MALANG, RADAR MALANG - Istilah skena beberapa tahun terakhir tidak pernah lepas dari percakapan anak muda Indonesia. Mulai dari outfit oversized, kaos band, vinyl, kamera digital lawas, sampai nongkrong di gigs kecil atau coffee shop estetik, semuanya kini sering diberi label “anak skena”. Namun di balik gaya yang terlihat santai dan effortless itu, ada satu stereotip yang terus menempel, mahal.
Tidak sedikit orang yang menganggap budaya skena identik dengan pengeluaran besar. Kaos lokal bisa dibanderol ratusan ribu rupiah, vinyl musik mencapai jutaan, bahkan secangkir kopi di venue gigs sering dianggap overpriced. Pertanyaannya, kenapa budaya yang lahir dari semangat independen justru terlihat eksklusif?
Baca Juga: Oat Milk Lebih Sehat dari Susu Sapi? Jangan Tertipu Ini Faktanya!
Jawabannya ternyata tidak sesederhana soal gaya hidup semata.
-
Peminat yang Besar
Secara umum, budaya skena lahir dari komunitas independen, terutama musik dan seni alternatif. Kata “scene” sendiri merujuk pada kelompok dengan minat yang sama, mulai dari musik indie, punk, hardcore, hingga fashion underground. Kini istilah itu berkembang luas di media sosial, terutama TikTok dan Instagram, menjadi identitas gaya hidup anak muda urban.
2. Kualitas Produk
Yang membuat produk atau fashion skena terasa mahal salah satunya adalah kualitas produksi. Banyak brand independen menggunakan bahan yang tidak murah, seperti katun heavyweight, teknik washing khusus, hingga sablon plastisol atau discharge yang lebih tahan lama dibanding sablon biasa. Berbeda dengan fast fashion yang diproduksi massal, brand skena cenderung mengutamakan detail dan ketahanan produk.
Baca Juga: Fakta di Balik Pernikahan Dini: Risiko yang Perlu Dipertimbangkan
Selain itu, banyak rilisan dibuat terbatas atau limited release. Dalam budaya skena, eksklusivitas adalah nilai jual. Semakin sulit sebuah barang didapatkan, semakin tinggi nilainya di mata komunitas. Tidak heran jika merchandise band, hoodie brand lokal independen, atau rilisan vinyl tertentu cepat habis dan kemudian dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
3. Membeli Identitas
Menariknya, harga mahal dalam budaya skena sering kali bukan sekadar soal fungsi barang, melainkan nilai identitas. Orang membeli bukan hanya karena membutuhkan pakaian, tetapi karena ingin menjadi bagian dari komunitas tertentu. Kaos band misalnya, bukan hanya pakaian, tetapi simbol selera musik, pergaulan, bahkan cara seseorang ingin dilihat oleh lingkungan sosialnya.
Hal serupa juga terjadi dalam dunia musik fisik. Vinyl, kaset, dan CD kini kembali populer di kalangan penikmat musik independen. Padahal secara praktis, musik digital jauh lebih mudah diakses. Namun rilisan fisik menawarkan pengalaman emosional dan nilai koleksi yang tidak bisa digantikan playlist streaming.
Baca Juga: Inspirasi OOTD dari Layar: 5 Rekomendasi Film Tentang Dunia Fashion
Karena itu, label “skena mahal” sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Yang mahal sering kali adalah eksklusivitas, pengalaman, dan nilai simbolik di balik barang tersebut. Sementara esensi budaya skena sendiri sejak awal justru dekat dengan semangat independen, kreativitas, dan ekspresi personal.
Ironisnya, ketika budaya ini semakin populer di media sosial, maknanya perlahan bergeser. Banyak orang kini melihat skena hanya sebatas estetika visual seperti outfit mahal, coffee shop artsy, atau koleksi vinyl untuk konten Instagram. Padahal di balik itu, ada akar komunitas, musik, dan idealisme yang jauh lebih besar daripada sekadar penampilan.
Editor : Aditya Novrian