DAU, RADAR MALANG – Produksi kakao di Kabupaten Malang mulai dilirik pelaku usaha lokal untuk diolah menjadi produk bernilai tambah. Salah satunya dilakukan Finestco Kedai Seduh Kakao yang mampu mengolah hingga 200 kilogram biji kakao fermentasi setiap bulan.
UMKM yang berada di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau tersebut tak hanya menjual produk cokelat, tetapi juga mengenalkan cita rasa kakao premium asli kepada masyarakat.
Olah Kakao Fermentasi dari Sejumlah Daerah
Owner Finestco Kedai Seduh Kakao Agatha Virdhi Saputra mengatakan pihaknya mengolah sekitar 120 hingga 200 kilogram biji kakao fermentasi setiap bulan.
“Kami mengolah biji kakao fermentasi 120-200 kilogram per bulan. Biji fermentasi belum banyak diproduksi karena tidak banyak petani yang mau memfermentasi. Marketnya masih kecil,” ujarnya.
Baca Juga: Kabupaten Malang Jadi Raja Pisang Jawa Timur dengan Produksi Tembus 1,84 Juta Ton
Bahan baku kakao diperoleh dari sejumlah daerah seperti Sumbermanjing Wetan, Pacitan, Banyuwangi, Jembrana, hingga Berau.
Menurut Agatha, setiap daerah memiliki karakter rasa yang berbeda sehingga asal biji kakao dijadikan nama varian produk cokelat yang mereka jual.
Produksi Beragam Produk Cokelat Premium
Biji kakao fermentasi tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk turunan cokelat.
Mulai dari biji kakao fermentasi sangrai, kepingan kakao, pasta kakao, lemak kakao, bubuk kakao, cokelat couverture 67 persen dan 85 persen, balok kakao seduh, cokelat batang 68 persen, hingga rose kakao macadamia.
Baca Juga: Petani di Kabupaten Malang Kembangkan Bibit Unggul Durian
Agatha mulai mengembangkan usaha pengolahan kakao di Kabupaten Malang sejak 2021.
Saat itu, dia melihat potensi kebun kakao di Malang cukup besar, tetapi pengolahan pasca-panen masih minim karena sebagian besar kakao hanya dijual mentah.
Edukasi Petani hingga Kenalkan Fine Cocoa
Berangkat dari kondisi tersebut, Agatha mulai melakukan pendampingan terhadap kelompok tani kakao di wilayah Sumbermanjing Wetan.
Salah satu edukasi yang diberikan yakni proses fermentasi biji kakao agar kualitas dan nilai jual produk meningkat.
Baca Juga: Dari Penjara, Belasan Napi di Malang Jadi Petani
Seiring berkembangnya usaha, pada 2022 dia mendirikan kedai cokelat di Kecamatan Dau sebagai sarana edukasi sekaligus pemasaran produk.
Di lokasi tersebut, pengunjung juga bisa melihat langsung proses sangrai biji kakao.
“Saya mau mengenalkan fine cocoa kepada masyarakat agar mereka bisa merasakan cita rasa asli cokelat,” katanya.
Menurut dia, cokelat asli memiliki karakter rasa berbeda dibanding produk cokelat bubuk yang umum beredar di pasaran.
Baca Juga: Puluhan Hektare Sawah Hijau di Kabupaten Malang Berubah Jadi Beton
Dia menjelaskan, biji kakao yang telah digiling akan berubah menjadi pasta kakao. Pasta tersebut kemudian dipres untuk menghasilkan lemak kakao atau cocoa butter, sementara sisanya menjadi bubuk kakao.
“Kalau mau cita rasa cokelat yang asli, tidak bisa dari bubuk. Karena cokelat bubuk dihasilkan dari proses pemisahan lemak,” pungkasnya.
Editor : Aditya Novrian