud, ia bertanya kepada orang-orang tentang seorang budak dari syekh itu.
Orang-orang berkata kepadanya, “Mengapa kamu menanyakan tentang orang fasik, pemabuk, sedangkan kamu ini adalah orang yang saleh?”
Mendengar itu, Abu Yazid sedih dan kecewa. “Barangkali seruan di hatiku itu berasal dari setan,” batinnya.
Ia lantas bermaksud pulang. Tapi, kata hatinya, “Aku sudah jauh-jauh kemari dan belum melihat wajah budak itu. Masak aku mau pulang?”
Setelah itu Abu Yazid bertanya kepada orang-orang, “Di mana rumah dan tempat budak syekh itu?”
Mereka menjawab, “Budak itu adalah pemabuk yang tinggal di daerah ini dan ini.”
Setelah mendapatkan informasi, Abu Yazid pun pergi menuju tempat yang dialamatkan oleh orang-orang itu. Sesampainya di lokasi, ia melihat 40 orang yang sedang berkumpul sambil minum-minum khamr. Budak yang ia cari berada di antara mereka.
Ketika Abu Yazid melihat keadaan seperti ini, ia langsung berbalik hendak pulang dengan perasaan sangat kecewa.
Tapi, tiba-tiba budak itu memanggilnya dan berkata, “Hai Abu Yazid! Hai syekh orang-orang muslim! Mengapa kamu tidak masuk ke rumah. Bukankah kamu telah datang kemari dari tempat yang jauh dengan susah payah dan lelah untuk mencari tetanggamu di surga.
Kamu telah menemukan tetanggamu itu malah kamu terburu-buru mau pergi tanpa salam, berbicara dan menyapa.”
Mendengar sambutan itu, Abu Yazid merasa bingung dan kaget. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Seruan di hatiku adalah rahasia dan hanya aku dan Allah yang tahu. Bagaimana budak itu bisa mengetahui rahasia itu?”
Kemudian budak itu memanggilnya lagi, “Hai Syekh! Jangan dipikirkan! Jangan kaget! Seruan yang telah membuatmu datang kemari itu telah memberitahuku tentang kedatanganmu. Masuklah, hai Syekh! Dan duduklah bersama kami sebentar saja!”
Akhirnya Abu Yazid pun masuk ke tempat mabuk-mabukan itu dan duduk bersama budak itu. “Hai Fulan! Apa-apaan ini?” tanya Abu Yazid.
Budak itu menjelaskan, “Tidak ada orang yang menginginkan masuk surga dengan sendirian. Sebenarnya mereka semua itu berjumlah 80 orang yang fasik. Aku telah berusaha menyadarkan dari mereka dan mereka berhasil bertaubat dan menyesali kefasikan mereka. Mereka menjadi teman-temanku dan para tetanggaku di surga. Sekarang, mereka masih tersisa 40 orang yang masih fasik. Jadi kamu berusahalah menyadarkan mereka dan mencegah mereka dari kefasikan ini.”
Ketika mereka (orang-orang di warung itu) mendengar ucapan budak syekh tersebut, mereka tahu kalau orang yang bersamanya adalah Syekh Abu Yazid al-Bustomi. Kemudian mereka bertaubat. Maka menjadilah 82 orang yang akan saling bertetangga di surga.
Kisah ini menjelaskan tentang majelis atau forum para pemabuk yang berakhir baik dengan kedatangan Abu Yazid al Bustomi. Di situlah relevansi doa yang diajarkan Nabi di atas.
Dari kisah itu sendiri, ada pelajaran lain yang bisa kita dapat. Yakni, jangan mudah menghakimi orang lain.
Sekalipun di mata pandangan umum mereka terlihat jelek. Sebab, bisa jadi mereka sedang berproses menjadi baik. Wallahu A’lam. (hid/diolah dari sejumlah terjemah kitab Al Mawa’idhul ‘Ushfuriyah)
Editor : A. Nugroho