Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Ini Keutamaan Berderma dan 6 Contoh Kaum Salaf dalam Berderma, Rumah Pun Diberikan

Tauhid Wijaya • Jumat, 29 Mei 2026 | 10:15 WIB
ILUSTRASI: Berderma merupakan akhlak utama para Nabi Allah. (AI)
ILUSTRASI: Berderma merupakan akhlak utama para Nabi Allah. (AI)

 

RADAR MALANG- Idul Adha memberi pelajaran kepada kita untuk berkurban. Gemar memberi kepada orang lain. Menurut Imam Al Ghazali, kedermawanan adalah salah satu akhlak utama dari seluruh Nabi Allah.

Sahabat Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah dimintai sesuatu untuk kepentingan Islam, melainkan pasti memberinya.

Pernah suatu ketika ada seorang datang menghadap beliau dan meminta sesuatu. Kemudian Rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk memberikan kawanan domba yang jumlahnya memenuhi celah antara dua gunung. Domba itu berasal dari zakat seseorang.

Orang yang menghadap Nabi itu kemudian pulang ke kampungnya. Di hadapan para penduduk kampung, ia berkata, “Wahai kaumku, masuklah kamu semua ke dalam Islam. Sebab, Muhammad itu jika memberi bagaikan seseorang yang tidak takut sama sekali pada kemiskinan.” (HR Muslim)

Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Hidup Zuhud tapi Masih Suka Dipuji, Itu Namanya Tertipu

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya yang termasuk hal-hal yang menyebabkan datangnya pengampunan Allah adalah memberi makanan, menyiarkan salam, dan baiknya pembicaraan.” (HR Thabrani)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat pada Allah, dekat pula pada manusia, dan dekat pada surga, jauh dari neraka. Sesungguhnya, orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh pula dari manusia, dan jauh dari surga, tetapi dekat pada neraka. Seseorang yang bodoh tapi dermawan itu lebih dicintai Allah daripada seorang alim yang pandai tetapi kikir. Penyakit yang paling parah adalah kikir.” (HR Tirmidzi dan Daruquthni)

Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengutip Hasan bin Ali yang mengatakan, “Yang disebut kemuliaan dan kedermawanan adalah berlomba-lomba memberikan bantuan untuk suatu kebaikan sebelum diminta. Juga memberi makan di tempat yang sesuai, kasih sayang pada orang yang meminta-minta serta mengganti apa-apa yang diperoleh sebagai balasan.”

Al Ghazali mencontohkan kisah nyata dari sejumlah nama kaum salaf (terdahulu) yang dermawan sebagai berikut:

1)  Ibnu Amir. Suatu ketika ia membeli rumah seharga 90 ribu dirham. Malam harinya, ia meninjau rumah tersebut. Tiba-tiba ia mendengar tangis dari orang-orang yang berdiam di situ. Ternyata, mereka menangisi rumahnya yang baru dijual.

Menjumpai hal itu, Ibnu Amir berpesan kepada putranya agar disampaikan kepada para penghuni rumah tersebut. Bahwa rumah berikut uang pembelian yang sudah terbayar lunas dihadiahkan kepada mereka. Mungkinkah ini terjadi di zaman sekarang?

2)  Laits bin Sa’ad. Setiap hari, ia tidak suka berbicara sebelum memberikan sedekah kepada 360 kaum fakir miskin.

3)  Asma’ bin Kharijah. Ia pernah didatangi oleh Abul Malik yang bertanya kepadanya tentang beberapa hal yang sedang dipercakapkan. Asma’ lalu berkata, “Aku ini tidak pernah menjulurkan kaki di muka kawan yang sedang duduk di hadapanku.

Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Awas! Takabur Bisa Seret Tiga Sifat Buruk Berikut Ini

Aku tidak pernah membuat makanan yang kemudian aku undang orang-orang, kecuali mereka pasti aku beri yang lebih baik daripada jatah untukku sendiri. Juga, tidak seorang pun mengangkat mukanya untuk meminta sesuatu kepadaku, kecuali pasti aku beri lebih banyak daripada yang diminta.”

4)  Hammad bin Abu Sulaiman. Dikisahkan Imam Syafi’i, suatu ketika kancing baju Hammad lepas. Ia sedang di atas hewan kendaraannya. Saat melewati seorang penjahit, ia hendak turun untuk membetulkan kancingnya tadi.

Tapi, si penjahit lebih dulu mendatanginya dan bersumpah agar Hammad tidak turun. Ia lalu membenahi kancing baju itu dengan posisi Hammad tetap di atas kendaraannya. Begitu selesai, Hammad memberikan pundi kain berisi uang 10 dinar (1 dinar setara 4,25 gram emas) kepada si penjahit. (Meskipun jumlah itu sangat besar) Hammad tetap meminta maaf karena yang diberikannya sangat sedikit.

“Sejak peristiwa itu, aku senantiasa menghormati dan mencintai sahabatku Hammad itu,” kata Imam Syafi’i.

5)  Imam Syafi’i. Dikisahkan Rabi’ bin Sulaiman, salah satu sahabat dekat Imam Syafi’i bahwa suatu hari ada seorang yang datang ke tempat sahabatnya itu lalu memegang lapak kudanya. Imam Syafi’i lalu berkata, “Hai Rabi’, berilah orang ini empat dinar dan katakana saya sangat menyesal hanya dapat memberi sekian itu kepadanya.”

6)  Imam Ali bin Abi Thalib. Diceritakan, suatu ketika ia menangis. Kemudian sahabatnya bertanya, “Mengapa Tuan menangis?” Ali menjawab, “Sudah sejak seminggu ini aku tidak kedatangan tamu seorang pun. Aku takut kalau-kalau itu merupakan pertanda bahwa Allah akan menghinakan diriku.”

 

*) Disarikan dari Mau’idhatul Muslimin min Ihya’ ‘Ulumuddin karya Syaikh Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Ad Dimasyqi yang merupakan ringkasan dari Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali, terjemahan Moh. Abdai Rathomy.

 

Editor : Tauhid Wijaya
#ngaji jumat #ihya ulumuddin #imam al ghazali