MALANG, RADAR MALANG – Di tengah notifikasi yang tidak pernah berhenti dan layar yang selalu menyala, istilah digital detox semakin sering kita dengar. Mulai dari selebgram hingga pekerja kantoran, banyak yang mengklaim butuh “istirahat” dari dunia digital.
Tapi pertanyaannya, apakah digital detox benar-benar kebutuhan, atau sekadar tren yang ikut-ikutan?
Fenomena ini pasti tidak muncul tanpa alasan. Dalam kajian Psikologi, paparan layar berlebih dapat dikaitkan dengan meningkatnya stres, gangguan tidur, hingga penurunan konsentrasi. Otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk menerima stimulasi konstan dalam bentuk notifikasi, menonton video-video singkat dan informasi tiada henti.
Akibatnya, banyak orang merasa lelah secara mental meskipun tidak melakukan aktivitas fisik berat.
Digital detox sendiri merupakan upaya membatasi penggunaan perangkat digital seperti ponsel, laptop, dan media sosial. Tujuannya sederhana, memberi ruang untuk pikiran kita beristirahat dan kembali fokus pada dunia nyata. Dalam praktiknya, bentuknya bisa beragam, mulai dari tidak membuka media sosial selama beberapa jam, hingga benar-benar offline selama beberapa hari.
Namun, tidak semua orang membutuhkan digital detox dalam bentuk ekstrem. Bagi sebagian orang, terutama yang pekerjaannya bergantung pada teknologi, berhenti total justru tidak mudah.
Di sinilah pentingnya pendekatan yang lebih seimbang, yaitu mengatur pola penggunaan, bukan menghindari teknologi sepenuhnya.
Beberapa tanda seseorang mungkin membutuhkan digital detox antara lain: Merasa cemas saat jauh dari ponsel, sulit tidur karena terlalu lama menatap layar, hingga kehilangan fokus saat beraktivitas. Jika kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin berdampak pada kesehatan mental, termasuk meningkatkan risiko Kecemasan ringan hingga sedang.
Lalu, bagaimana cara melakukannya tanpa terasa menyiksa?
Baca Juga: Rekomendasi Wisata Akhir Pekan di Malang, Ini Alasan Jatim Park 1 Jadi Favorit Anak Muda
Mulailah dari langkah kecil. Misalnya, menetapkan waktu bebas gawai sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, atau mengganti waktu scrolling dengan aktivitas lain seperti membaca buku atau berjalan santai. Pendekatan ini dikenal sebagai mindful technology use, yaitu menggunakan teknologi secara sadar dan terkontrol.
Pada akhirnya, digital detox bukan soal ikut tren atau tidak, melainkan soal kebutuhan masing-masing individu. Di era serba digital, yang lebih penting bukanlah menjauh sepenuhnya dari teknologi, tetapi memahami kapan harus terhubung dan kapan perlu berhenti sejenak.
Dengan begitu, keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata tetap terjaga.
Editor : Aditya Novrian