Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Banyak Brand Besar Tinggalkan Marketplace, Ada Apa Sebenarnya?

Keshia Putri Susetyo • Sabtu, 9 Mei 2026 | 02:00 WIB
Banyak Brand Besar Tinggalkan Marketplace, Ada Apa Sebenarnya? (Source: Pexels/@KampusProduction)
Banyak Brand Besar Tinggalkan Marketplace, Ada Apa Sebenarnya? (Source: Pexels/@KampusProduction)

 

MALANG, RADAR MALANG - Dulu, masuk marketplace adalah cara yang mudah promosi dan berjualan produk. Namun memasuki 2026, banyak brand besar mulai mengurangi ketergantungan mereka pada marketplace dan lebih fokus membangun website atau aplikasi resmi sendiri.

Fenomena ini ramai dibicarakan di sosial media hingga forum komunitas penjual online. Banyak seller mulai mengeluhkan biaya potongan yang makin besar, sistem iklan yang terasa wajib, sampai kebijakan retur yang dianggap memberatkan. Bahkan beberapa seller mengaku potongan platform kini bisa menyentuh 20–30 persen dari omzet penjualan.

Lalu sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Baca Juga: Sentuhan Lokal, Hasil Maksimal: 5 Body Lotion untuk Kulit Lebih Cerah

1. Marketplace Tak Lagi Semurah Dulu

Di awal kemunculannya, marketplace menjadi solusi praktis bagi brand untuk menjangkau konsumen tanpa perlu membangun toko sendiri. Namun sekarang, biaya operasional di dalam platform mulai meningkat.

Beberapa laporan biaya seller 2026 menunjukkan total potongan dari biaya admin, program gratis ongkir, komisi affiliate, hingga iklan bisa mencapai 15–30 persen dari harga jual produk. Bagi bisnis kecil mungkin ini masih bisa ditoleransi demi mendapatkan trafik. Tetapi untuk brand besar yang menjual ribuan produk per hari, selisih margin tersebut menjadi sangat signifikan.

Bayangkan sebuah produk skincare dijual Rp200 ribu. Ketika hampir seperempat harga produk habis untuk biaya platform dan promosi, keuntungan brand otomatis ikut tergerus.

Tidak heran jika banyak brand mulai berpikir ulang: “Kalau pelanggan sudah mengenal produk kami, kenapa tidak diarahkan langsung ke website resmi saja?”

2. Iklan Sekarang Seolah Jadi “Tiket Masuk”

Masalah lain yang sering dikeluhkan seller adalah soal visibilitas produk.

Dulu, produk bisa muncul secara organik lewat pencarian atau rekomendasi algoritma. Kini, tanpa memasang ads, banyak seller merasa toko mereka tenggelam di antara ribuan kompetitor lain.

Di media sosial, muncul istilah bahwa marketplace sekarang seperti “mal digital berbayar”. Brand bukan hanya membayar komisi penjualan, tetapi juga harus membayar agar produknya terlihat oleh calon pembeli.

Beberapa seller bahkan menyebut sistem ini seperti membayar sewa dua kali. Pertama lewat biaya platform, kedua lewat iklan. 

Baca Juga: Deretan Parfum Local Brand yang Cocok untuk Dipakai Pas Kondangan

3. Menjaga Citra Brand Tetap Premium

Ada juga faktor lain yang sering luput dibahas: pengalaman belanja.

Di marketplace, toko brand premium sering muncul berdampingan dengan produk tiruan, barang impor murah, atau toko abal-abal dengan harga jauh di bawah pasar. Hal ini bisa mempengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas brand.

Karena itu, banyak brand besar mulai lebih serius membangun website dengan tampilan yang lebih eksklusif dan pengalaman belanja yang lebih personal.

Fenomena ini sebenarnya mirip dengan brand fashion mewah dunia yang memilih menjual produk lewat butik resmi dibandingkan platform diskon massal. Mereka ingin menjaga nilai dan identitas merek tetap kuat.

4. Risiko Operasional Kini Ditanggung Seller

Keluhan seller juga makin ramai setelah muncul kebijakan baru terkait ongkir retur dan biaya logistik tambahan di beberapa platform e-commerce. Beberapa diskusi komunitas seller menyebutkan bahwa penjual kini harus menanggung biaya retur bahkan ketika pembeli berubah pikiran atau gagal menerima paket.

Banyak brand besar akhirnya memilih mengelola logistik sendiri atau bekerja sama langsung dengan pihak ketiga karena dinilai lebih aman dan lebih mudah dikontrol.

Meski begitu, bukan berarti marketplace akan ditinggalkan sepenuhnya.

Baca Juga: Parfum Powdery: Wangi Bersih yang Bikin kalian Terasa Fresh Sepanjang Hari

Saat ini, banyak brand justru menggunakan marketplace sebagai etalase perkenalan untuk mencari konsumen baru. Namun setelah pelanggan mengenal brand tersebut, mereka perlahan diarahkan untuk berbelanja langsung lewat website resmi, aplikasi, atau kanal komunitas mereka sendiri.

Strategi ini membuat brand tetap mendapatkan trafik besar dari marketplace, tetapi keuntungan jangka panjang tetap masuk ke ekosistem mereka sendiri.

 

Editor : Aditya Novrian
#e-commrce indonesia #Brand keluar dari e-commerce #e-commerce