DERU knalpot motor bergema di sepanjang jalan lintas nasional Sumbawa. Puluhan motor gede (moge) kustom bergerak perlahan mengikuti kontur jalan yang berliku. Sebagian besar tampil dengan gaya klasik, didominasi aliran chopper dan bobber. Stang tinggi, garpu depan panjang, serta bodi yang mencolok membuat rombongan itu mudah dikenali dari kejauhan.
Rute mereka mengarah ke kawasan nol kilometer Kecamatan Sape, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di satu sisi jalan, tebing dan bentang pantai menjadi pemandangan. Di sisi lain, deretan motor terus melaju dalam kecepatan rendah. Bagi anggota Motorcycle Club (MC) asal Malang Stalen Zuiger, perjalanan semacam itu bukan hal baru.
Sumbawa menjadi destinasi National Run Tour kelima yang mereka gelar. Setiap tahun, rombongan tersebut memang memilih wilayah berbeda untuk dijelajahi. Sebelumnya, perjalanan mereka telah menyusuri sejumlah daerah di Sumatera, Jakarta, Flores, hingga Bali.
Ada dua alasan yang membuat agenda tersebut terus dipertahankan. Pertama, menjadi ruang bagi anggota untuk kembali berkumpul. Kesibukan masing-masing membuat pertemuan tidak selalu mudah dilakukan. Karena itu, touring tahunan dianggap seperti momentum untuk pulang.
”Ibaratnya kami kalau punya keluarga pasti kangen ingin pulang, jadi kami seperti melakukan mudik,” ungkap Meidiangga Setyawan, National President Stalen Zuiger.
Namun, perjalanan tersebut tidak hanya berhenti pada urusan berkumpul. National Run Tour sekaligus menjadi cara mereka mengenal Indonesia lebih dekat. Berpindah dari satu pulau ke pulau lain membuat anggota menemukan pengalaman berbeda.
Mulai makanan, bahasa, kebiasaan masyarakat, hingga karakter alam. Perbedaan tersebut justru menjadi daya tarik utama. Setiap perjalanan akhirnya meninggalkan cerita yang berbeda.
Selama berada di Sumbawa, anggota Stalen Zuiger menempuh jarak sekitar 1.656 kilometer dalam tujuh hari. Rute yang dilalui cukup beragam. Mereka tidak hanya menyusuri jalan raya, tetapi juga mendatangi sejumlah destinasi alam, termasuk air terjun dan kawasan Gunung Rinjani.
Perjalanan panjang itu tentu tidak selalu berlangsung mulus. Salah satu pengalaman yang paling membekas justru datang dari sesuatu yang tidak mereka duga. Saat melintas di Sumbawa, rombongan mendapati banyak sapi berkeliaran bebas. Hewan ternak tersebut terlihat di sejumlah ruas jalan maupun tanah lapang.
Situasi itu bahkan sempat membuat dua anggota mengalami crash. Sapi tiba-tiba melintas ketika rombongan sedang berkendara. Kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa touring lintas daerah membutuhkan konsentrasi ekstra, terutama ketika menghadapi kondisi jalan dan lingkungan yang berbeda.
Bagi Stalen Zuiger, perjalanan juga tidak melulu soal mengejar destinasi. Ada jeda yang sengaja diberikan agar anggota bisa menikmati perjalanan dengan caranya masing-masing. Salah satunya memancing.
”Setelah delapan jam perjalanan di motor pasti ada kegiatan yang dilakukan teman-teman,” terang pria yang akrab disapa El Padre tersebut.
Tradisi National Run Tour itu menjadi bagian dari perjalanan Stalen Zuiger yang kini telah berusia 11 tahun. Komunitas tersebut bermula dari 14 orang yang memiliki kegemaran serupa terhadap sepeda motor.
Nama Stalen Zuiger diambil dari bahasa Belanda yang berarti piston baja. Pemilihan nama tersebut tidak lepas dari sejarah Indonesia yang pernah berada di bawah kolonialisme Belanda. Bagi mereka, nama itu sekaligus menjadi pengingat bahwa jejak budaya Eropa tersebut masih dapat ditemukan dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Seiring waktu, komunitas itu berkembang. Penampilan para anggotanya yang khas, mulai pakaian, motor, hingga musik dan artwork design, menjadi identitas tersendiri. Pada 2018, mereka kemudian bertransformasi menjadi Motorcycle Club yang lebih terstruktur.
Perubahan itu dilakukan agar berbagai program dan aktivitas komunitas dapat berjalan lebih terarah. Mereka tidak hanya menjalankan aktivitas yang lazim dilakukan komunitas motor, tetapi juga mengadopsi sejumlah kultur Motorcycle Club di Amerika Serikat.
Salah satunya melalui pembentukan bisnis dan badan usaha. Stalen Zuiger kini memiliki sejumlah lini usaha seperti kafe De Bergstad, Inlander Burger, hingga retail pakaian Garasi Piston Baja.
”Kami juga ada jual beli motor chopper dan custom, bisnis ekspedisi maupun logistik lainnya,” ungkap Sekretaris National Stalen Zuiger Emir Muharram Syah.
Di tengah perkembangan tersebut, mereka tetap mempertahankan subkultur yang menjadi akar komunitas. Pakaian, musik, sepeda motor, hingga artwork design terus menjadi bagian dari identitas Stalen Zuiger. Referensinya banyak mengambil sejarah golden era Motorcycle Club Amerika Serikat pada 1960-an hingga 1980-an.
Sebelas tahun berjalan, Stalen Zuiger kini telah berkembang menjadi komunitas dengan lebih dari 100 anggota. Mereka tersebar dalam empat chapter, yakni Malang, Jakarta, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian