Nasional Internasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Peristiwa Olahraga Wisata-Kuliner Ekonomi-Bisnis Opini Pendidikan Politik Sosok

Lingua Franca: Tumpes

Biyan Mudzaky Hanindito • 2026-03-28 09:14:06
”Kenek dititeni, ben riyoyo wes mari, dompet mesti tumpes,”
”Kenek dititeni, ben riyoyo wes mari, dompet mesti tumpes,”

”Kenek dititeni, ben riyoyo wes mari, dompet mesti tumpes,”

Tumpes, Istilah Jawa Khas Malangan yang Muncul setelah Era Kerajaan Mataram 

Istilah ini mulai jarang didengar di Kota Malang. Tumpes bermakna habis tak tersisa. Ada pula yang memaknainya sebagai hilangnya sesuatu. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Jawa-Indonesia, tumpes bermakna musnah, habis sama sekali, atau dibasmi sampai ke akar-akarnya. ”Bisa juga menggambarkan sesuatu yang tidak bisa tumbuh lagi. Atau, lenyapnya sesuatu yang sebelumnya sulit hilang,” kata Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono.

Dia menyebut bahwa tumpes merupakan Bahasa Jawa yang umum. Diperkirakan muncul pada periodisasi Bahasa Jawa Baru, atau setelah Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung.

Sejatinya, kata tersebut juga memiliki sambungan, hingga tercipta istilah tumpes kelor di masyarakat Jawa era dahulu. Maknanya, penghilangan atau pengguguran ilmu gaib dengan menggunakan daun kelor. Biasanya dilakukan pada jenazah yang memiliki suatu ilmu. 

Itu dilakukan untuk mempermudah kematian orang tersebut. Di sisi lain, terdapat konotasi negatif dalam kata tersebut. ”Banyaknya digunakan untuk menggambarkan orang yang ingin menghabisi nyawa orang lain. Utamanya karena dendam,” imbuh Dwi.

Dia menambahkan, ada istilah yang hampir serupa di dalam Bahasa Madura. Yaitu tampes. Maknanya sama, yakni habis total. Meski begitu, menggarisbawahi kalau kata tumpes bukan serapan dari Bahasa Madura. (biy/by)

Editor : A. Nugroho
#bahasa #daerah #malang