Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Belanja karena Emosi? Kenali Emotional Spending sebelum Mengganggu Keuangan

Ayshaputri Raihana Azzahra • Jumat, 3 Juli 2026 | 12:00 WIB
ILUSTRASI Emotional spending bisa buat boros. (Magnific)
ILUSTRASI Emotional spending bisa buat boros. (Magnific)

MALANG, RADAR MALANG -  Keputusan membeli suatu barang tidak selalu didasarkan pada kebutuhan. Dalam banyak kasus, emosi justru menjadi faktor utama yang mendorong seseorang untuk berbelanja. Fenomena yang dikenal sebagai emotional spending ini semakin sering terjadi di tengah tekanan pekerjaan, gaya hidup serba cepat, serta kemudahan bertransaksi melalui platform digital.

Baca Juga: Mediasi Pertama, Karyawan RSI Unisma Minta Tunggakan Gaji Dilunasi dalam Enam Bulan

Rasa stres, bosan, sedih, bahkan keinginan untuk merayakan pencapaian sering kali menjadi alasan seseorang membuka aplikasi belanja. Aktivitas tersebut memang dapat memberikan rasa senang dalam waktu singkat karena memicu pelepasan hormon yang berkaitan dengan kepuasan. Namun, efek tersebut umumnya bersifat sementara dan tidak jarang diikuti rasa bersalah ketika menyadari besarnya pengeluaran.

Baca Juga: Masih Pemasangan Atap, Relokasi Tahap Dua di Pasar Gadang Belum Tuntas

Kemudahan pembayaran digital serta berbagai promo juga memperbesar peluang terjadinya emotional spending. Hanya dalam beberapa menit, transaksi dapat selesai tanpa memberikan banyak waktu untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.

Mengendalikan kebiasaan ini dimulai dengan mengenali pemicunya. Menunda keputusan membeli, membuat daftar kebutuhan, atau mengalihkan perhatian melalui aktivitas lain dapat membantu mengurangi pembelian impulsif. Cara sederhana tersebut terbukti lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan niat untuk berhemat.

Baca Juga: Arti Filosofi Bunga Teratai di Jersey Latihan Arema FC Musim 2026/2027

Pada akhirnya, menjaga kesehatan finansial tidak hanya bergantung pada besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan mengelola emosi ketika mengambil keputusan ekonomi. Semakin baik seseorang memahami perilaku konsumsinya, semakin besar pula peluang untuk membangun kebiasaan keuangan yang sehat dalam jangka panjang.

Editor : Aditya Novrian
#emotional spending #emosi #Belanja