DI ANTARA deretan ruko dan ramainya lalu lintas Jalan Raya Malang–Tumpang, nyaris tak ada yang menyangka kawasan itu pernah menjadi salah satu titik penting jalur trem peninggalan kolonial. Bangunan tua bekas Stasiun Pakis masih bertahan.
Dindingnya tetap kokoh, meski kini berubah fungsi menjadi toko kelontong. Namun, tak jauh dari sana, satu perhentian lain yang dahulu menyandang nama serupa justru menghilang tanpa bekas.
Namanya Halte Pakis II.Tak ada papan penanda. Tak ada bangunan. Bahkan sebagian besar warga sekitar pun tak pernah mendengar bahwa wilayah mereka dahulu memiliki dua perhentian trem dengan nama yang sama.
Padahal, dalam peta jaringan trem milik Malang Stoomtram Maatschappij (MS), perusahaan trem uap swasta Belanda, keduanya tercatat jelas. Jalur Blimbing–Tumpang sepanjang 16,675 kilometer yang dibuka pada 27 April 1901 itu memiliki sepuluh titik pemberhentian. Setelah Blimbing, trem singgah di Wendit, Bugis, Bunut, Stasiun Pakis I, Halte Pakis II, Pasir, Cokro, Jeru, lalu berakhir di Tumpang.
Penamaan dua perhentian di wilayah yang sama menjadi keunikan tersendiri. Lazimnya, stasiun maupun halte mengikuti nama desa atau kawasan yang dilintasi. Di Pakis, MS tidak membuat nama baru. Mereka hanya membedakannya dengan angka Romawi, Pakis I dan Pakis II.
Kini, yang masih dapat dikenali hanya Pakis I. Bangunannya berdiri di sisi barat Pasar Pakis, tepat di tepi jalan raya. Di belakang bekas stasiun itu masih terdapat rumah dinas kepala stasiun yang kini ditempati warga. Bahkan dua gang di sebelah barat bangunan masih menggunakan nama Gang PJKA, seolah menjadi pengingat bahwa rel pernah membelah kawasan tersebut.
Lalu, di mana Pakis II?Data Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) milik Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) tahun 1965 mencatat Stasiun Pakis I berada di Kilometer 8+650 jalur cabang Blimbing–Tumpang. Sementara Pakis II berada di Kilometer 9+485. Artinya, keduanya hanya berjarak sekitar satu kilometer.
Penelusuran Jawa Pos Radar Malang menyusuri ruas jalan itu tidak menemukan bekas halte sebagaimana tercatat dalam arsip. Di sepanjang jalur, hanya tampak beberapa bidang tanah dengan papan aset PT Kereta Api Indonesia. Sebuah pos jaga tua di wilayah Pakisjajar kini berubah menjadi warung kecil.
“Di belakang ini hanya tanah PJKA. Kalau stasiunnya orang-orang sini tahunya yang dekat Pasar Pakis itu,” ujar Ribut Riana, 56, pemilik warung.
Cerita tentang Pakis II justru lebih banyak hidup di kalangan pemerhati sejarah perkeretaapian. Salah satunya Endiarto Wijaya. Menurut dia, jarak kedua perhentian kemungkinan tidak sejauh yang tercatat dalam dokumen Gapeka.
Ia menduga Halte Pakis II berada di depan Pasar Pakis. Dugaan itu muncul karena masih ditemukan sisa struktur peron dari susunan bata dengan permukaan makadam. Keterangan serupa juga muncul dalam peta topografi tahun 1930 yang menandai keberadaan halte di kawasan tersebut. Ada pula pendapat lain yang menyebut lokasinya berada di wilayah Pakisjajar, tepat di seberang Rumah Makan Bakso Kraton.
Perbedaan tafsir itu sulit dipastikan. Sebab, jauh sebelum jalur Blimbing–Tumpang resmi ditutup pada 1968, sebagian besar halte di sepanjang lintasan telah lebih dulu dibongkar. Tidak seperti bangunan stasiun yang terbuat dari bata, tujuh halte di jalur tersebut sebagian besar berbahan kayu. Yang tersisa hanyalah struktur peron sederhana yang lambat laun tertutup pembangunan.
Meski berbeda ukuran, fungsi Pakis I dan Pakis II saling melengkapi. Stasiun Pakis I memiliki gudang penyimpanan sehingga menjadi titik bongkar muat hasil bumi. Beras, singkong, hingga buah-buahan dari kawasan Pakis dikirim melalui jalur trem menuju Kota Malang. Sementara Pakis II diduga lebih banyak melayani penumpang, terutama pedagang yang hendak berjualan di Pasar Pakis.
“Kemungkinan Pakis II itu lebih banyak untuk penumpang. Sementara Stasiun Pakis I memiliki gudang penyimpanan,” kata Endiarto.
Hari ini, trem itu telah lama hilang. Relnya telah dicabut, halte-haltenya menghilang, dan sebagian jejaknya tertelan permukiman. Yang tersisa hanyalah sebuah bangunan tua, papan aset kereta api, serta cerita tentang satu halte yang namanya masih tercatat di peta, tetapi jejak fisiknya seolah lenyap ditelan waktu.(*/adn)
Editor : Aditya Novrian