Dalam video yang beredar di media sosial, sejumlah transpuan yang sedang berada di lokasi diduga mengalami kekerasan. Mereka terlihat dipukul, ditendang, hingga disiram cairan yang disebut sebagai air urine oleh sekelompok pemuda yang mengusir mereka.
Melalui Instagram Story pribadinya, Nadin mengaku prihatin sekaligus marah atas kejadian tersebut. Menurutnya, hilangnya video maupun akun media sosial yang mengunggahnya bukan berarti persoalan telah selesai atau kelompok yang menjadi sasaran sudah aman.
"Mereka (atau Instagram) menghapus unggahan itu bukan berarti keselamatan kelompok queer sudah terjamin. Kekerasan tetaplah kekerasan, tak peduli kamu berpihak kepada siapa." tulis Nadin.
Baca Juga: Wali Kota Malang Tegaskan Perangi Penyebaran Budaya LGBTQ di Kota Malang
Belakangan, akun Instagram yang mengatasnamakan "Bogor Bersih LGBT" diketahui kembali muncul setelah akun sebelumnya tidak lagi dapat diakses.
Selain Nadin, kecaman juga datang dari sejumlah warganet. Salah satunya akun X @sinheavnly yang mempertanyakan hilangnya nilai kemanusiaan di balik aksi tersebut.
Kasus ini memicu perbincangan luas di media sosial. Sebagian pengguna internet mengecam dugaan kekerasan terhadap transpuan tersebut, sementara sebagian lainnya menyatakan dukungan terhadap aksi yang mengatasnamakan "Bogor Bersih LGBT". Perdebatan ini kembali menyoroti pentingnya perlindungan hak asasi manusia bagi setiap warga negara, termasuk kelompok rentan, serta penolakan terhadap segala bentuk kekerasan.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber