Nasional Internasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Peristiwa Olahraga Wisata-Kuliner Ekonomi-Bisnis Opini Pendidikan Politik Sosok

Lingua Franca: Nempil

Biyan Mudzaky Hanindito • 2026-03-29 10:02:08
”Luweh becik nempil timbange ngampil,” 
”Luweh becik nempil timbange ngampil,” 

”Luweh becik nempil timbange ngampil,” 

Nempil, Istilah Khas Malang yang Mulai Digunakan sejak Zaman Belanda 

Istilah ini bermakna membeli. Namun, dalam kuantitas atau jumlah yang sedikit. Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Dwi Cahyono menyebut, kata nempil tergolong sebagai Bahasa Jawa Baru. 

Diduga pertama kali muncul setelah era kerajaan Mataram. Dan, sudah dipakai warga bahkan saat masa kolonial Belanda. ”Itu kata dalam hal perdagangan, jadi pembelian dalam jumlah sangat sedikit,” terang Dwi. 

Pembelian kecil tersebut, dalam sejumlah referensi, bisa jadi seperempat kilogram atau bahkan hanya satu dan dua buah saja. Lawan kata nempil adalah kulak, alias pembelian dalam jumlah besar.

Penggunaan kata nempil lebih banyak disampaikan dalam keadaan tertentu saja. ”Biasanya kalau antara pembeli dan pedagang itu kenal dan memiliki kedekatan. Karena yang saya sering temui, orang nempil itu hendak membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dijual alias sudah dipesan,” imbuhnya.

Dari pengamatan Jawa Pos Radar Malang, daerah lain juga menggunakan istilah nempil. Contohnya di Kediri. Bedanya, makna kata nempil di sana sedikit mengalami pergeseran makna. Sebab, artinya yakni pinjam. 

Secara umum, kata nempil termasuk dalam Bahasa Jawa. Khusus di Malang, kata nempil juga sering dipakai sebagai kode untuk meminta sesuatu. Orang yang peka biasanya bakal memberi secara cuma-cuma sesuatu yang hendak di-tempil seseorang. (biy/by)

Editor : A. Nugroho
#bahasa #daerah #malang