MALANG KOTA, RADAR MALANG – Kabar meninggalnya Imam Muslimin atau Yai Mim pada Senin (13/4) mengingatkan kembali akan rekam jejaknya sebagai dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Selama aktif di lingkungan akademik, Yai Mim diketahui mengajar di program pascasarjana bidang Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Ia tercatat sebagai dosen tetap sejak tahun 1998.
Dalam bidang keilmuan, ia memiliki spesialisasi pada Bahasa Arab dan studi Islam. Meski demikian, ia juga kerap mengampu mata kuliah filsafat dan tasawuf.
Sebagai seorang pengajar, Yai Mim terkenal dengan gaya penyampaian yang dinamis dan reflektif. Ia sering menghubungkan ajaran tasawuf dengan isu-isu kehidupan modern, seperti tekanan sosial, krisis makna hidup, dan pentingnya mencapai keseimbangan dalam diri.
Baca Juga: Polisi Sebut Yai Mim Jatuh saat Hendak Diperiksa sebelum Dinyatakan Meninggal Dunia
Selain mengajar ia juga aktif mempublikasikan sejumlah karya ilmiah di jurnal internasional tentang filsafat Islam, termasuk disertasinya yang berjudul “Tasawuf dan Filsafat dalam Pemikiran Al-Ghazali”.
Di luar aktivitas kampus, Yai Mim juga mendirikan dua institusi pendidikan islam, yaitu Pondok Pesantren Al Adzkiya’ Nurus Shafa (Anshofa) 2007 dan Pesantren Bayt Al Qur’an Nurus Shafa (Baiqu Nusa). Kedua lembaga tersebut berfokus pada pembelajaran Al-Qur’an dan pemikiran Islam.
Selain publikasi ilmiah, Yai Mim juga menulis sejumlah buku yang mengangkat tema tasawuf. Di antaranya “Tasawuf Jawa: Jalan Menuju Hati yang Tenang” dan “Hati yang Menari: Tasawuf untuk Pemula”. Kedua buku tersebut menjadi sumber acuan yang banyak dicari oleh pelajar hingga santri.
Baca Juga: Breaking News: Yai Mim Tutup Usia pada Senin 13 April, UIN Malang Sampaikan Duka
Rekam jejak akademiknya tidak terlepas dari latar belakang pendidikan yang ia tempuh. Ia pernah menempuh pendidikan di MI Al Qodiriyah Blitas, Mts Ma’arif Bakung, dan Pesantren Terpadu Al Kamal Kunir Wonodadi, Blitar.
Kemampuanya dalam ilmu tasawuf berkembang pesat saat menempuh pendidikan di pesantren. Ia mendalami tasawuf melalui kitab-kitab klasik dan terlibat dalam diskusi dengan para kiai.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Sunan Ampel Surabaya, jurusan Bahasa Arab, dan lulus tahun 1991. Ia kemudian menmepuh pendidikan magister di Universitas Muhammadiyah Malang, pada tahun 2000. Gelar doktoralnya diraih dari UIN Sunan Ampel dan UIN Malang pada tahun 2012.
Kariernya sebagai dosen berakhir pada akhir September 2025 setelah ia mengundurkan diri dari institusi tempat ia mengajar. Sejak saat itu, ia tidak lagi tercatat aktif dalam kegiatan akademik.
Editor : Aditya Novrian