Hal tersebut disampaikan Rektor UIN Maliki Malang Prof Dr Abdul Harris MAg setelah mengikrarkan salah seorang muallaf kemarin (1/2). Ia menyatakan, kerjasama dengan MCI ini merupakan kerja kemanusiaan. "Bentuk kita dengan menolong sesama manusia, atau dalam hal ini kita membantu melayani kemauan mereka yang ingin masuk Islam," terangnya.
Selain itu, Prof Harris juga menyatakan saat ini UIN Maliki Malang juga menjadi pembina MCI Malang. Apalagi pengurus dan pembimbing MCI ternyata didominasi oleh dosen dan karyawan UIN Maliki Malang. "Sebelum mengikrarkan, saya tadi bertanya dengan Riki (muallaf yang diikrarkan) keinginan masuk Islam atas kemauan siapa? Ternyata kemauannya sendiri. Maka setelah ini, dibantu teman-teman MCI, Riki harus belajar lebih dalam tentang apa dan bagaimana seorang muslim itu. Pun dengan teman-teman MCI harus proaktif, memantau membimbing supaya muallaf beragama dengan tepat," ungkap Prof Harris usai mengikrarkan Riki.
Novan Kristianto, salah seorang pengurus MCI Malang menerangkan, lembaganya sudah eksis sejak empat tahun lalu. Dimana sebelum dibina oleh UIN, MCI Malang melakukan ikrar muallaf di masjid-masjid Malang Raya. Prosedurnya juga sangat mudah, calon muallaf cukup mengirim pesan baik melalui website atau instagram lalu akan direspon oleh pengurus MCI Malang. "Menurut data ada 40 muallaf yang sudah diikrarkan melalui MCI Malang. Biasanya sebelum sampai tahap ikrar, calon muallaf melakukan sesi konsultasi hingga yakin dulu. Baru kemudian diikrarkan dan masih terus akan dilakukan pembinaan sebagai seorang muslim," tegasnya.
Riki Herman Nugroho, muallaf yang diikrarkan oleh Prof Harris mengatakan, sebelum memutuskan masuk Islam, dia telah melakukan pencarian kurang lebih dua tahun. Namun sejak setahun terakhir, pria yang beralamatkan di Jalan Kenanga Indah Kota Malang tersebut kian merasa yakin. "Orang tua kandung saya muslim, tapi saya diasuh oleh keluarga non muslim. Dan orang tua saya sudah meninggal. Saya ingin sekali mendoakan kedua orang tua secara Islam. Inilah yang meyakinkan saya," terang pria yang berusia 40 tahun tersebut.
Pewarta: Binti N Rosyida Editor : Ahmad Yani