MALANG, RADAR MALANG – Kebiasaan memperbaiki barang yang rusak mulai kembali diminati di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Jika sebelumnya banyak orang memilih langsung membeli barang baru, kini semakin banyak yang mempertimbangkan untuk memperbaiki terlebih dahulu, terutama untuk barang elektronik, furnitur, hingga perlengkapan rumah tangga.
Fenomena yang dikenal sebagai repair culture ini berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menggunakan barang secara lebih bijak. Selain memperpanjang usia pakai, memperbaiki barang dinilai mampu mengurangi limbah sekaligus memberikan nilai lebih pada produk yang masih layak digunakan.
Media sosial turut berperan dalam mendorong kebiasaan tersebut. Berbagai konten yang membahas cara memperbaiki peralatan sederhana, merestorasi furnitur lama, hingga menjahit pakaian yang rusak semakin mudah ditemukan. Hal ini membuat masyarakat lebih percaya diri untuk merawat barang yang dimiliki.
Baca Juga: Nongkrong Gak Cuma Ngopi! 3 Kafe Interaktif di Malang yang Bikin Betah Berlama-lama
Tren ini juga turut memberi peluang bagi pelaku usaha jasa reparasi. Bengkel elektronik, penjahit, hingga pengrajin furnitur kembali mendapat perhatian karena keahlian mereka semakin dibutuhkan.
Masyarakat mulai memandang nilai sebuah barang tidak hanya dari kebaruannya, tetapi juga dari manfaat yang masih dapat diberikan. Memperbaiki sebelum membeli baru pun menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih berkelanjutan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi lokal.
Editor : Aditya Novrian