Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Islam Menghendaki Umatnya Rajin Bekerja

Tauhid Wijaya • Jumat, 10 Juli 2026 | 04:15 WIB

 

DUA DIMENSI: Ilustrasi pedagang di pasar. Dalam Islam, bekerja bisa berdimensi keduniaan sekaligus keakhiratan. (GAMBAR AI)
DUA DIMENSI: Ilustrasi pedagang di pasar. Dalam Islam, bekerja bisa berdimensi keduniaan sekaligus keakhiratan. (GAMBAR AI)

 

RADAR MALANG- Siapa bilang bekerja di dunia tidak punya dimensi keakhiratan? Jika ada yang berpendapat demikian, bisa jadi belum pernah menyimak hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Thabrani ini.

Nabi bersabda demikian, “Janganlah kamu semua mengatakan sedemikian itu, sebab orang itu kalau keluarnya dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil maka ia telah berusaha fi sabilillah.”

Nabi melanjutkan, “Jika ia bekerja itu untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta kepada orang lain, itu pun fi sabilillah. Tetapi apabila ia bekerja karena untuk memamer-mamerkan apa yang dimiliki atau untuk bermegah-megahan maka itulah fi sabili al syaithan, mengikuti jalan setan.”

Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Ini Keutamaan Berderma dan 6 Contoh Kaum Salaf dalam Berderma, Rumah Pun Diberikan

Hadis itu berlatar belakang “rasan-rasan” para sahabat ketika mereka sedang duduk-duduk bersama Nabi. Saat itu terlihat seorang pemuda yang tubuhnya kuat dan sehat. Sepagi itu, pemuda tersebut telah bekerja dengan penuh semangat. 

Melihat hal itu, sebagian sahabat berkata, “Kasihan sekali pemuda ini. Andaikata kemudaan dan kekuatannya itu dipergunakan untuk sabilillah (berjuang di jalan Allah) alangkah baiknya.” Mendengar ucapan itu, Nabi Muhammad pun bersabda seperti di atas.

Demikianlah yang disampaikan hujjatul Islam Imam Abu Hamid Al Ghazali alias Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin. Bahwa bekerja, menurutnya, memiliki kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam.

Dalam Al Qur’an, banyak sekali ayat yang memerintahkan kita untuk bekerja. Seperti ayat 11 surat an Naba’ berikut: Waja’alnan nahaara ma’asyaa (Kami telah membuat waktu siang untuk mengusahakan suatu kehidupan). Menurut Al Ghazali, ayat di atas bisa dimaknai bahwa bekerja adalah suatu kenikmatan yang wajib diusahakan.

Ada pula surat Al A’raf ayat 10 berikut: Waja’alnaa lakum fiihaa ma’aayisy. Qaliilan maa tasykuruun (Kami telah menjadikan untukmu semua di dalam bumi itu sebagai lapangan untuk mengusahakan kehidupan. Tetapi sedikit sekali kamu yang bersyukur).

Al Ghazali mengatakan, ayat itu menunjukkan bahwa bekerja bukan sekadar kenikmatan. Tapi kenikmatan yang diperolah dari hasil bekerja juga harus disyukuri.

Begitu pula dengan surat Al Jum’ah ayat 10 berikut: Fantasyiruu fil ardli wabtaghuu min fadllillaah (Maka menyebarlah di bumi dan carilah rezeki dari keutamaan Allah).

Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Hidup Zuhud tapi Masih Suka Dipuji, Itu Namanya Tertipu

Nabi SAW bersabda yang artinya, “Sesungguhnya apabila seseorang di antara kamu semua mengambil tali lalu mencari kayu bakar dan memikulnya di atas punggung, itu lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang telah dikaruniai Allah dari keutamaan-Nya, kemudian meminta kepada kawannya itu, adakalanya diberi dan ada kalanya ditolak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bukan sekadar bekerja, Islam menghendaki umatnya bekerja dengan penuh kesungguhan. Dalam bahasa modern, profesional dan berdedikasi. Ini sesuai sabda Rasulullah SAW yang artinya, “Sebaik-baik pekerjaan adalah usahanya seorang pekerja yang dikerjakan sebaik-baiknya.” (HR Ahmad)

Al Ghazali memaknai “sebaik-baiknya” dalam hadis itu sebagai bekerja dengan meneliti betul hasil kerjanya, penuh tanggung jawab kalau ada kekurangan, serta menjauhi cara-cara curang, menipu, serta seenaknya dan serampangan. Wallahu A’lam bish shawab.

Editor : Tauhid Wijaya
#ngaji jumat #ihya ulumuddin #imam al ghazali #radarmalang