RADAR MALANG- Mulutmu harimaumu. Ungkapan yang berisi pesan peringatan itu rasanya selalu relevan sepanjang zaman. Itu pula yang telah diingatkan oleh Imam Abu Hamid Al Ghazali lewat karyanya Ihya Ulumuddin sejak abad 11 Masehi (1496 M). Khususnya dalam bab Afatul Lisan alias Bahaya Lisan.
Menurut Imam Al Ghazali, bahaya lisan sangat besar sehingga ia harus menuliskannya dalam bab khusus. Tidak ada yang bisa menyelamatkan seseorang dari bahaya itu, kecuali dia harus berkata dengan baik.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Islam Menghendaki Umatnya Rajin Bekerja
Ada sejumlah hadis Rasulullah SAW yang dikutipnya untuk menguatkan pendapat itu. Di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abiddunya dan Kharaithi’, yang artinya seperti berikut:
“Belum dinamakan lurus keimanan seseorang sehingga lurus pula hatinya dan belum dinamakan lurus hatinya sehingga luruslah lisannya dan tidak akan dapat masuk surga seseorang yang tetangganya belum dapat merasa aman dari kejahatan-kejahatannya.”
Sahabat Muadz bin Jabal pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah kita juga akan diambil tindakan karena apa yang kita ucapkan, ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab, “Hai Ibnu Jabal, tidakkah manusia-manusia itu akan ditelungkupkan dengan hidungnya lebih dulu di neraka, melainkan karena apa yang dituai (dilakukan) oleh lidah-lidahnya?” (HR Hakim dan lain-lain).
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Umar Pun Benci Umatnya yang Malas
Menyadari akan bahayanya ucapan seperti disampaikan Nabi, Ibnu Mas’ud sampai harus berkata kepada lidahnya seperti ini, “Hai lidah, katakanlah yang baik, engkau pasti memperoleh kemanfaatan. Diamlah dari berkata buruk, engkau pasti selamat sebelum engkau menyesal.”
Hal itu juga ditegaskan oleh Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abiddunya. Nabi berkata, “Barang siapa menahan lisannya (dari kata-kata yang tidak baik) maka Allah menutup celanya dan barangsiapa mengekang kemarahannya maka Allah melindunginya dari siksa-Nya dan barang siapa menyatakan keuzurannya (mengakui kesalahan/kelemahan lalu memohon ampunan) kepada Allah maka Allah menerima pernyataan uzurnya itu.”
Nabi juga mengingatkan demikian, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata yang baik atau berdiam saja (kalau tidak dapat berkata baik).” (HR Bukhari dan Muslim)
Lalu, dalam riwayat Thabrani dan Ibnu Hibban, Nabi bersabda, “Simpanlah lisanmu, kecuali untuk berkata yang baik. Sebab, dengan demikian engkau dapat mengalahkan godaan setan.”
Dengan demikian jelaslah bahwa ucapan seseorang mencerminkan kualitas keimanannya kepada Allah. Apa yang keluar dari mulut mengandung konsekuensi-konsekuensi tersendiri bagi pemiliknya. Berakibat buruk jika yang keluar adalah ucapan-ucapan buruk. Sebaliknya, mendatangkan kebaikan jika yang keluar ucapan-ucapan baik.
Karena itu, menurut Al Ghazali, sebisa mungkin kita harus menjaganya agar yang keluar hanya ucapan-ucapan baik. Kalau pun tidak bisa, seperti pesan Nabi, lebih baik diam. Agar jangan sampai mulut ini mengeluarkan ucapan yang buruk. Wallahu A’lam.
*) Disarikan dari Bimbingan untuk Mencapai Tingkat Mukmin, Moh. Abdai Rathomy, terjemahan dari Mauidhatul Mu’minin karya Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Addimasyqi yang merupakan ringkasan dari Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali.
Editor : Tauhid Wijaya