Gempa di Manggarai, NTT, tidak hanya merusak bangunan. Aktivitas warga ikut berubah termasuk cara mereka mendapatkan pelayanan medis. Kondisi tersebut mendorong tim gabungan RSUB dan RSSA Malang membangun layanan darurat hingga mendatangi penyintas di pengungsian.
KOTA MALANG, RADAR MALANG - TENDA-TENDA yang berdiri di depan rumah menjadi pemandangan yang paling sering ditemui tim medis dari Malang selama berada di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di bawahnya, warga tidur dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Rumah yang masih berdiri justru lebih sering dibiarkan kosong karena rasa aman belum sepenuhnya kembali.
Situasi tersebut membuat pelayanan kesehatan harus dilakukan dengan cara berbeda.
Baca Juga: Kapolresta Malang Kota Salurkan Bantuan untuk Mahasiswa NTT Terdampak Gempa
Tim gabungan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) dan RSUD Dr Saiful Anwar Malang (RSSA) datang membawa dokter spesialis ortopedi, bedah, anestesi, anak, penyakit dalam, emergency medicine, perawat, serta mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan UB.
Koordinator Tim Respons Bencana NTT Universitas Brawijaya Dr dr Sri Soenarti SpPD KGer menceritakan kerusakan RSUD Ruteng membuat sebagian pelayanan harus dilakukan menggunakan tenda. Karena itu, tim dari Malang tidak hanya menangani pasien, tetapi ikut membantu membangun sistem rumah sakit lapangan di sekitar Bandara Ruteng dan memperkuat pelayanan di sejumlah puskesmas terdampak.
Tim assessmen lebih dulu tiba pada 19 Agustus. Dua dokter emergency medicine dan seorang mahasiswa S2 Fakultas Ilmu Kesehatan UB melakukan pemetaan awal. Mahasiswa tersebut merupakan warga asli Ruteng. Rumahnya turut terdampak gempa sehingga dia juga menjadi penyintas. Namun, dia tetap membantu memetakan kebutuhan sebelum tim utama tiba pada 22 Agustus dengan tambahan sekitar 20 personel.
Baca Juga: Pulihkan Senyum dan Keceriaan Anak-Anak Pascagempa NTT, Gubernur Khofifah Dorong Trauma Healing
Mereka tidak langsung mengejar jumlah pasien. Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, tim terlebih dahulu membantu membentuk Health Emergency Operational Center (HEOC). Pemetaan kebutuhan dilakukan di rumah sakit, puskesmas, dan lokasi pengungsian sekaligus memperkuat koordinasi dengan relawan lain.
Akses menjadi salah satu persoalan utama. Sebagian penyintas kesulitan mendatangi fasilitas kesehatan karena jarak, keterbatasan transportasi, serta kondisi wilayah Manggarai yang berbukit dan berliku.
”Kami pahami sehingga kami harus menjemput bola untuk mengedukasi saudara saudara kita di rumah mereka masing-masing atau di tempat pengungsian,” ujar Sri.
Perjalanan mendatangi warga membuat Sri menemukan pemandangan yang membekas. Hampir sepanjang jalan, tenda terlihat berdiri di depan rumah warga. Tenda itu menjadi tempat tidur sekaligus ruang menjalankan aktivitas sehari-hari.
”Bagaimanapun mereka tetap bertahan di dalam rumah mereka yang mungkin adalah satu-satunya harta mereka yang berharga untuk ditinggali,” katanya.
Tenda kemudian menjadi bagian dari keseharian warga. Siang hari terasa panas, sedangkan malam suhu Ruteng bisa turun hingga sekitar 12 derajat Celsius. Privasi terbatas dan ketidakpastian kapan bisa kembali ke rumah menambah beban penyintas.
Karena itu, Sri menilai pelayanan kesehatan tidak cukup hanya memberikan obat. Edukasi, doa, dan pendampingan menjadi bagian dari pelayanan. Bantuan sederhana seperti handuk, sarung, dan selimut turut diberikan untuk membantu warga menghadapi malam.
Tenaga kesehatan lokal juga mendapat perhatian. Mereka tetap bekerja meski sebagian ikut terdampak gempa dan mengalami kelelahan.
”Melihat nakes yang kelelahan mereka bisa tersenyum menerima kami itu juga bagi kami sesuatu yang alhamdulillah, ternyata kami masih bermanfaat, kami masih diterima,” tutur Sri.
Dari Malang, tim membawa peralatan medis untuk operasi dan obat-obatan. UB juga menyiapkan satu motor trail, satu mobil Hilux, dan satu ambulans untuk mendukung mobilitas menuju wilayah dengan akses sulit.
Tim selanjutnya menyiap kan psychological first aid atau dukungan psikososial bagi penyintas. Kebutuhan air minum layak di rumah sakit lapangan juga menjadi perhatian.
Bagi Sri, beban warga di daerah bencana jauh lebih kompleks. Penyintas tidak hanya menghadapi luka fisik, tetapi juga kehilangan tempat tinggal, rasa aman, harta benda, dan ketidakpastian masa depan.
”Pasien yang di daerah bencana itu double capeknya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat Sri menilai penanganan bencana tidak selesai ketika fase darurat berakhir. Masyarakat perlu dibekali kemampuan menghadapi bencana, sementara pemerintah perlu memperkuat pemetaan, koordinasi, pelayanan medis, logistik, air bersih, hunian sementara, hingga pencarian dan penyelamatan.
”Koordinasi yang cepat dan mereka hadir untuk rakyat itu memudahkan kami semua relawan yang datang ke daerah bencana untuk sigap dan tahu kami harus berbuat apa dan di mana,” katanya.
Bagi tim dari Malang, perjalanan ke Manggarai bukan sekadar memberikan pelayanan medis. Mereka hadir untuk menguatkan sistem kesehatan sekaligus menemani warga dan tenaga kesehatan lokal melewati masa sulit setelah gempa. (*/adn)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang