Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Selingkuh di Layar Kaca: Kenapa Cerita ‘Terlarang’ Justru Disukai?

Keshia Putri Susetyo • Kamis, 30 April 2026 | 04:00 WIB
Selingkuh di Layar Kaca: Kenapa Cerita ‘Terlarang’ Justru Disukai? (Source: YT)
Selingkuh di Layar Kaca: Kenapa Cerita ‘Terlarang’ Justru Disukai? (Source: YT)

 

MALANG, RADAR MALANG - “Kalau tahu itu salah, kenapa tetap ditonton?” Pertanyaan itu mungkin pernah terlintas saat kita sadar atau tidak ikut terpaku pada adegan perselingkuhan di layar kaca. Entah dalam sinetron sore hari atau film yang ramai dibicarakan, kisah “terlarang” seolah punya daya tarik yang sulit dijelaskan. Ia mengusik, memancing emosi, sekaligus membuat penonton enggan beralih.

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Dalam dunia storytelling, konflik adalah bahan bakar utama. Perselingkuhan menghadirkan konflik yang kompleks, mulai dari pengkhianatan, dilema moral, rasa bersalah, hingga pertarungan antara logika dan emosi. Dalam satu narasi, penonton disuguhi spektrum emosi yang luas, marah, iba, penasaran, bahkan simpati terhadap karakter yang “bersalah”. Di sinilah letak paradoksnya, sesuatu yang secara sosial dianggap salah justru menjadi magnet perhatian.

Secara psikologis, ketertarikan ini bisa dijelaskan melalui konsep moral curiosity, rasa ingin tahu manusia terhadap batas-batas moral. Penonton tidak selalu menyukai tindakan selingkuh, tetapi mereka tertarik memahami “mengapa itu terjadi”. Apa yang mendorong seseorang mengkhianati pasangannya? Apakah cinta bisa menjadi alasan? Atau justru kelemahan manusia semata? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat penonton merasa terlibat secara emosional dan intelektual.

Selain itu, ada pula efek safe distance. Layar kaca memberi ruang aman bagi penonton untuk “mengalami” situasi ekstrim tanpa benar-benar terlibat di dunia nyata. Kita bisa menghakimi karakter, merasakan ketegangan, bahkan diam-diam memahami mereka. Semua tanpa konsekuensi pribadi. Ini yang membuat cerita perselingkuhan terasa intens, tetapi tetap nyaman untuk dinikmati.

Industri hiburan pun memahami betul pola ini. Data menunjukkan bahwa serial dengan konflik relasi yang kuat cenderung memiliki tingkat keterlibatan penonton lebih tinggi. Perselingkuhan, sebagai salah satu konflik paling universal, mudah dihubungkan dengan pengalaman atau ketakutan banyak orang. Ia dekat, nyata, dan sering kali relevan.

Namun, ada garis tipis yang perlu disadari. Ketika cerita “terlarang” terus dikonsumsi tanpa refleksi, ada risiko normalisasi, di mana perilaku tersebut terasa biasa atau bahkan dapat diterima. Di sinilah pentingnya literasi media: kemampuan untuk menikmati cerita tanpa kehilangan kompas moral.

Pada akhirnya, ketertarikan terhadap kisah perselingkuhan bukan berarti kita mendukungnya. Justru sebaliknya, itu menunjukkan betapa kompleksnya manusia dalam memahami emosi, hubungan, dan pilihan hidup. Layar kaca hanyalah cermin yang memantulkan sisi terang sekaligus gelap dari realitas kita sendiri.

Jadi, lain kali saat adegan itu muncul dan kamu kembali terpaku, mungkin bukan karena kamu setuju, melainkan karena kamu sedang mencoba memahami sesuatu yang lebih dalam dari sekadar benar atau salah.

 

Editor : Aditya Novrian
#film #perselingkuhan