”Selain ada penampilan dari musisi-musisi yang merupakan Arek Malang, kami juga melakukan napak tilas yang dimulai dari Kajoetangan, dan berakhir di Balai Kota Malang,” kata Media officer Arema FC Sudarmaji.
Usai sesi yang berlangsung di Kajoetangan, Aremania bergerak melakukan corteo, atau konvoi dengan berjalan kaki. Di mulai dari Simpang Empat Raja Bally. Barisan depan tampak dipimpin jajaran Forkopimda Kota Malang dan Dirigen Aremania Yuli Sumpil. Massa lantas bergerak menuju beberapa lokasi. Seperti Jalan Kahuripan, Bundaran Tugu, hingga Patung Singa di depan stasiun untuk melakukan pengalungan syal Arema. Setelah itu, rombongan bergeser ke depan Balai Kota Malang. Di sana ada sesi pemotongan tumpeng yang dilakukan manajemen Arema FC bersama jajaran Forkopimda Kota Malang.
”Total terdapat 35 tumpeng yang disiapkan, sesuai dengan usia Arema. Acara itu dipimpin langsung Wali Kota Malang. Tepat sekitar pukul 01.00 WIB dini hari berakhir, dan tanpa konvoi,” imbuh Sudarmaji.
Apresiasi khusus datang dari Wali Kota Malang Sutiaji. Dia memuji kebersamaan Arema dan Aremanita. Sebab, seluruh pelaksanaan acara di Rabu malam (10/8) berlangsung lancar dan tertib.
”Semua sudah semakin dewasa mencintai bola. Bahkan sudah bergeser, tidak hanya sekadar dimaknai sebagai sepak bola, tetapi juga nilai-nilai kebangsaan. Saya berharap kebiasaan ini bisa berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” papar dia.
Sementara itu, kemarin siang (11/8) rangkaian perayaan hari ulang tahun ke-35 Arema bergeser ke Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Di sana, dilakukan peresmian terhadap ikon baru berupa patung singa bermahkota. Selain manajemen Arema FC dan Gajah Baru, jajaran Forkopimda Malang raya juga ambil bagian. Patung itu terletak di area pintu masuk utama stadion. Patung singa bermahkota itu diberi nama Tegar.
”Terkait nama ini sebelumnya ada yang usul singa satu jiwa, sampai kabar damai. Setelah diskusi akhirnya dipilih nama Tegar,” terang Iin, Aremania dari koordinator wilayah (Korwil) Dinoyo.
Pemberian nama itu menjadi perwujudan kalau patung tersebut akan menjadi sosok pengganti maskot singa bernama Tegar. Sebagai informasi, Tegar adalah singa hidup yang sempat dimiliki tim Arema. Dia kerap dihadirkan di laga Arema pada kompetisi musim 2003 sampai 2004 lalu.
Selain bisa dipanggil Tegar, patung itu juga bisa disebut dengan nama Patung Singa Tegar Jawara. Nama itu terkait dengan tema ulang tahun ke-35 Arema di tahun ini. Patung itu merupakan karya seniman asal Jogjakarta dan berasal dari corporate social responsibility (CSR) Gajah Baru. Berat karya seni itu mencapai 2,5 ton, dengan nilai pembuatan mencapai Rp 500 juta. Bupati Malang HM. Sanusi dalam sambutan menyebut bila pembuatan patung ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
”Proses lama karena rencananya sudah dua tahun lalu,” kata dia.
Ide untuk mendirikan patung itu digagas dua orang, yakni Usman dan Na’am Shobir. Berangkat dari itu, dia berharap patung itu bisa menjadi simbol positif untuk tim Singo Edan.
”Semoga ke depan Arema, pemainnya, dan suporternya menjadi yang terbaik,” tambah Sanusi.
Terpisah, Timbul Raharjo, pembuat patung singa bermahkota itu menyebut kalau proses pembuatannya memang cukup detail. Mulai dari bentuk, bahan, sampai konsep harus melalui beberapa tahapan diskusi.
”Begitu juga nilai dan filosofinya juga dipikirkan,” kata dia.
Sebab patung singa bermahkota itu sejak awal ingin dijadikan simbol harapan atau doa agar Arema bisa berprestasi. Seluruh proses pengerjaannya di Jogjakarta. Sebelum diresmikan, patung itu sudah ditata di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang sejak 30 Juli lalu. Peresmian patung singa tersebut berlangsung cukup meriah. Sebab, ada beberapa hiburan yang menjadi pengiringnya. Salah satunya ditampilkan band d’Kross. Sementara itu, seluruh jalannya prosesi peresmian dipimpin MC kondang Ovan Tobing. (gp/mel/fin/by) Editor : Mardi Sampurno