MALANG, RADAR MALANG - Mulai sekarang, membeli minuman manis tidak lagi sekadar soal less sugar atau normal sugar. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi memperkenalkan sistem label baru bernama Nutri-Level, sebuah penanda warna dan huruf yang menunjukkan seberapa tinggi kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dalam minuman siap saji.
Aturan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 tentang pencantuman label gizi dan pesan kesehatan pada pangan olahan siap saji. Tujuannya sederhana, tetapi dampaknya besar: membuat masyarakat lebih sadar terhadap apa yang mereka minum setiap hari
Baca Juga: Teliti Sebelum Beli: Tips Membaca Label Nutrisi Susu dengan Benar
Kalau biasanya kita memilih minuman hanya karena lagi viral atau lagi pengen yang manis-manis, kini konsumen akan mulai melihat label A, B, C, hingga D sebelum checkout di kasir atau aplikasi delivery.
Dari Hijau Sampai Merah, Apa Bedanya?
Sistem Nutri-Level dibagi menjadi empat kategori warna yang mudah dipahami masyarakat. Semakin mendekati merah, semakin tinggi kandungan GGL di dalam minuman tersebut.
1. Level A – Pilihan Paling Aman
Ini adalah kasta tertinggi dalam dunia perminuman sehat. Level A memiliki kandungan gula, garam, dan lemak paling rendah. Bahkan, menurut aturan Kemenkes, kategori ini tidak boleh memakai tambahan pemanis apa pun, baik alami maupun buatan.
Baca Juga: Ngidam Gula Terus? Bisa Jadi ini Penyebabnya
Contohnya cukup familiar, seperti air mineral, americano tanpa gula, teh tawar, infused water, dan lain-lain. Singkatnya, kalau rasanya terlalu plain untuk sebagian orang, kemungkinan besar dia masuk Level A.
2. Level B – Masih Aman Dinikmati
Level ini masih tergolong rendah kandungan GGL-nya dan relatif aman jika dikonsumsi dalam batas wajar. Biasanya minuman pada kategori ini memakai sedikit gula alami tanpa tambahan pemanis buatan.
Contohnya, jus buah murn, minuman rendah kalori, yogurt drink rendah gula, dan lain-lain. Banyak orang kemungkinan akan mulai memburu kategori ini karena masih punya rasa manis, tetapi tidak terlalu jahat bagi tubuh.
Baca Juga: Manis Tapi Berbeda: Mengupas Fruktosa, Laktosa, dan Sukrosa dalam Gaya Hidup Sehat
3. Level C – Enak, Tapi Mulai Harus Dijaga
Nah, di sinilah minuman favorit anak muda mulai banyak muncul. Kandungan gulanya sudah berada di tingkat sedang hingga tinggi dan umumnya menggunakan tambahan gula cukup banyak atau pemanis tertentu.
Beberapa contoh yang diperkirakan masuk kategori ini adalah
kopi susu aren, teh tarik, soda, thai tea, dan lain-lain. Masalahnya, minuman seperti ini sering dianggap teman healing atau penyelamat begadang, padahal kandungan gulanya bisa mengejutkan jika dikonsumsi rutin.
4. Level D – Si Merah yang Perlu Dibatasi
Ini level paling tinggi dan menjadi perhatian utama pemerintah. Kandungan gula, garam, atau lemaknya sudah jauh di atas batas ideal konsumsi harian.
Baca Juga: Oat Milk Lebih Sehat dari Susu Sapi? Jangan Tertipu Ini Faktanya!
Contoh yang banyak disebut brown sugar boba, matcha frappe penuh sirup, susu kental manis, minuman energi dengan gula tinggi, dan lain-lain.
Beberapa minuman bahkan bisa mengandung gula setara lebih dari belasan sendok teh dalam satu gelas. Tidak heran jika kategori ini disebut sebagai minuman yang sebaiknya tidak dikonsumsi terlalu sering.
Kenapa Pemerintah Sampai Turun Tangan?
Alasannya ternyata serius. Konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, hipertensi, stroke, hingga penyakit jantung.
Baca Juga: Waspada Tikus di Rumah! Ini Langkah Pencegahan Virus Hanta Sehari-hari
Data dari Kemenkes menunjukkan pembiayaan BPJS untuk penyakit gagal ginjal melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir, mencapai lebih dari Rp13 triliun pada 2025. Salah satu faktor risikonya berasal dari pola konsumsi masyarakat yang tinggi gula dan tinggi kalori.
Karena itu, Nutri-Level hadir bukan untuk melarang orang minum boba atau kopi susu, melainkan memberi peringatan visual agar konsumen lebih sadar terhadap isi minumannya.
Pada akhirnya, Nutri-Level bukan tentang melarang masyarakat menikmati minuman favorit. Pemerintah justru ingin konsumen punya informasi yang jelas sebelum membeli. Karena yang terlihat cuma segelas kopi susu, tapi ternyata menyimpan kadar gula yang setara dengan kebutuhan harian dalam sekali minum.
Editor : Aditya Novrian