Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Repair Culture Kian Berkembang, Memperbaiki Barang Jadi Pilihan Sebelum Membeli Baru

Ayshaputri Raihana Azzahra • Rabu, 15 Juli 2026 | 06:00 WIB
ILUSTRASI Perempuan membuat dekorasi dengan menggunakan bahan sederhana. (Magnific)
ILUSTRASI Perempuan memperbaiki barang yang sudah rusak menjadi layak digunakan. (Magnific)

MALANG, RADAR MALANG – Kebiasaan memperbaiki barang yang rusak mulai kembali diminati di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. Jika sebelumnya banyak orang memilih langsung membeli barang baru, kini semakin banyak yang mempertimbangkan untuk memperbaiki terlebih dahulu, terutama untuk barang elektronik, furnitur, hingga perlengkapan rumah tangga.

Baca Juga: Kuliah di UIN Malang Bukan Cuma Belajar, Ini Fasilitas Kampus yang Dukung Akademik hingga Pengembangan Diri

Fenomena yang dikenal sebagai repair culture ini berkembang seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya menggunakan barang secara lebih bijak. Selain memperpanjang usia pakai, memperbaiki barang dinilai mampu mengurangi limbah sekaligus memberikan nilai lebih pada produk yang masih layak digunakan.

Media sosial turut berperan dalam mendorong kebiasaan tersebut. Berbagai konten yang membahas cara memperbaiki peralatan sederhana, merestorasi furnitur lama, hingga menjahit pakaian yang rusak semakin mudah ditemukan. Hal ini membuat masyarakat lebih percaya diri untuk merawat barang yang dimiliki.

Baca Juga: Nongkrong Gak Cuma Ngopi! 3 Kafe Interaktif di Malang yang Bikin Betah Berlama-lama

Tren ini juga turut memberi peluang bagi pelaku usaha jasa reparasi. Bengkel elektronik, penjahit, hingga pengrajin furnitur kembali mendapat perhatian karena keahlian mereka semakin dibutuhkan.

Masyarakat mulai memandang nilai sebuah barang tidak hanya dari kebaruannya, tetapi juga dari manfaat yang masih dapat diberikan. Memperbaiki sebelum membeli baru pun menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih berkelanjutan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi lokal.

Editor : Aditya Novrian
repair culture rusak memperbaiki Barang