RADAR MALANG - Brand streetwear asal Kota Malang, Conflict X, berhasil menembus pasar luar negeri melalui tur tujuh negara selama 40 hari, meski belum menguntungkan secara finansial. Langkah nekat ini membuktikan produk lokal mampu bersaing di pasar global dan mendapat respons positif, terutama di Jepang, Singapura, dan Thailand.
Dua pemuda Kota Malang, Dakara Jiwanta Afiadi dan Agan Juniar Iksar, membawa Conflict X keluar dari pasar domestik menuju panggung internasional. Tanpa dukungan sponsor besar, keduanya mengandalkan keberanian dan konsistensi untuk mengenalkan brand yang baru berdiri pada 2024 tersebut.
Tur dimulai pada 28 Maret 2026 dengan Jepang sebagai destinasi pertama. Selama sekitar 40 hari, mereka menjelajahi tujuh negara, yakni Jepang, Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan kembali ke Indonesia melalui Batam.
Bagaimana Perjalanan Conflict X Menembus Pasar Internasional?
Conflict X memulai perjalanan dari Tokyo sebagai ruang observasi tren fashion global, sebelum benar-benar diuji di Osaka melalui konsep pop up store. Di kota ini, respons pasar justru melampaui ekspektasi awal.
Sekitar 50 item berhasil terjual di Osaka. Angka tersebut menjadi salah satu capaian tertinggi selama tur berlangsung. “Di Jepang kami tidak berekspektasi tinggi, tapi ternyata responsnya bagus. Itu jadi motivasi buat kami,” ujar Dakara Jiwanta Afiadi.
Hasil serupa juga terjadi di Singapura. Penjualan kembali menyentuh angka sekitar 50 item. Menurut Daka, capaian tersebut di luar perhitungan awal mereka. “Di Singapura juga paling bagus, sama seperti di Jepang. Itu di luar dugaan kami,” imbuhnya.
Baca Juga: Lolos SNBP 2026 di Usia 15 Tahun, M. Fatichul Firdaus Jadi Calon Mahasiswa Termuda UM
Mengapa Thailand Jadi Titik Paling Berkesan?
Thailand menjadi salah satu momen paling berkesan dalam tur ini karena Conflict X berhasil terlibat dalam festival musik besar di kawasan Asia Tenggara.
Brand tersebut membuka pop up store dalam ajang Concrete Jungle Fest 2026, festival musik hardcore yang dikenal luas di Asia Tenggara. Momentum ini tidak hanya soal penjualan, tetapi juga memperluas jejaring dan pengalaman dalam kultur streetwear global.
“Bisa ikut event sebesar itu jelas pengalaman besar buat kami. Tidak hanya jualan, tapi juga melihat langsung kultur yang selama ini jadi inspirasi,” kata Daka.
Di tengah atmosfer festival, Conflict X tampil sebagai bagian dari ekosistem street culture. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga memperkenalkan identitas brand yang terinspirasi dari skateboarding, hip-hop, dan seni grafiti.
Baca Juga: Gaji PNS 2026 Masih Dikaji, Fokus Utama pada Guru, Tenaga Kesehatan, dan Aparat
Apakah Tur Ini Menguntungkan secara Finansial?
Secara finansial, tur tujuh negara ini belum memberikan keuntungan bagi Conflict X. Namun, nilai pengalaman dan eksposur global dinilai jauh lebih penting sebagai investasi jangka panjang.
Total penjualan selama tur mencapai sekitar 300 item dengan omzet puluhan juta rupiah. Sementara itu, biaya perjalanan dan operasional mencapai ratusan juta rupiah.
“Kalau dihitung memang belum balik modal. Tapi ini kebanggaan buat kami. Tidak banyak brand yang berani keliling tujuh negara nonstop seperti ini,” tegas Daka.
Meski begitu, dampak positif mulai terasa pada jangkauan pasar. Selain pelanggan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, Conflict X kini telah menjangkau hampir seluruh Indonesia, bahkan hingga Malaysia dan Singapura.
Strategi dan Identitas Brand Conflict X
Conflict X mengusung gaya streetwear yang terinspirasi budaya urban Amerika Serikat, seperti hip-hop, skateboarding, dan grafiti.
Desain produk dibuat secara mandiri oleh tim internal tanpa melibatkan desainer eksternal. Daka menyebut inspirasi banyak datang dari kultur musik, khususnya rapper SoundCloud, yang diterjemahkan ke dalam desain kaus dengan karakter kuat dan penggunaan slang berbahasa Inggris.