KEPANJEN, RADAR MALANG – Rencana pembangunan Jalan Tol Malang-Kepanjen mulai memunculkan spekulasi kenaikan harga tanah di sejumlah kawasan Kabupaten Malang. Meski demikian, pengembang menilai lonjakan harga lahan tidak akan terjadi secara merata karena tetap bergantung pada zonasi wilayah, akses, hingga potensi pengembangan kawasan.
Jalan tol sepanjang sekitar 30 kilometer itu diproyeksikan menjadi penghubung utama Malang Raya dengan kawasan selatan Kabupaten Malang. Infrastruktur tersebut juga dipandang sebagai langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah selatan yang selama ini dinilai tertinggal dibanding kawasan utara.
Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Korwil Malang Raya Donny Ganatha menilai pembangunan jalan tol memang berpotensi mendorong kenaikan harga lahan. Namun, kenaikan tersebut tidak otomatis terjadi di semua wilayah yang dilintasi proyek.
Baca Juga: Tol Malang–Kepanjen Diprediksi Dongkrak Harga Tanah, Kawasan Pakisaji hingga Kepanjen Mulai Dilirik
Menurutnya, kenaikan harga biasanya dipicu masuknya developer yang membeli lahan untuk pengembangan kawasan hunian maupun area komersial baru.
“Biasanya kenaikan dipicu adanya pembelian lahan oleh developer untuk perumahan, sehingga akan terbentuk kawasan hunian baru,” ujarnya kemarin (24/5).
Donny menjelaskan, daya beli masyarakat serta kondisi tata ruang menjadi faktor utama yang menentukan perkembangan harga tanah. Karena itu, kawasan yang memiliki potensi pengembangan lebih besar akan lebih cepat mengalami peningkatan nilai lahan.
Zonasi Hijau Dinilai Hambat Lonjakan Harga Tanah
Meski berpotensi memunculkan pusat pertumbuhan baru, Donny menyebut tidak semua lahan di sekitar proyek tol memiliki peluang kenaikan harga signifikan. Salah satu faktor penentunya adalah status zonasi wilayah.
Baca Juga: Proyek Tol Malang–Kepanjen Masuk Prioritas Nasional, Pembebasan Lahan Ditarget Mulai Tahun Depan
Apabila lahan masuk kawasan hijau atau area yang tidak diperuntukkan bagi permukiman maupun aktivitas komersial, maka potensi kenaikan harga dinilai relatif kecil.
Menurut dia, beberapa wilayah yang akan dilintasi tol seperti Kecamatan Gondanglegi dan Kepanjen masih didominasi zonasi hijau. Kondisi itu membuat investor maupun pengembang cenderung lebih berhati-hati membeli lahan.
“Berkaca dari Tol Malang-Pandaan saja, lahan yang dekat dengan tol juga tidak ada kenaikan harga. Kecuali lahan yang terkena tol, karena ada ganti untung dari pihak tol,” kata Donny.
Kepanjen Berpotensi Jadi Simpul Pertumbuhan Baru Kabupaten Malang
Di sisi lain, kalangan akademisi menilai keberadaan Jalan Tol Malang-Kepanjen bisa menjadi momentum penting bagi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang, terutama di wilayah selatan.
Baca Juga: Tol Malang–Kepanjen Bisa Pangkas Waktu Tempuh Jadi 18 Menit, Ini Hitungan Matematisnya
Peneliti Senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso SE ME, menyebut Kecamatan Kepanjen berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru karena memiliki posisi strategis sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Malang.
Selain itu, pengembangan fasilitas pendidikan juga mulai tumbuh di wilayah tersebut, termasuk pembangunan kampus UB di Kepanjen.
“Terlebih Kecamatan Kepanjen juga menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Malang yang saat ini sedang mengembangkan fasilitas pendidikan. Salah satunya dengan pembangunan UB di Kepanjen,” ujarnya.
Joko menilai peningkatan aksesibilitas melalui jalan tol akan memperkuat daya tarik investasi di kawasan tersebut. Dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan sektor properti, tetapi juga sektor lain seperti perdagangan dan jasa.
Pariwisata dan Pertanian Jadi Pengungkit Ekonomi Malang Selatan
Menurut Joko, potensi besar sektor pariwisata dan pertanian di Malang selatan dapat menjadi motor penggerak ekonomi apabila didukung konektivitas jalan tol yang memadai.
“Dengan potensi pariwisata dan sektor pertanian yang besar di wilayah Malang selatan, keberadaan Jalan Tol Malang-Kepanjen ini akan menjadi pengungkit untuk akselerasi perekonomian,” katanya Jumat (8/5) lalu.
Ia menyebut sektor pariwisata berpotensi menjadi lokomotif utama pertumbuhan ekonomi wilayah selatan. Pertumbuhan tersebut nantinya diperkirakan ikut mendorong perkembangan UMKM, perdagangan, hingga industri pengolahan hasil pertanian.
Tidak hanya itu, pembangunan tol juga dinilai membuka peluang munculnya kawasan industri baru di Malang selatan. Jika terealisasi, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang diperkirakan bisa menembus lebih dari enam persen.
Tol Malang-Kepanjen Akan Terhubung dengan Jalur Lintas Selatan
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang Khairul Isnaidi Kusuma menyebut Jalan Tol Malang-Kepanjen nantinya akan terkoneksi dengan Jalur Lintas Selatan (JLS).
Menurut dia, konektivitas tersebut menjadi bagian penting untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antara wilayah selatan dan utara Jawa Timur.
“JLS ini memang dihidupkan supaya seperti jalur pantura. Sehingga disparitas pertumbuhan ekonomi antara selatan dan utara bisa seimbang, tidak terlalu jauh,” ujar Khairul.
Baca Juga: Update Realisasi Pembangunan Tol Malang-Kepanjen: Masih Butuh Investor agar Cepat Terlaksana
Saat ini, proyek Jalan Tol Malang-Kepanjen masih berada pada tahap review feasibility study (FS) atau studi kelayakan dan basic design. Proses tersebut telah memasuki tahap lelang oleh Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum RI.