MALANG KOTA, RADAR MALANG - DPD PDI Perjuangan Jawa Timur mendorong anak muda menyampaikan kritik dengan cara baru. Yaitu melalui seni stand up comedy. Langkah konkretnya dengan menggulirkan kompetisi Berani Komedi di berbagai kota di Jawa Timur.
Kota Malang menjadi lokasi pertama penyelenggaraan event tersebut. Digelar pada malam, kemarin. Selain menjadi wadah untuk menyampaikan kritik sosial yang efektif. Event ini sekaligus membuka ruang bagi lahirnya komika baru di industri kreatif.
Wakil Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Eri Cahyadi mengatakan, komedi dapat menjadi media untuk menyampaikan kritik tanpa memicu ketegangan. Pesan yang dikemas melalui humor dinilai lebih mudah diterima masyarakat. Sekaligus menjadi alternatif di tengah maraknya penyampaian pendapat yang berpotensi memecah belah persatuan.
"Politik itu tidak harus selalu serius, tetapi bagaimana politik bisa tersampaikan kepada anak-anak muda dengan kreasi dan kemampuan mereka," ucap Eri. Menurut dia, pendekatan komedi dapat mempererat hubungan antara masyarakat dan pihak yang dikritik. Melalui humor, kritik diharapkan tidak sekadar menjadi bentuk protes.
Tetapi juga mendorong kesadaran untuk melakukan perbaikan. Tidak terkecuali kritik bagi PDI Perjuangan. Dia mencontohkan, salah satu peserta menyindir gaya ‘menyeruduk’ yang merujuk pada kejadian viral yang dialami oleh kader PDI Perjuangan di Malang.
Dengan pendekatan yang humoris tersebut, pihak yang dikritik bisa menyadari kesalahannya tanpa merasa diserang secara langsung. "Kadang kalau kita ingin mengingatkan orang bahwa dia salah, justru akhirnya bisa kacau. Tetapi kalau dengan senyum, orang akan sadar sendiri," terang Wali Kota Surabaya itu.
Wakil Bidang Politik DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, I Made Riandiana Kartika menambahkan antusiasme masyarakat terhadap penyelenggaraan kompetisi ini sangat besar. Kota Malang dipilih sebagai titik awal penyelenggaraan yang mencakup wilayah Malang Raya, Pasuruan Raya, dan Probolinggo Raya.
”Kami tidak terlibat untuk mengatur siapa pesertanya dan materinya. Kami hanya ajak mereka untuk mengkritik kami dengan catatan jangan SARA,” tandas Made.
Editor : Andika Satria Perdana