MALANG, RADAR MALANG - Kecanduan mengkonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan atau biasa disebut sugar craving, bisa membuat kalian rentan akan masalah kesehatan.
Gula dapat meningkatkan hormon serotonin dan endorfin. Dua hormon ini memiliki efek neurological reward, sistem otak yang melepaskan dopamin sebagai respon terhadap pengalaman menyenangkan. Sesekali menikmati makanan manis tidak masalah, akan tetapi, adiksi terhadap rasa manis yang biasa menjadi booster good mood ini dapat memicu rasa lapar palsu dan kenaikan berat badan, resistensi insulin, hingga diabetes.
Baca Juga: Manis Tapi Berbeda: Mengupas Fruktosa, Laktosa, dan Sukrosa dalam Gaya Hidup Sehat
Terdapat beberapa faktor penyebab munculnya sugar craving, di antaranya:
-
Kekurangan Zat Gizi
Kekurangan zat gizi mikro dan makro seperti magnesium, kromium, dan vitamin B, berperan besar dalam menciptakan sugar craving. Mineral seperti magnesium terlibat dalam reaksi enzim termasuk regulasi glukosa dan insulin. Ketika kadarnya rendah, tubuh kesulitan memproses energi sehingga otak mengirimkan sinyal palsu kalau kalian membutuhkan gula segera.
Sementara itu, kromium berfungsi membantu insulin memasukkan gula darah ke dalam sel, sehingga kekurangannya menyebabkan kadar gula darah tidak stabil dan memicu sugar craving demi menaikkan energi dengan cepat.
Di sisi lain, vitamin B (terutama B12 dan B6) sangat krusial dalam metabolisme karbohidrat dan produksi neurotransmitter seperti serotonin. Tanpa asupan vitamin B yang cukup, tubuh akan merasa cepat lelah dan mencari asupan gula sebagai penambah energi instan.
Baca Juga: Waspada! Daftar Makanan Favorit yang Diam-Diam Berisiko Picu Kanker
-
Hormon Kortisol, Ghrelin, dan Serotonin Tidak Seimbang
Ketidakseimbangan hormon kortisol, ghrelin, dan serotonin menciptakan reaksi berantai biologis yang secara langsung memicu sugar craving atau keinginan kuat terhadap makanan manis.
Ketika seseorang mengalami stres kronis, kadar kortisol akan melonjak dan mengirimkan sinyal kepada otak bahwa tubuh membutuhkan energi instan untuk menghadapi ancaman, di mana gula merupakan sumber energi tercepat yang tersedia. Kondisi ini sering kali diperparah oleh peningkatan hormon ghrelin yang merangsang rasa lapar secara agresif sekaligus menekan hormon kenyang, sehingga tubuh merasa terus-menerus membutuhkan asupan kalori tinggi.
Di saat yang sama, kadar serotonin yang rendah akibat kelelahan atau tekanan mental membuat otak mencari cara instan untuk memperbaiki suasana hati, otak akhirnya menagih makanan manis sebagai mekanisme pelarian untuk memberikan rasa nyaman sementara.
-
Kurang Mengkonsumsi Protein dan Lemak
Kekurangan protein dan lemak sehat menghilangkan mekanisme kendali rasa lapar di dalam sistem pencernaan. Protein dan lemak memerlukan waktu lebih lama untuk dicerna dibandingkan karbohidrat, sehingga keduanya mampu memperlambat penyerapan gula ke dalam aliran darah dan menjaga rasa kenyang lebih lama.
Baca Juga: Teliti Sebelum Beli: Tips Membaca Label Nutrisi Susu dengan Benar
Jika asupan protein dan lemak sehat tidak memadai, kadar gula darah akan sering mengalami lonjakan dan penurunan drastis (spike and crash) yang pada akhirnya memaksa tubuh terus-menerus mendambakan gula untuk menstabilkan kembali energi yang merosot.
Sugar craving dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup dan pola makan sehat. Dengan memahami penyebabnya, mengkonsumsi makanan manis dapat dikendalikan sehingga kesehatan tubuh tetap terjaga.
Editor : Aditya Novrian