Membaca buku nonfiksi tak lagi identik
dengan suasana sunyi perpustakaan. Di Kota Malang, komunitas Book at Cafe mengubah sudut kafe menjadi ruang belajar dan diskusi terbuka bagi anak muda.
INDAH MEI YUNITA
OTA MALANG, RADAR MALANG - SUARA mesin kopi masih terdengar dari balik bar ketika beberapa anak muda mulai membuka buku masing-masing di sudut Kafe Cerita Spectra, Jalan Kalpataru, Kota Malang, malam itu. Biasanya, pengunjung datang untuk bekerja dengan laptop, bercengkerama, atau sekadar menikmati kopi sore. Namun malam itu suasananya sedikit berbeda.
Di beberapa meja yang di susun memanjang, buku-buku nonfiksi tertata rapi. Sampulnya beragam. Ada buku tentang keuangan, pengembangan diri, kesehatan mental, filosofi, hingga parenting.
Sebagian peserta tampak tenggelam dalam bacaannya masing-masing.
Sebagian lain sesekali menandai halaman penting dengan sticky note kecil.
Mereka bukan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah. Melainkan peserta kegiatan rutin komunitas Book at Cafe. Komunitas membaca yang beberapa bulan terakhir mulai tumbuh di Kota Malang.
Baca Juga: Yuk Hidupkan Semangat Membaca! Jelajahi Deretan Toko Buku Terlengkap dan Terfavorit di Malang
Menjelang pukul 19.00, suasana yang semula tenang perlahan berubah menjadi forum diskusi kecil. Sekitar 20 peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Satu per satu mulai menceritakan isi buku yang mereka baca malam itu.
Ada yang berbagi cara mengelola emosi berdasar buku psikologi populer. Ada pula yang membahas bagaimana kebiasaan kecil bisa memengaruhi pola hidup seseorang. Obrolannya santai, tetapi tetap serius.
”Awalnya kami terbuka dengan semua jenis buku. Tapi waktu itu di Malang belum ada komunitas yang fokus mengumpulkan pembaca nonfiksi, jadi kami fokuskan ke nonfiksi,” ujar inisiator Book at Cafe Kelvinsius Julio di sela kegiatan.
Pria 30 tahun itu mengaku komunitas tersebut lahir dari kebiasaan pribadinya yang gemar belajar setiap hari Senin. Sejak 2023, Kelvin memiliki kebiasaan meliburkan diri dari rutinitas untuk pergi ke kafe, membaca buku, atau mengikuti workshop dan kelas pengembangan diri.
Ia terbiasa datang sendiri, duduk berjam-jam dengan buku di tangan sambil menikmati suasana kafe. Kebiasaan itu berlangsung konsisten selama hampir dua tahun.
Hingga pada 2025, ia bertemu seorang teman lama yang sama-sama gemar membaca buku dan berdiskusi. Dari obrolan sederhana itulah muncul ide membentuk komunitas membaca bersama.
”Kami merasa sayang kalau pengalaman membaca hanya selesai di diri sendiri. Padahal banyak hal yang bisa dibagikan lewat diskusi,” kata alumni Teknik Kimia Universitas Brawijaya tersebut.
Dengan koleksi buku pribadi yang cukup banyak, Kelvin mulai mengajak beberapa orang untuk membaca bersama di kafe. Awalnya komunitas tersebut berbasis di Kota Batu. Pesertanya pun masih sangat sedikit, hanya sekitar empat hingga delapan orang dalam satu pertemuan.
Namun perlahan jumlah peserta mulai bertambah. Setelah sekitar enam pekan berjalan, kegiatan mereka mulai berpindah-pindah kafe di Kota Malang.
Konsepnya sederhana, membaca bersama di ruang publik yang santai. ”Sesuai namanya, kami memang keliling ke kafe-kafe. Selain membaca dan diskusi, kami juga ingin membantu perputaran ekonomi kafe karena teman-teman pasti membeli produk di sana,” jelas Kelvin.
Meski beberapa kali hanya di hadiri sedikit peserta, komunitas tersebut tetap berjalan rutin. Hingga akhirnya memasuki pekan ke20, jumlah peserta meningkat cukup signifikan. Dalam satu pertemuan, peserta yang hadir bisa mencapai 17 hingga 25 orang.
Sebagian besar berasal dari kalangan pekerja muda usia 25 tahun ke atas. Meski begitu, mahasiswa juga mulai banyak yang ikut bergabung. Yang menarik, komunitas itu tidak memungut biaya keanggotaan.
Siapa saja yang tertarik membaca buku nonfiksi dan berdiskusi bisa datang langsung ke kegiatan mereka. Cukup hadir minimal tiga kali, peserta sudah dianggap menjadi bagian dari komunitas.
Saat ini, Book at Cafe memiliki sekitar 30 anggota aktif. Selain membawa buku pribadi, komunitas tersebut juga menyediakan koleksi buku yang bisa dibaca di tempat. Total ada sekitar 158 judul buku dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.
Mulai buku Building A Story Brand karya Donald Miller hingga Ikigai karya Hector Gracia dan Francesc Miralles. ”Koleksi buku kami dinamis. Awalnya didominasi bisnis dan pengembangan diri sesuai minat kami. Tapi sekarang mulai beragam, ada filosofi sampai politik,” ucap Kelvin.
Baginya, komunitas tersebut bukan hanya soal membaca buku. Lebih dari itu, Book at Cafe ingin menciptakan ruang aman bagi anak muda untuk belajar dan menyampaikan pendapat.
Sebab menurut Kelvin, banyak orang dewasa sebenarnya ingin belajar, tetapi tidak memiliki ruang diskusi yang nyaman. Karena itu, suasana komunitas dibuat santai tanpa kesan formal seperti kelas atau seminar.
Peserta bebas datang setelah pulang kerja, membaca dengan tenang, lalu berdiskusi tanpa takut salah pendapat. ”Kami memang ingin memberi ruang bagi orang dewasa untuk belajar sekaligus menyampaikan isi pikirannya terkait buku yang dibaca,” pungkasnya. (*/adn)
Editor : A. Nugroho