Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

1 Ton Keripik Tempe Sanan Terpaksa Dimusnahkan, Begini Penjelasannya

Ahmad Yani • Minggu, 3 Januari 2021 | 18:22 WIB
Usaha rumahan produksi tempe di kawasan Sentra Keripik dan Tempe Sanan. Relaksasi kredit diprioritaskan untuk membantu UKM yang terdampak pandemi. (Darmono/Radar Malang)
Usaha rumahan produksi tempe di kawasan Sentra Keripik dan Tempe Sanan. Relaksasi kredit diprioritaskan untuk membantu UKM yang terdampak pandemi. (Darmono/Radar Malang)
MALANG KOTA – Tahun 2020 ini menjadi tahun suram bagi banyak orang, tak terkecuali di Kampung Sanan. Satu tahun berlalu, roda perekonomian sentra industri tempe dan keripik tempe ini seret hingga membuat sebagian pemilik usaha merugi.

Bagaimana tidak, laju perekonomian mereka bergantung pada jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana. Tidak hanya sekadar berkunjung, biasanya para wisatawan datang berkelompok untuk tur edukasi proses pengolahan kedelai menjadi keripik tempe dan turunannya.

Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua Paguyuban Sentra Keripik dan Tempe Sanan Ivan Kuncoro. ”Perajin masih berusaha tetap produksi, hanya produksinya dikurangi,” terangnya saat dihubungi wartawan koran ini. Menurut dia, rerata kebutuhan kedelai per harinya mencapai 40 ton. Tapi beberapa waktu terakhir ini berkurang menjadi sekitar 30 ton per harinya.
Apalagi ditambah dengan kenaikan harga kedelai yang cukup mencekik produsen. ”Normalnya harganya kisaran Rp 6 ribu sampai Rp 7 ribu per kilo kedelai, sekarang sampai Rp 9 ribu bahkan lebih,” terangnya. Hal ini mengakibatkan beberapa produsen keripik tempe terpaksa gulung tikar. Ada sekitar 7 produsen keripik tempe yang berhenti berproduksi.

Lebih rinci, Tour Guide Kampung Wisata Sanan Trinil Sriwahyuni menuturkan ,sejak bulan April sampai Agustus sama sekali tidak ada kunjungan wisatawan. ”Ada sebenarnya (beberapa waktu terakhir), sudah registrasi tinggal berangkat. Terus mendadak ada surat edaran (SE) wali kota, dibatalkan akhirnya,” terang Tri–sapaannya. Perempuan yang aktif berorganisasi di Pemuda Pancasila ini mengatakan, sebenarnya pada 3 bulan terakhir ini ada sekitar 15 rombongan yang berencana tur ke Kampung Sanan.

Jika ditotal ada 700-an orang yang bakal berkunjung untuk berwisata edukasi di sana. Sayangnya, setelah SE Wali Kota No 34 Tahun 2020 tentang pelaksanaan protokol kesehatan perjalanan wisatawan atau pendatang dari luar kota muncul, maka seluruh rencana kunjungan tersebut dibatalkan. Di mana dalam SE wali kota tersebut mewajibkan bagi wisatawan yang berkunjung ke Malang melakukan rapid test antigen. ”Di antaranya itu ada dari Universitas Walisongo Sidoarjo ada 60 orang, dari Mojokerto ada 120 orang, dan instansi-instansi pemerintahan,” sambungnya.

Sementara saat sebelum pandemi, pihaknya bisa menerima ada 2-3 kunjungan dalam satu minggu. Sehingga dalam rentang 1 bulan kurang lebih ada seribuan wisatawan yang datang berkunjung.

Efek dari menurunnya jumlah wisatawan ke sentra Wisata Sanan ini mengakibatkan banyak perajin keripik tempe mengalami kerugian. Tidak sedikit outlet-outlet di tempat wisata misal di Kota Batu terpaksa mengembalikan produknya. Bahkan yang terbaru, salah satu sentra UMKM di Kalimantan mengembalikan 1 kuintal keripik tempe. Karena kedaluwarsanya hanya 3 bulan masa simpan, setelah itu rasanya sudah berubah. ”Akhirnya banyak yang dibuang dan dibakar, ada itu 10 kuintal atau setara 1 ton lebih keripik tempe dengan estimasi kerugian bisa mencapai puluhan juta rupiah lebih,” terangnya.

Pewarta: Intan Refa Editor : Ahmad Yani
#kripik #harga kedelai naik #UKM merana #RMO #sanan #sentra tempe #tempe