Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dr Supriyanto, ’Profesor Pisang’ asal Malang Edukasi Ribuan Petani

Ahmad Yani • Senin, 22 Februari 2021 | 21:32 WIB
Dr Supriyanto, dosen Unisma yang menjadi sosok guru bagi para petani pisang baik di Malang Raya maupun nasional. (Supriyanto for Radar Malang)
Dr Supriyanto, dosen Unisma yang menjadi sosok guru bagi para petani pisang baik di Malang Raya maupun nasional. (Supriyanto for Radar Malang)
Dr Supriyanto memang belum menyandang gelar akademik profesor. Namun sebagian besar petani pisang di Malang Raya menjuluki dosen Unisma (Universitas Islam Malang) ini sebagai ’profesor pisang’. Tak hanya getol mendampingi petani di Malang raya, dia juga gencar mengedukasi petani pisang dari berbagai daerah di Indonesia.

Ramah dan enak diajak ngobrol, begitulah karakter yang menonjol dari pria berusia 51 tahun ini. Dosen Pascasarjana Program Pendidikan Manajemen Unisma ini dikenal karena peran edukasinya yang cespleng. Uniknya, caranya mengedukasi para petani pisang melalui media virtual, yakni melalui aplikasi WhatsApp. Meski secara online, dia mampu memberdayakan petani tidak hanya di Malang Raya, namun juga sudah nasional.

Ditemui di rumahnya, di Jalan Merpati, Dusun Sonotengah, Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Supriyanto menceritakan kisahnya mengedukasi para petani pisang. Tepatnya di awal 2020, dia mengaku iseng bergabung dengan grup di Facebook ”Pisang Indonesia”. Itu dilakukan karena keluarganya pernah menjadi petani pisang. Terutama dari kakek dan neneknya yang kerap memanfaatkan lahan pekarangan rumah. Dalam grup itu, dia melihat para petani nampak kesulitan bertani pisang.

Dia yang sudah dibekali ilmu bertani pisang dari kakeknya mencoba memberikan edukasi. Awalnya, dia memberi edukasi pemberian pupuk dan cara memanfaatkan lahan perkarangan. Tak butuh waktu lama, petani yang dia edukasi itu berhasil menerapkan ilmunya. ”Dari situ, ada testimoni dan anggota grup bertambah dari yang awalnya 20 orang menjadi 16 ribu orang,” ujar pria 5 anak itu.

Karena semakin banyak, dia mengajak teman-teman akademisi lainnya untuk masuk grup. Itu dia lakukan untuk memudahkan edukasi kepada petani karena kesibukannya yang juga mengajar. Namun, beberapa teman yang diajaknya tidak menggubris para petani. Bahkan, dia sempat ditertawai karena apa yang dilakukannya kurang fantastis. Akhirnya, dia membuat grup di WhatsApp bernama Pisang Indonesia 1. Di sana dia sempat kewalahan karena jumlah petani yang tertampung mencapai 256 orang.

Tak kehilangan akal, dia membuat grup lagi dengan nama Pisang Indonesia 2. Dengan itu, dia mampu mengakomodasi petani yang tidak masuk di grup pertama. Permasalahan muncul lagi karena para petani yang tak masuk minta buat grup lagi. Alhasil, grup WhatsApp itu sudah beranak hingga Pisang Indonesia 6.

Tidak hanya cara bertanam yang dia ajarkan, tetapi juga cara memasarkan hasil panen pisang tersebut. Dengan strategi pemasaran yang dia ketahui, beberapa petani menerapkan ilmunya di lapangan. ”Saya terharu melihat antusiasme petani cukup tinggi apalagi bisa menyaingi atau bahkan menyamai pisang produk lokal,” ungkap pria kelahiran Kabupaten Banyuwangi itu.

Pria yang sempat mendapat beasiswa kuliah di Adelaide, Australia, itu pun dijuluki profesor oleh para petani. Itu tidak lain karena profesinya sebagai dosen. Namun, Supriyanto mengakui, gelar profesor secara akademik belum didapatkan. Dia hanya berdoa karena petani memanggil sebagai bentuk keakraban.

Saat ini petani pisang yang sudah diberdayakan mencakup dari Aceh sampai Papua. Terutama untuk petani di Papua, dia salut lahan seluas 2 hektare ditanami pisang.

Tidak hanya itu, dia juga kerap mendatangi petani pisang di Malang Raya. Khususnya wilayah Kecamatan Dampit. Dia datang ke sana menggunakan angkutan berupa bus. Sesampainya di Terminal Dampit, Supriyanto telah dijemput oleh petani menggunakan sepeda motor. Tak tanggung-tanggung, puluhan petani menjemput dia dan rela menunggu berjam-jam. ”Bagi saya, ini sebuah amanah dari seorang akademisi yang harus mengabdi ke masyarakat,” cerita dia.

Tentang permasalahan petani pisang di Dampit yang dia temui, salah satu yang kerap terjadi adalah petani mendapat bibit pisang susu. Saat menanam hingga panen, petani kerap bingung hasil panen tidak sesuai keinginan. Bahkan, tak jarang ada yang tak berbuah sama sekali. Untuk mengatasi itu, Supriyanto memberikan solusi berupa pemberian e-book petunjuk teknis menanam berbagai jenis pisang. Sembari diberikan e-book, dia juga memberikan penjelasan via WhatsApp. ”Untuk bisa berbuah saya kasih penjelasan mengenai pola penyiraman rutin hingga pemupukan secara berkala,” ungkapnya.

Seperti contoh, dia menyarankan penyemprotkan hidrogen peroksida (H2O2) sebesar 3 persen. Jumlah sebesar kurang lebih satu liter itu disarankan Supriyanto kepada petani agar mendapat buah yang manis serta bernilai jual tinggi. Petani pun membuktikannya sendiri dan hasilnya ampuh.

Ke depannya, Supriyanto bercita-cita ingin memberdayakan petani pisang hingga mampu ekspor ke luar negeri. Hal itu didasari kebutuhan pisang di dunia masih sebesar 40-45 persen serta produksi buah pisang berasal dari negara beriklim tropis. Apa pun jenis pisangnya, kebutuhan setiap orang dapat berbeda-beda.

Tak terasa, obrolan ini harus selesai. Supriyanto sudah punya agenda pergi ke Jombang untuk menghadiri sebuah acara di pondok pesantren. ”Mas, nanti kita sambung lagi ya, lain waang berbagi ilmu dengan siapa pun itu,” pungkasnya.(rmc/dit/c1/mas) Editor : Ahmad Yani
#petani Malang raya #dosen Unisma #Profesor pisang #edukasi petani