KEPANJEN, RADAR MALANG – Status Gunung Kelud memang masih aman, tetapi masyarakat di wilayah rawan bencana diminta tidak lengah. BPBD Kabupaten Malang menegaskan kesiapsiagaan harus terus dibangun karena aktivitas gunung berapi dapat berubah sewaktu-waktu dan dampaknya pernah dirasakan wilayah Malang bagian barat.
Pengalaman erupsi Gunung Kelud pada 2014 menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah Kabupaten Malang. Saat itu, kawasan Ngantang, Pujon, hingga Kasembon mengalami dampak cukup parah meski sebelumnya erupsi Kelud lebih banyak memengaruhi wilayah Blitar dan Kediri.
Erupsi 2014 Jadi Pelajaran Penting
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang Purwoto mengatakan, penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara mendadak ketika erupsi terjadi. Seluruh skenario harus dipersiapkan sejak dini agar respons di lapangan berjalan cepat dan terarah.
Baca Juga: Ini Alasan Pemerintah Menggelar Simulasi Antisipasi Erupsi Gunung Kelud Masuk Kabupaten Malang
"Dulu sejarah erupsi Kelud lebih banyak berdampak ke Blitar dan Kediri. Tetapi pada 2014, Malang bagian barat justru ikut terdampak cukup parah," ujarnya.
Menurut Purwoto, wilayah Ngantang, Pujon, dan Kasembon menjadi daerah yang paling merasakan dampak karena lokasinya berdekatan dengan Gunung Kelud serta berada di jalur bukaan kawah dan arah angin saat erupsi.
BPBD bahkan sempat mendirikan posko lapangan di Kecamatan Ngantang. Namun, kondisi di lokasi dinilai tidak memungkinkan sehingga posko dipindahkan ke Kecamatan Pujon yang lebih aman.
"Waktu awal kejadian kami sempat mendirikan posko lapangan di Ngantang, tetapi akhirnya dipindahkan ke Pujon karena kondisinya lebih aman," jelasnya.
Mitigasi Terus Diperkuat
Purwoto menambahkan, pengalaman tersebut membuat masyarakat di kawasan rawan meminta pelatihan kebencanaan dilakukan secara berkala. Menurutnya, bencana tidak bisa diprediksi, tetapi risiko dapat diminimalkan melalui kesiapan seluruh pihak.
Baca Juga: Tiga Jalur Pendakian Gunung Kelud yang Bisa Diakses dari Malang
Karena itu, BPBD Kabupaten Malang terus menyusun sekaligus menguji rencana kontinjensi penanganan erupsi Gunung Kelud. Tahapan dimulai dari penyusunan skenario melalui table top exercise, dilanjutkan gladi posko untuk menguji koordinasi antarinstansi.
Tahap berikutnya adalah gladi lapang yang digelar di kawasan Selorejo pada 8 Juli 2026. Simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh prosedur penanganan bencana dapat berjalan efektif apabila sewaktu-waktu Gunung Kelud mengalami peningkatan aktivitas.
Purwoto menegaskan, kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana. Karena itu, masyarakat di kawasan rawan diimbau tetap mengikuti arahan pemerintah dan aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan mitigasi yang diselenggarakan.
Editor : Aditya Novrian