Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Warisan Religius Malang, Inilah Sejarah Masjid Tiban di Turen, Malang

A. Nugroho • Rabu, 16 Juli 2025 | 17:49 WIB
MENAKJUBKAN: Masjid Tiban di Turen, Kabupaten Malang memiliki sejarah yang unik dan menarik perhatian orang
MENAKJUBKAN: Masjid Tiban di Turen, Kabupaten Malang memiliki sejarah yang unik dan menarik perhatian orang

RADAR MALANG - Masjid Tiban yang berdiri megah di kawasan Turen, Kabupaten Malang, menjadi salah satu ikon keagamaan dan arsitektur yang menarik perhatian banyak orang. Masjid ini mencuri perhatian banyak orang karena ukurannya yang besar juga karena latar belakang pembangunannya yang menarik.

Masjid ini berada di dalam lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri 'Asali Fadlaailir Rahmah, atau yang sering disebut Ponpes Bi Ba’a Fadlrah. Pondok pesantren ini merupakan tempat yang didirikan oleh Romo Kiai Ahmad sejak puluhan tahun lalu. Bangunan masjid dan pondok ini awalnya berasal dari rumah milik Romo Kiai Ahmad yang sudah ada sejak tahun 1963. Rumah tersebut kemudian menjadi tempat berkumpul masyarakat sekitar untuk mengaji, hingga akhirnya berkembang menjadi pesantren secara resmi pada tahun 1974.

Sejak saat itu, tempat tinggal untuk para santri mulai dibangun secara swadaya. Para santri membangun dengan peralatan seadanya. Pada masa awal, bahan bangunan seperti batu bata merah masih direkatkan menggunakan tanah liat, dan dinding pun dihaluskan dengan cara tradisional yang sama. Proses pembangunan berlangsung sedikit demi sedikit, menyesuaikan dengan kemampuan tenaga dan bahan yang ada.

Perjalanan pembangunan pondok dan masjid ini juga tidak lepas dari tantangan administratif. Pada tahun 1994, pembangunan sempat terhambat karena belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Sementara itu, pesantren ini tidak dibangun berdasarkan rancangan arsitektur modern atau perencanaan teknis seperti umumnya, melainkan mengikuti hasil dari Salat Istikharah. Karena itulah, proses perizinan menjadi cukup rumit dan memakan waktu.

Namun, pembangunan tetap dilanjutkan. Pada masa krisis moneter tahun 1998, Romo Kiai Ahmad justru memilih terus membangun walaupun secara bertahap. Lambat laun, bangunan masjid bertambah tinggi dan akhirnya mulai tampak dari kejauhan. Sekitar tahun 2006, pembangunan mencapai lantai lima dan membuat masyarakat luar desa mulai menyadari keberadaan bangunan tersebut.

Sayangnya, sejak saat itu muncul cerita yang menyebut bahwa masjid ini dibangun secara ajaib dan dibantu oleh jin, karena dinilai muncul secara tiba-tiba. Padahal, masyarakat sekitar yang tinggal di Desa Sanankerto tahu betul bahwa pembangunan masjid dan pondok berlangsung selama puluhan tahun. Mereka menjadi saksi proses keluar masuk material bangunan, tenaga santri yang bekerja setiap hari, hingga bentuk masjid yang perlahan mulai terbentuk.

Puncaknya terjadi saat perayaan 17 Agustus 2006. Santri pondok pesantren tersebut mengibarkan bendera merah putih berukuran besar di puncak masjid. Tiang bendera dibuat setinggi 62 meter dengan ukuran bendera mencapai 20 x 30 meter. Aksi ini membuat banyak orang yang melintas dari luar daerah kaget dan penasaran dengan bangunan megah yang sebelumnya tidak terlihat jelas karena tertutup pepohonan dan posisi bangunan yang berada di dalam lingkungan pondok.

Masjid Tiban hingga kini tetap berdiri kokoh dan menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Meski sempat dikaitkan dengan kisah-kisah mistis, sejarah panjang pembangunan masjid ini justru memperlihatkan bahwa bangunan tersebut berdiri atas dasar ketekunan, gotong royong, dan keyakinan dari para pendirinya. Masjid ini juga menjadi simbol kekuatan spiritual dan ketulusan dalam membangun tempat ibadah yang dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan agama Islam.

Sebagai bagian dari warisan religius di Malang, Masjid Tiban tidak hanya menyimpan nilai arsitektur yang unik, tetapi juga mencerminkan semangat masyarakat dalam membangun tempat ibadah dan pusat pendidikan dengan cara-cara sederhana namun penuh makna. Bangunan ini menjadi bukti bahwa keyakinan dan kerja keras bisa mewujudkan sesuatu yang besar, meskipun dimulai dari hal-hal kecil dan terbatas.

(Alfiyatul Rohma)

Editor : A. Nugroho
#masjid tiban #wisata religi #malang #turen