JAKARTA, RADAR MALANG – Nama The Sounds Project kembali menjadi sorotan setelah muncul kontroversi tantangan hafalan Al-Qur’an berhadiah minuman keras di salah satu booth sponsor pada gelaran edisi kesembilannya. Di tengah persoalan yang kini masuk ke ranah hukum tersebut, The Sounds Project sebenarnya memiliki perjalanan panjang sebagai festival musik yang tumbuh dari acara mahasiswa hingga menjadi salah satu perhelatan musik besar di Indonesia.
The Sounds Project pertama kali digagas pada 2015 oleh mahasiswa Universitas Gunadarma. Festival Director The Sounds Project, Gerhana Banyubiru atau Gana, mengatakan festival tersebut pada awalnya hanya berupa acara musik sederhana dengan satu panggung.
"Dari awal kami masih kuliah, dengan segala keterbatasan, The Sounds Project hanya sebuah acara kecil dengan satu panggung," ujar Gana dalam konferensi pers di Jakarta, pertengahan Juli lalu.
Baca Juga: Kasus Challenge Hafalan Al-Qur'an Berhadiah Miras Melebar, 2 Orang Diamankan dan Pelaku Lain Diburu
Seiring waktu, konsep tersebut berkembang. Mulai 2023, The Sounds Project memperluas formatnya menjadi festival musik selama tiga hari. Jumlah panggung, musisi, program acara, hingga skala penonton terus bertambah setiap tahunnya.
Pada edisi kesembilan yang berlangsung pada 7-9 Agustus 2026 di Ecovention & Ecopark Ancol, Jakarta, The Sounds Project menghadirkan lebih dari 120 musisi lokal dan internasional. Festival tersebut mengusung tema "Beyond Memories" dengan menghadirkan musisi dari berbagai genre dan generasi
Kontroversi ini pada akhirnya memperlihatkan sisi lain dari perjalanan The Sounds Project. Festival yang tumbuh dari ruang mahasiswa dan berhasil membangun ekosistem musik berskala besar kini menghadapi tantangan yang berbeda: bagaimana memastikan seluruh aktivitas yang berlangsung di dalam festival tetap berada dalam pengawasan dan sejalan dengan standar penyelenggara.
Dengan skala yang semakin besar, The Sounds Project tidak lagi hanya berurusan dengan urusan panggung dan musik. Ada pula tanggung jawab terhadap sponsor, tenant, komunitas, penonton, serta berbagai aktivitas yang berlangsung di dalam area festival.
Karena itu, di balik kontroversi yang kini membayangi namanya, The Sounds Project juga menjadi gambaran bagaimana sebuah acara musik kampus dapat berkembang menjadi industri festival dengan ekosistem yang jauh lebih kompleks..
Nama-nama internasional seperti Neck Deep, JET, dan Nusantara Beat masuk dalam jajaran penampil. Sementara dari Indonesia terdapat Tulus, Raisa, Bernadya, Hindia, .Feast, Mahalini, Kunto Aji, hingga Reality Club.
Skala tersebut menunjukkan bagaimana The Sounds Project telah berubah dari acara mahasiswa menjadi sebuah ekosistem festival yang melibatkan banyak pihak, mulai dari musisi, promotor, sponsor, komunitas, hingga penonton.
Salah satu bagian dari perjalanan tersebut adalah Barasuara. Grup yang digawangi Iga Massardi dan kawan-kawan itu tercatat tampil dalam seluruh edisi The Sounds Project sejak awal penyelenggaraan. Konsistensi tersebut membuat Barasuara mendapat julukan sebagai "home band" festival.
Selain pertunjukan musik, The Sounds Project juga memiliki program yang melibatkan komunitas dan mahasiswa. Salah satunya Authenticators, yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus dalam rangkaian kegiatan sebelum hingga pelaksanaan festival.
Namun, semakin besar sebuah festival, semakin kompleks pula ekosistem yang harus dikelola. Sponsorship, tenant, program aktivasi, dan berbagai kegiatan pendukung menjadi bagian dari penyelenggaraan yang melibatkan banyak pihak.
Konteks inilah yang kemudian muncul dalam kontroversi terbaru The Sounds Project.
Tantangan hafalan Al-Qur’an dengan hadiah minuman keras berlangsung di salah satu booth sponsor pada festival tersebut. Video kegiatan itu kemudian menyebar di media sosial dan memicu kecaman dari masyarakat serta sejumlah organisasi Islam.
Pihak The Sounds Project telah menyatakan bahwa aktivitas tersebut berada di luar arahan dan persetujuan penyelenggara. Mereka juga mengecam penggunaan unsur agama sebagai bagian dari tantangan maupun promosi produk dan mengaku telah menegur pihak sponsor terkait kejadian tersebut.
Kasus tersebut kini telah bergeser dari persoalan di lingkungan festival menjadi perkara hukum. Polisi telah mengamankan dua orang yang diduga terlibat dan masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber